Hari ini. Selasa. 25 Desember 2018. Liburan Natal. Saya menemani istri masak di rumah. Masak sambal terong. Kesukaan saya. Ada yang unik. Selama ini saya tidak tahu. Ternyata salah satu bumbu sambal itu adalah terasi. Kirain cuma cabai, tomat dan rempah-rempah lain alakadarnya saja.
Terasi. Saya tidak perlu membelinya. Cuma disuruh istri minta saja ke ibu. Ibu mertua saya. Yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari ruko semi permanen tempat kami tinggal. Sepertinya, terasi punya ibu saya itu dibeli kiloan. Bukan lempengan seperti layaknya yang biasa dijual di pasaran.
Saya minta terasi sama ibu. Dengan membawa-bawa nama istri saya. "Si Mainah minta terasi sedikit, Bu. Untuk bikin sambal katanya." Saya mintanya sambil membuka tudung saji. Ada kue bolu pisang di sana. Saya makan. Dan segelas air putih yang saya ambil sendiri di drum air plastik, saya minum.
Terasi itu diambilnya dan dipotong seukuran dua jari. Dikasihkan ke saya. Dan saya bawa pulang. Sesampai di rumah, saya tetap ke posisi awal, duduk di dapur menemani istri masak. Istri saya senang kalau saya temani masak di hari libur. Sekalipun saya tidak berbuat apa-apa. Nonton saja.
Saya melihat tingkah istri saya. Sebelum terasi itu ia giling, ia menyempatkan diri mencium terasi itu. Melihat laku istri saya, saya mendadak teringat pada sebuah cerita singkat di sebuah koran bekas yang saya baