Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Saturday, February 1, 2020

Nasi Briyani di Lhokseumawe

Tidak seperti biasanya memang, pagi kemarin (31/1/2020) saya bilang ke istri bahwa saya enggak bawa bekal ke kampus.

"Kenapa," tanyanya sembiri terus cuci piring, "ada acara?"

"Enggak ada. Cuma nanti siang pengin makan nasi briyani," jawab saya sambil pakai sepatu, kemudian menatapnya, "Kamu mau?"

"Enggak. Saya belikan yang lain saja."

Saya pun pergi.

Istri saya tak suka nasi khas India itu. Sementara saya, mendengar namanya saja sudah cukup membuat jakun saya naik-turun. Entah apa enaknya, bumbu khas India yang kuat itu begitu memukau lidah saya.

Soal tak suka briyani, istri saya tak sendiri, ada satu kawan saya, ia malah benci sama masakan India. Bikin bau badan katanya. Tapi saya yakin istri saya bukan itu alasannya. Ia punya alasan lain yang aku juga tak mau tanya.

Soal bau badan. Ah, kan ada deodoran? Bagi saya bukan masalah kalau hanya soal bau badan. Masakan India begitu nikmat untuk ditinggalkan begitu saja tanpa sedikit mau berjuang atas efek negatifnya. Apalagi hanya sekadar soal bau. Jering malah lebih parah dalam hal itu. Tapi aku juga menikmatinya.

Di Lhokseumawe, setahu saya hanya satu tempat ada warung briyani, di warung Koki India. Sekitar seratusan meter ke selatan SPBU Kuta Blang. Itu pun gak buka tiap hari. Cuma hari Jumat doang. Buka dari pukul 10.30 sampai lepas siang.

Sebenarnya sudah lama saya mendengar kabar tentang keberadaan briyani di Lhokseumawe. Tapi baru kemarin saya menyempatkan diri ke sana. Ini ada pengaruhnya dengan hari Jumat. Saya lebih sering salat Jumat di kampung tinimbang di luar. Karenanya makan briyani pun luput lama.

Sebelum tiba di sana, saya membayangkan warung ini ramai betul pengunjungnya. Tapi ternyata sepi. Mungkin saja ini karena saya datang agak cepat. Pukul 10.30. Belum waktunya makan. Tapi di meja-meja sudah tertata botol-botol air mineral. Ini menjadi dalil bagi saya bahwa meja-meja itu nanti bakal dipenuhi oleh pelanggan saat jam makan siang.

Sampai di situ saya dilayani oleh dua orang ibu-ibu. Satunya masih muda dan cantik. Saya tidak bisa menangkap wajah India dari kakak itu jika saya bandingkan dengan wajah wanita-wanita Aceh. Sulit memang, mengingat banyak gegadis cantik Aceh mirip-mirip seperti itu.

Yang laki juga banyak yang mirip India. Kulit gelap, berbulu, dan hidung mancung, itu adalah pemandangan biasa jika kita sedang berada di Aceh. Jadi, agak sulit memisahkan wajah India dengan Aceh. Dan, menurut pengakuan salah seorang yang tidak mau disebutkan namanya, saya ini, malah, katanya mirip Sanjay Dutt. Bintang film India itu. Ea.. ea.. ea.

Saya tidak makan di situ. Saya minta dibungkuskan saja. Makan di kantor. Saya pilih nasi briyani ayam kampung, setelah sebelumya saya terus berulang tanya, apakah nasi itu dimasak berbarengan dengan daging kambing, karena mereka juga menyediakan briyani daging kambing. Saya takutnya briyani ayam sama kambing dimasak bareng, walaupun dalam penyajiannya nanti dipisah.

Saya fobia sama daging kambing. Bukan karena darah tinggi, bukan. Desakan darah saya normal. Tapi karena kedua orang tua saya menderita dan akhirnya kalah melawan hipertensi dan diabetes, saya sekarang jadi takut sama kambing. Jangankan makan, mencium aroma kari kambing saja sudah cukup membuat aku pusing. Padahal itu baru sugesti, Saudara-saudara.

Tapi keresahan saya itu pupus tak bersisa ketika kakak itu bilang bahwa mereka tidak memasak briyani bareng daging. Daging dan nasi dimasak terpisah. Berbeda dengan briyani yang saya ketahui selama ini, dimasak dengan cara nasi, bumbu, dan daging dicampur menjadi satu. Jadi, briyani yang ini, aman. Soal rasa, nanti dulu.

Saya ikut memperhatikan saat nasi saya dibungkus. Melihat cara mereka menyaji juga sebuah kesenangan tersendiri. Nasi dibungkus bareng daging ayam kampung yang terbalur bumbu pekat. Kuah dibungkus secara terpisah. Kuah dalica namanya, katanya.

Kuah itu bersayur terong, pisang muda, dan, ini yang unik, ada kedondong! Itu. Kedondong yang biasa kita bikin rujak. Yang kata sebagian orang, bijinya bisa dipakai untuk pelega tenggorokan. Caranya, bijinya diikat dengan benang, terus ditelan, kemudian tarik lagi ke luar. Mau coba? Silakan. Saya gak ikutan.

Di samping dalica, sedikit acar nanas juga ikut meramaikan. Cuma satu yang kurang dari briyani ini dengan yang pernah saya makan saat berada di luar negeri: tak ada yoghurt, susu asam hasil fermentasi itu. Sekalipun saya tidak menyukainya, yoghurt ini paling tidak menjadi ornamen yang membuat piring briyani menjadi semarak berisi.

Sampai di kampus briyani itu saya makan. Saat itulah baru saya sadar, ternyata beras yang dipakai bukan beras basmati: beras kecil tapi panjang, khas briyani India. Tapi itu tentu tak mengapa. Yang penting, rasanya enak, bumbunya berasa. Dan semua itu kudapatkan ketika menyantap briyani kemaren.

Dan dalica itu, belum pernah saya makan sebelumnya. Mengingat kuah tersebut tidak pernah disajikan selama saya makan briyani di tempat lain. Rasanya saya pikir sama persis dengan kari kambing Aceh. Memang kalau soal masakan dan wajah, Aceh - India sungguh bersaudara dekat.
Nasi briyani dari Koki India Lhokseumawe

Saturday, July 20, 2019

Pucuk Labu Kuning

Saya suka pucuknya. Pucuk labu kuning. Pohon ini bernama "curcubita pepo" dalam bahasa ilmiah. Bahasa Latin. Biasanya, saya minta istri untuk melemakkannya. Maksud saya, disayur dengan santan. Kuah lemak khas Aceh. Warna kuahnya kuning muda, dan encer wujudnya.

Pucuk labu kuning ini sebenarnya tidak begitu mudah didapatkan di pasar sayur. Hanya kadang-kadang saja ia ada. Namun, sekalipun jarang tersedia, tidak membuat harganya menjadi mahal. Lima ribu rupiah dapat tiga ikat.

Untuk keluarga kecil saya, tiga ikat itu cukup. Pas. Tapi, mungkin saja bagi keluarga kecil lain bisa saja lebih. Karena saya termasuk herbivora tingkat tinggi. Pemakan tumbuh-tumbuhan yang lumayan rakus. Saya makan sayur, bisa semangkuk sendiri, sekali makan.

Di tempat tinggal saya di Blang Bidok, dalam beberapa bulan ini pucuk labu menjadi mudah didapatkan. Karena hampir tiap hari ada penjaja khusus pucuk labu yang mampir di pasar kecil Blang Bidok. Pasar di pertigaan desa.

Keluarga saya yang tahu betul bahwa saya menyukainya, biasanya akan mengabari saya kalau pedagang itu datang. Siapa tahu saya mau beli. Dan, biasanya saya beli. Cuma, dalam beberapa hari ini, perut saya agak bertingkah.

Lazimnya, kalau perut saya sedang bermasalah begini, saya akan puasa makan makanan berserat. Termasuk sayur. Saya tahan dulu. Sampai perut saya berangsur membaik. Dan mau diajak makan sayur lagi.

Perut saya sakit sudah dari tiga hari yang lalu. Kembung. Sampai nafas saya sesak dibuatnya. Dulu saat di Taiwan, ketika perut kembung saya kambuh, dokter langganan saya pasti melarang saya makan sayur buat sementara waktu. Hanya buah apel yang diizinkan makan.

Kata dokter, serat itu dalam jumlah tertentu akan sulit dicerna. Sehingga akan mengakibatkan perut kembung. Lihat, Kawan. Kelebihan makan berserat ternyata juga bermasalah. Perut capek menggilingnya. Dan akhirnya perut begah penuh gas.

Karena itulah, berangkat dari nasihat dokter saya di Taiwan, setiap perut saya kembung, saya berpantang makan sayur sampai ia baik betul. Paling lama seminggu. Namun, kembung kali ini, tak sampai seminggu saya berpuasa sayur.

Baru tiga hari menahan diri, tadi pagi datang pula tukang sayur pucuk labu kuning di depan mata saya sendiri. Saya sebenarnya tak mau beli. Soalnya masih berpantang. Tapi akhirnya saya tergoda juga. Kemudian membelinya. Lima ribu. Tiga ikat.

Ini baru saja saya selesai makan dengan lahapnya. Daun labu kuning diperlemak. Atau, kuah lemah pucuk labu kuning. Mudah-mudah tak kembung lagi.
Pucuk labu kuning

Thursday, July 18, 2019

Jamblang dan Jambu Air

Jamblang, atau yang popular di kalangan orang Blangjruen dengan sebutan jambu keling, ternyata ada juga harganya. Satu "mok" sepuluh ribu rupiah. Mok, adalah kaleng bekas susu kental manis yang banyak digunakan orang Aceh sebagai sukatan. Biasanya untuk menakar beras ketika mau dimasak.

Saya membeli dua mok. Dua puluh ribu rupiah. Itu sudah termasuk manisan, cabe dan garamnya. Saya membeli kemarin saat perjalanan pulang dari kota Lhokseumawe menuju Politeknik Negeri Lhokseumawe. Setelah bertemu seorang teman, yang juga bakul buku, untuk mengambil buku pesanan saya.

Pas di atas jembatan keluar Cunda, titian penghubung antara pulau Lhokseumawe dengan daratannya, saya melihat begitu banyak penjual jamblang. Saya langsung menepi. Seorang penjual mendekat. Dan saya membelinya.

Sempat juga saya iseng menawarkan harga. Tapi hanya disambut senyum oleh pedagang itu. Senyuman yang tak mudah dilakukan di saat cahaya matahari juga perlu dilawan. Tapi dia tentu tahu saya tidak serius. Cuma bercanda saja. Terlihat dari reaksinya. Yang biasa-biasa saja.

Kemarin itu, jamblang ternyata bukan satu-satunya buah-buahan makhluk Tuhan yang beruntung ikut pulang bersama saya. Lima belas menit lepas dari jembatan Cunda, sampai di bilangan Buketrata, mata saya tertarik lagi pada buah jambu air, yang dalam beberapa hari ini banyak dijajakan di pinggir jalan.

Saya juga membelinya. Sekilo tiga puluh ribu rupiah. Ada juga harganya ini jambu. Sebiji bisa sampai seribu lima ratus rupiah harganya. Atau, malah dua ribu rupiah. Padahal jambu air kalau di desa tidak akan sampai segitu harganya.

Tapi, ini beda, kata penjualnya. Ini jambu Medan. Istri saya juga bilang, rasanya juga beda. Enak. Wajar juga, pikir saya. Dan, soal mahal, mungkin ada pengaruh di bensinnya juga. Ini resiko. Ketika jambu air saja kita harus dipasok dari Medan. Tapi jambu keling kayaknya bukan dari sana. Walaupun mahal juga. Mungkin karena musimnya belum mencapai puncak.

Saya sebenarnya jarang begitu perhatian pada buah-buahan. Tapi sekarang suasananya lain. Istri saya lagi suka makanan-makanan macam itu. Bakso yang selama ini membuat ia sakau jika melihatnya, sekarang ia kadang mual melihatnya!
 Jambu keling dan jambu air yang saya beli kemarin

Sunday, July 14, 2019

Berlibur di Aceh, Tak Sampai Dua Ratus Ribu

Syukur, selama ini bagi saya, untuk bersenang-senang, belum butuh ragat banyak, murah-murah saja, tak butuh banyak modal. Ini sesuai pula dengan pendapatan saya yang hanya sebagai dosen amtenar biasa, yang kerap pula galau. Tapi berpendidikan tinggi.

Istri saya awalnya hanya minta makan-makan saja di warung makan Wong Solo, di bilangan perempatan jalan Darussalam Lhokseumawe. Saya turuti saja maunya. Karena bagi saya, dia mau keluar saja sudah merupakan berkah di akhir pekan. Betapa tidak, soalnya sekarang dia paling malas diajak jalan-jalan naik mobil semenjak dua bulan bertian, berbadan dua.

Beberapa jenak sebelum berangkat, dia agak berubah pikiran. Pingin makan di tepi pantai Ujoeng Blang saja. Pantai yang juga masih berada di kota Lhokseumawe. Sekalipun makanannya tetap dari RM. Wong Solo. Dibungkus dan dibawa ke sana. Dimakan sambil menikmati pantai. Itu juga saya setujui.

Selanjutnya, istri juga punya ide. Nasi putih dibawa saja dari rumah. Dibungkus pakai kertas bungkusan nasi. Kertas bungkusan itu gampang dapatnya bagi kami. Tinggal minta ke Ibu. Dia pasti punya. Karena ia menjual nasi gurih saban pagi. Saya yang minta. Sambil mengeluarkan mobil dari garasi. Kebetulan kami memarkir di rumah ibu. Nasi dibawa dari rumah, ini pastinya saya setujui. Kan tambah irit lagi?

Kami berangkat. Setelah salat Zuhur. Pas untuk makan siang. Waktu lagi sakau-sakaunya sama nasi. Tapi saya enggak sampai kebut-kebutan juga. Santai saja. Blangjruen - Lhokseumawe bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Kalau pintar balapan bisa kurang dari itu. Saya enggak berani balapan. Bukan tidak mampu. Tapi takut istri saya minta turun dan naik angkot.

Sampai di RM Wong Solo saya pesan satu porsi ayam panggang, dua porsi ayam goreng, dan dua porsi cah kangkung. Agak banyak, karena saya memboyong dua anak dan satu kemenakan. Istimewa pula, saya sama istri agak berbahaya kalau sampai-sampai lagi enak-enak makan, kemudian kurang.

Anak saya itu pun kadang-kadang kalau makan sering juga kerasukan mama dan papanya. Beringas. Akhirnya, setelah saya melirik daging ayam yang telah saya beli ternyata agak kecil-kecil ukurannya, di tengah perjalanan menuju pantai, saya membeli lagi dua potong ayam goreng Kentucky bajakan. Lengkap sudah, baik dari segi banyak dan jumlahnya.

Kami menuju pantai, ke lapak langganan kami. Atau lebih tepatnya, langganan anak saya. Anak saya enggak mau di lain tempat. Karena di situ ada ogak-ogak berbaju kartun Masya. Gadis cilik nakal di film kartun itu.

Saya suka juga tempat itu. Karena anak saya lalai dengan mainan jongkat-jangkit dan ayunan yang disediakan di situ. Sehingga ia tidak nangis minta renang, yang betapa repotnya mengawal dia di air. Habis itu, sudah capek-capek mengawasinya, diajak naik seringnya malah tidak mau. Pengin renang terus. Padahal sudah waktunya pulang.

Pertama-tama, sesampai di situ, kami langsung makan. Sudah lapar. Aneka minumannya, kami pesan di warung pantai itu. Sekaligus itu sebagai ganti menyewa tempat.

Empat puluh ribu rupiah kami habiskan untuk minuman. Untuk makanan di RM Wong Solo, tujuh puluh delapan ribu rupiah. Tadi, juga beli ayam Kentucky bajakan, dua belas ribu rupiah. Untuk parkir, lima ribu rupiah. Untuk bensin, anggap saja lima puluh ribu rupiah. Total, seratus delapan puluh lima ribu rupiah.

Tak sampai dua ratus ribu rupiah untuk bersenang-senang di Lhokseumawe ini. Itu sudah termasuk lihat-lihat pemandangan pantai yang gratis dari sang Pencipta. Dengan nelayan sedang menangkap ikan. Penarik pukat. Daratan di ujung pantai sebelah timur sana. Dan terlihat pula perusahaan pencairan gas alam di ujung pantai sebelah barat sana. Semua itu tak sampai dua ratus ribu.
Saya bersama istri di pantai Ujoeng Blang Lhokseumawe

Sunday, July 7, 2019

Pasar Aceh di Negeri Jiran dan Semangkuk Cendol Durian

Sebenarnya, malam kemarin saya telah pergi ke pasar ini. Tapi sudah agak telat. Hampir pukul sepuluh malam. Kami pikir kedai-kedai masih beroperasi normal. Ternyata tidak. Toko-toko banyak yang sudah tutup. Sisanya yang sedikit masih terbuka. Tapi sepi pengunjung.

Waktu naik Grab dari Menara Kembar Petronas, sopir telah bilang, kalau malam-malam begini pasar itu tak ramai lagi. Ramainya siang. Malah, kata dia lagi, pasar itu berbahaya di waktu malam. Banyak aksi kriminalnya.

Kami tak peduli. Tetap mau pergi ke situ. Buat apa takut. Kan, katanya di situ banyak orang Aceh? Jika ada yang mengganggu kami, tinggal teriak saja pakai bahasa Aceh. Selesai. Bantuan pasti datang.

Tapi percayalah, Kawan. Suasananya tidak seangker gambaran si sopir Grab itu tadi. Soal sudah agak sepi, itu seratus persen benar. Namun, soal kriminalitas, kayaknya tidak, ya.

Dari amatan saya, pasar itu masih layak juga dikunjungi di waktu malam. Meskipun kalau mau melihat wajah asli pasar itu, maka baiknya jangan pergi malam. Luangkan waktu di siang hari.

Pasar Chow Kit. Itulah nama pasar itu. Pasar yang cukup terkenal bagi orang Indonesia. Lebih-lebih bagi orang Aceh. Letaknya tak begitu jauh dari Menara Kembar Petronas yang terkenal itu. Menara yang menjadi simbol kemajuan peradaban Malaysia.

Malam kemarin, kami hanya memutari wilayah sudut pasar yang masih agak ramai. Suara tuturan bahasa Aceh berdesing-desing meningkahi langkah kami menyusuri pasar tradisional itu.

Mendengar ada penutur bahasa Aceh, kami refleks menoleh. Tapi tidak menyapa. Hanya tersenyum saja. Sambil berfikir, ternyata benar kata orang-orang. Bahwa pasar Chow Kit ini banyak dibanjiri oleh pedagang-pedagang Aceh.

Kami terus berjalan. Sampai terlihat di depan sana, lorong sudah benar-benar sepi. Kami berhenti di sebuah pertigaan. Kami melihat. Ada bakul cendol sedang dikerubuti pelanggan setianya, yang rela mengantre hampir sepanjang separuh jarak tiang listrik.

Saya melihat lebih dekat. Penasaran. Gerangan apa yang membuat cendol itu begitu diminati. Ternyata cendol durian. Saya berpikir, ini harus dicoba. Dan itu diamini oleh teman saya. Dia yang mengantre, saya yang langsung mencari meja tempat duduk. Supaya tak didahului pelanggan lain. Kerjasama yang paripurna. Demi semangkuk cendol durian.


Perjuangan kami usai. Berbuah hasil dengan dua mangkuk cendol dengan durian menggunung di atasnya. Saya mengintip ke bawah onggokan biji durian. Isinya: cendol, santan, es, dan pemanis dari gula jawa. Cuma itu.

Saya cicip sesendok. Rasa cendol seperti biasa. Kemudian saya cicip duriannya. Ya, rasa durian seperti biasa juga. Kemudian saya aduk. Saya cicip lagi. Rasa cendol campur durian. Biasa juga.

Saya bertanya dalam hati. Kenapa orang rela mengantre, ya? Untuk hal yang biasa seperti ini? Tapi, saya akhirnya harus sadar. Tuhan menciptakan selera makhluk-Nya berbeda-beda. Agar hidup ini tidak membosankan.

Perjalanan kami di Pasar Chow Kit malam kemarin, kami sudahi dengan membeli sandal jepit masing-masing kami, sepasang. Harga sandal jepit itu dua Ringgit lebih mahal dari harga cendol durian itu. Sandal jepit, 15 Ringgit tak boleh kurang, kata penjual berperawakan India itu. Kami beli. Habis itu, pulang.

Hari ini, siangnya, kami berkunjung lagi ke pasar Chow Kit ini. Ingin melihat wajahnya sebagaimana cerita orang-orang. Bahwa ini adalah pasar Aceh di Negeri Jiran.
Cendol Durian di Chow Kit Malaysia

Diajak Makan Makanan Arab di Malaysia

Diajak makan siang oleh Prof Sulaiman, seorang Profesor di Universiti Malaya, di restoran Arab Yaman. Acara makan-makan ini dilakukan setelah kami selesai bermusyawarah tentang kerjasama penyelenggaraan seminar internasional, yang akan diadakan di Malaka.

Porsinya ngeri. Besar sekali. Satu piring besar diisi dengan tiga jenis nasi Mandi, berlauk ayam dan daging kambing. Ada ikan bakar juga. Roti Nan juga.

Eh, pada tahu tidak, roti nan? Roti itu adalah adonan tepung terigu yang dibakar di dalam tungku. Wujudnya persis seperti canai di Aceh. Tapi ini besar dan benar-benar dipanggang, tanpa minyak dan mentega seperti canai di Aceh.

Cara makannya pun beda. Ia disantap dengan cara dicecah dulu dengan yogurt yang sudah dicampur dengan rempah-rempah, yang entah dari daun apa saja. Pokoknya, rasanya agak semriwing, kayak rasa minyak angin. Tapi enak. Saya suka. Lihat Lebih Sedikit
Makan Masakan Arab di Malaysia

Tuesday, April 11, 2017

Mi Ayam di Warung Indonesia Lestari Kaohsiung Taiwan Selatan. Perang Boga Antara Saya dan Istri

Sebagai pasangan jago makan, tentu ketika saya dan istri videocall, salah satu materi yang kami bahas adalah soal makanan. Biasanya saya yang duluan bertanya, “Hari ini di rumah apa teman nasinya, Mi?”

Kalau ternyata teman nasinya adalah kesukaan saya, istri saya menjawabnya pakai acara menyengir begitu, mengejek, “Hari ini kuah lemak sayur singkong, Bi.”

Saya dibegitukan langsung bilang, “Kamu enak, lah, di situ. Di sini apa, lah.” Saya memasang wajah merengut.

Tapi, saya tentu sekali-kali pengin, dong, balas dendam. Masakan jadi korban terus. Saya harus segera mencari kelemahannya, kelemahan istri saya. Dan saya tahu itu apa.

Ini rahasia, jangan bilang-bilang ke istri saya. Dia itu, sejak tahun satu saya mengenalnya, saya sudah tahu bahwa dia adalah penggemar mi kelas hiu. Kakap kalah. Tak peduli mi apa itu jenisnya. Yang penting mi. Titik.

Tapi semenjak kami tidak tinggal lagi di Banda Aceh tersebab pendidikan keperawatannya di Poltekkes Banda Aceh sudah rampung, satu jenis mi tiba-tiba hilang dari kehidupannya. Yaitu mi ayam, atau istri saya menyebutnya mi pangsit. Saya yang lama tinggal di Jogjakarta, bersikeras bilang bahwa itu mi ayam, bukan mi pangsit.

Sedihnya dia itu, di Blangjruen ternyata tidak ada penjual mi ayam. Atau, tak ada mi ayam yang sesuai dengan seleranya. Buktinya, saya pernah mencoba membeli mi ayam di sebuah kota di wilayah Aceh Utara, eh, dia malah tak suka. “Tak enak, ” begitu katanya pada suatu hari setelah menyantap mi ayam bawaan saya.

Nah, dengan ketiadaan mi ayam di Blangjruen, maka jadilah itu sebagai peluru bagi saya dalam rangka membalas dendam akan ejekannya saat bilang ada masakan kesukaan saya di rumah. Ini, kalau kata pejuang-pejuang Aceh zaman dulu, namanya “tueng bila”.

Kemarin dulu (7 April 2017), saat menelepon istri, saya bilang ke dia bahwa saya mau makan mi ayam besok. “Saya tiba-tiba, kok, pengin makan mi ayam, ya, Mi? Saya mau makan besok, lah, ” saya di ujung telepon videocall di Taiwan bilang kepadanya.

“Memangnya ada mi ayam di situ, Bi?” tanyanya penasaran. Tahu, lah, Kawan, bagaimana ekspresi wajah istri saya di saat mendengar salah satu nama makanan kesukaanya. Matanya langsung membulat, kerongkongannya naik-turun.

“Ada, lah, Mi. Malah lebih enak di sini, ” jawabku memasang wajah seberwibawa mungkin, videocall soalnya.

Keesokan harinya (8 April 2017) kami videocall lagi. Ternyata istri saya penasaran, bertanya, “Sudah makan mi ayamnya, Bi?”

Saya agak kaget, karena saya sudah lupa rupanya, malah diingatkan. Terus menjawab berlagak sok sibuk, “Nanti, Mi. Sedang sibuk. Paling nanti sore.”

Tak berapa lama kemudian, perut saya lapar juga ternyata. Saya minta izin mengakhiri videocall, mau makan, lapar. Dan, memang akhirnya saya berangkat ke Kaohsiung Main Station untuk makan mi ayam.

Kali ini saya memilih makan di Warung Lestari di bilangan Kaohsiung Main Station. Itu adalah kali kedua saya makan di warung Indonesia tersebut. Pertama dulu saya makan lalapan bebek goreng. Ternyata enak. Beda dengan warung yang lain, sambal di sini berwarna ijo dan di dalamnya ada ikan teri kecil-kecil kering yang menambah gurih rasanya. Di samping itu tentu, amboi pedasnya.

Kali kedua, dalam rangka balas dendam itu, saya makan mi ayam. Saya memilih makan di sini lagi tentu karena tertambat hati pada enaknya sambal pada pertemuan pertama.

Setelah saya pesan, saya menunggu sambil membaca buku. Lumayan lama. Saya hitung-hitung sekitar lima belas menit, atau mungkin dua puluh menit. Sampai akhirnya tibalah mi ayam itu di hadapan saya.

Saya melihatnya lamat-lamat. Astaga, dari wujudnya saja, tak seorang pun di muka bumi ini yang bagus akalnya berani bilang bahwa mi ayam ini tidak enak.

Lihat, Kawan, minya yang kekuning-kuningan seolah berlomba berebut pengaruh dengan rebusan daun sawi hijau segar. Potongan daging ayam serta tulangnya tersepuh bumbu cokelat mengitari di pinggir piring, terapung dalam kuah nan lezat susunan bumbu pusparagam.

Tiga potong pangsit hijau teronggok terpacak menjulang tinggi seolah mengisyaratkan bahwa dialah yang harus dimakan lebih dulu. Karena nikmatnya akan segera hilang diluruh kuah panas yang merendam sebagian tubuhnya.

Saya langsung memakannya? Sungguh tidak, Kawan. Tolan lupa dengan dendam saya? Saya harus mengirim foto mi ayam ini kepada istri saya di Aceh. Dua kali jepret maka foto itu jadilah. Kemudian saya pilih foto yang paling menggoda, dan mengirimnya ke istri saya yang cantik itu.

Dia melihatnya. Mau tahu apa komentarnya? “Paleeh, koep mangat ! – Astaga, enak sekali !” Begitulah ekspresinya ketika melihat mi ayam itu.

Kata “paleeh” dalam bahasa Aceh tentu sebenarnya tidak baik digunakan. Tapi kata ini akan keluar secara spontan bagi penutur Aceh di saat melihat sesuatu yang mengagetkannya. Kalau di Jawa Timur mungkin sepedan dengan kata “jancok”.

Saya tertawa cekikikan begitu membaca komentar istri saya itu sambil terus menyantap mi ayam itu sesendok demi sesendok. Suapan pertama, O, Tuhan, enaknya membikin lupa mertua. Sungguh sesuai dengan rupanya yang membuat istri saya si jelita itu kaget dibuatnya.

Dua hari berlalu, pembicaraan kami sepi dari bab-bab mi ayam itu. Tapi hari ini (10 April 2017), istri saya menyinggung lagi tentang mi ayam itu. Ternyata ia benar-benar pengin makan mi serupa. Tapi, di Blangjruen tidak ada. Terus ia juga bilang, bahwa sudah menyimpan tutorial cara membuat mi ayam yang sedap yang telah diunduhnya dari Youtube.

Duh, saya jadi kasihan mendengarnya. Pikiran saya campur aduk. Coba kalau saya ada di sana. Pasti saya akan ikut membantu untuk mengadakan mi ayam itu buatnya. Yaitu mungkin dengan ikut membantunya membeli ayam dan juga bumbu-bumbunya. Mengingat ada beberapa bumbu yang saya yakini tidak ada di pasar Blangjruen. Mungkin di Lhokseumawe baru ada, dan saya bisa membantu membelinya ke sana.

Tapi, saya lagi di Taiwan. Jauh. Akhirnya saya yang sedih. Ini sungguh bukan pencitraan, lo, ya. Sebagaimana istri saya juga tahu, saya hampir tak pernah menunda jika istri saya pengin dibelikan sesuatu makanan.
__________
Hasyiah:
Membikin lupa mertua adalah ungkapan orang Melayu untuk mensifati akan luar biasa lezatnya sebuah makanan.

Teman nasi adalah lauk yang dimakan dengan nasi, seperti sayur dan ikan. Sekalipun ada dalam KBBI, kata ini jarang digunakan oleh orang non-Melayu.

Mi ayam Lestari di Kaohsiung Main Station, Taiwan Selatan.

Suasana warung makan Indonesia Lestari di hari Minggu

Daftar menu harian warung makan Lestari

Penampakan depan warung makan Indonesia Lestari Kaohsiung, Taiwan Selatan

Saturday, April 8, 2017

Pliek Dalam Bahasa Aceh, Bukan Patarana Dalam Bahasa Indonesia

Banyak yang menyangka bahwa pliek, yang merupakan salah satu bumbu khas Aceh dengan rasanya yang juga khas itu, disebut “patarana” atau “batarana” dalam bahasa Indonesia. Padahal tidak demikian kenyataannya.

Kata “patarana” tak pernah ada dalam bahasa Indonesia. Artinya, lema tersebut tidak terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pun dalam kamus Aceh-Indonesia tidak disebutkan padanannya, melainkan hanya definisinya belaka. Jadi, patarana itu bahasa apa? Saya pun tak tahu.

Untuk rekan-rekan yang bukan Aceh, baik saya beritahu di sini bahwa pliek itu adalah daging kelapa yang sudah diperam sampai busuk untuk diperas minyaknya kelak. Namun, jika pliek ini diniatkan untuk bumbu sayur “kuah pliek”, maka ia tidak akan terlalu diperas. Kandungan minyak di dalam pliek dibiarkan ada sedikit, jangan kering.

Saya sebagai blogger yang gatal tangan jika tak menulis, tentu sudah lama mencari padanan kata pliek dalam bahasa Indonesia. Hasilnya, saya tidak mendapatkannya. Oleh karena itu, dalam beberapa tulisan saya yang harus melibatkan kata pliek, saya tetap menyebutnya sebagai pliek, bukan patarana atau petahana, eh, batarana!

Selanjutnya jika kata pliek itu saya pakai, untuk tidak membingungkan pembaca non-Aceh, maka biasanya di bawah tulisan dimaksud, saya cantumkan hasyiahnya untuk menjelaskan definisi pliek tersebut sebagaimana saya singgung di atas.

Hal ini saya lakukan karena, jika pun saya memaksakan penggunaan kata patarana, sama saja, tak akan berfungsi lebih untuk menjelaskan wujud pliek. Ini karena penutur bahasa Indonesia juga tak akan mengerti maksudnya. Maka saya pakai pliek saja, tapi dengan iringan penjelasan.

Sungguhpun demikian, jika memang Anda tak enak hati memakai kata pliek dalam tulisan, mungkin saya bisa mengusulkan sebuah kata yang sudah ada dalam KBBI yang sedikit mewakili definisi pliek, yaitu “bungkil”.

Tapi terus terang saya sendiri tak suka memakainya, karena kata bungkil itu bermakna sangat umum, yaitu ampas dari kacang, kedelai, atau kelapa yang sudah diambil minyaknya. Definisi ini mengharuskan kita untuk menambahkan kata kelapa setelahnya, yaitu menjadi "bungkil kelapa".

Tentunya, tak luput dari risiko, kata bungkil kelapa itu pun belum tentu akan dipahami orang sebagai pliek di Aceh. Kan, tidak lucu jika kita harus menyebutnya menjadi “bungkil kelapa Aceh” untuk hanya mengungkapkan seonggok pliek, kan?

Lalu, baiknya kita memakai kata apa untuk pliek dalam bahasa Indonesia? Terserah, mau pakai “bungkil kelapa” atau pliek, silakan. Tapi saya memilih menggunakan kata pliek saja, karena tidak selamanya barang khas daerah itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Atau bila perlu, kata pliek diusulkan saja agar dimasukkan ke KBBI.

Tentang pliek ini, ada kasus. Berdasarkan pengalaman teman-teman Aceh yang mau ke luar negeri, membawa pliek bisa bermasalah di bandara. Petugas bandara akan mencurigai pliek sebagai bahan terlarang dan akan diinterogasi. Nah, saat kejadian demikian berlaku, maka kata bungkil bisa menjadi pahlawan. Sebab bungkil ada padanan katanya dalam bahasa Inggris, yaitu oilcake.

Dalam kamus Merriam Webster, oilcake adalah the solid residue after extracting the oil from seeds. Indonesianya: residu padat setelah biji-bijian diperas minyaknya. Jadi, pliek itu dalam bahasa Inggris bisalah kita sebut coconut oilcake. Kalau mereka menanyakan definisinya, maka bilang saja sambil menunjuk ke arah pliek, "This is pliek, the solid residue after extracting the oil from coconut." Pasti mereka paham, kecuali mereka tidak bisa berbahasa Inggris.
Pliek. Sumber foto: Internet.

Saturday, March 4, 2017

Warung Makan Cek Him yang Enak dan Murah

Setelah kemarin jagung bakar Nibong yang gurihnya nggak akan hilang di hati sekalipun hilang di mulut, kali ini nasi goreng Cek Him Rayeuk Meunye ternyata juga tak mau kalah.

Kamaren, 21 Februari 2017, saya lagi galau pas mau makan di rumah. Aslinya padahal lapar banget, tapi mau makan, malas. Bukan, bukan. Bukan karena masakan istri tak enak lagi. Bukan itu sebabnya. Tapi, semua orang, kan, pernah, ya, terkadang kita bosan makan di rumah, terus ngajak istri makan di luar? Saya sering seperti itu.

Tapi karena kemarin lagi siang dan panasnya pol, maka istri saya tak mau ikut keluar. Maka sayalah yang keluar cari makan sendiri. Mencari nasi bungkus dan saya makan di rumah.

Namun kamfretnya, begitu keluar, saya bingung juga, mau beli makan di mana? Daftar warung makan yang ada di kepala saya, semua sudah masuk ke list yang membosankan untuk hari kemarin.

Solusinya tentu saya harus mencari warung makan baru yang belum pernah saya datangi. Maka pilihan saya jatuh pada warung makan Cek Him Rayeuk Meunye, yang sebelumnya saya lewati saja.

Jangan lupa, Rayeuk Meunye dibaca sebagai Rayoek Meunje (diftong "oe" dibaca seperti "o" kedua pada kata logo, diftong "eu" seperti pada kata euleuh-euleuh, "e" seperti "e" kedua pada kata keren)

Saya membeli sebungkus nasi goreng, pakai telur mata sapi. Tak berani membeli banyak. Takut sampai di rumah, begitu makan, rasanya tak enak, dan mubazir. Saya juga membeli empat potong bakwan.

Eh, mau tahu harganya? Lima ribu rupiah per bungkus! Bakwan, cuma lima ratus rupiah per potong. Murah sekali. Di tengah era globalisasi seperti sekarang ini, ada pedagang yang berani bermain di harga murah, kan, ewow banget itu namanya.

Padahal di tempat lain harganya sampai sepuluh ribu rupiah per bungkus dengan lauk yang sama, mata sapi. Bakwan, seribu rupiah. Dua kali lipat dari harga di Warung Cek Him.

Memang inflasi yang membuat Pak Jokowi sakit kepala, sepertinya tak menyentuh Cek Him. Ketika orang ramai-ramai menaikkan harga, Cek Him malah menyapa masyarakat Blangjruen dan sekitarnya di harga terendah. Sesuai isi kantong masyarakat setempat yang berada dalam masa paceklik.

Sudah murah, sampai di rumah, saya dan istri makan, O, Tuhan, ternyata enak. Rasanya benar-benar tak mewakili harganya. Enak. Nggak bohong. Sekalipun harganya murah banget.

Alhasil, malamnya, saya dan istri pergi lagi ke sana, membeli tiga bungkus sekaligus dan kami makan bersama di rumah. Dan, semua anggota keluarga saya bilang, "enak." Cuma ada satu yang kurang, kata mereka, "kurang banyak." Ya, iya,lah. Tiga bungkus nasi dimakan satu truk manusia. Ya jelas kurang. Besok-besok beli lagi!

Eh, hampir lupa, bukan hanya nasi goreng dan gorengan saja yang dijual Cek Him, tapi juga bakso ayam. Harga tetap lima ribu rupiah. Duh, kalau dipikir-pikir untungnya dari mana, ya?

Nah, sebagai bukan pedagang, terus terang saya nggak tahu. Tapi jelas dia dapat untung, karena kata Cek Him, sebentar lagi dia akan membuka satu cabang baru di tempat lain. Tapi harganya dinaikkan sedikit, menjadi enam ribu rupiah. Wajar, lah. Saya menduga itu akibat harga sewa kedai yang mahal di tempat baru itu.

Oke, bagi yang penasaran mau menyantap nasi goreng Cek Him, silakan berkunjung ke gampong Rayeuk Meunye. Bagi warga Blangjruen, silakan saja meluncur ke lokasi. Bagi yang dari luar kota, masuk Simpang Landing, jalan saja sekitar lima kilometer, jumpa simpang Meunye, nah, warungnya sekitar situ.

Bagi yang dari luar pulau Sumatra, siapa tahu ada, jangan ketawa dulu, maka naik pesawat saja dan turun di Lhokseumawe. Minta dianterin ke jalan provinsi, naik bus arah Medan dan turun di Simpang Landing, terus naik ojek minta diantarin ke Simpang Meunye.

Terakhir, yang lebih asyik lagi, di samping menu nasi, bakso, gorengan, dan minuman, untuk menarik konsumen, lebih-lebih anak muda, di warung kecil mungil ini Cek Him juga menyediakan Wi-Fi, gratis. Sehingga semua pelanggan terhubung ke dunia luar

Jagung Bakar Nibong

Jagung bakar depan bandara PT Pertamina Hulu Energi, Nibong, Aceh Utara. Ini adalah jagung bakar terenak yang pernah saya makan. Serius, nggak bohong. Jagungnya juga besar-besar, lunak, dan manis.

Harganya, cuma empat ribu rupiah, Bro, Sis! Nggak perlu jual kambing, lembu, kerbau, apalagi tanah. Murah dan meriah sekaligus asyik melihat pemandangan pengguna jalan dan, kalau beruntung, bisa menonton helikopter mendarat di bandara.

Bumbunya, aduhai, yang dipadu dengan saus cabai. Tapi, yang suka pakai saus itu bukan saya. Melainkan istri saya. Jagung bakar saya harus bebas saus. Kalau bisa, juga bebas harga, itu yang saya suka.

Eh, ini rahasia, kalau bisa jangan bilang siapa-siapa, bagi Anda, Bro, Sis, yang pakai behel. Tahu behel? Kawat gigi! Yang kalau senyum kelihatan gigi seperti dipagar kayak kantor camat itu. Nah, bagi yang pakai behel tetap bisa menikmati jagung bakar ini, karena Abang Bakar Jagung juga melayani pengeratannya, dan sahibul behel bisa memakannya pakai sendok.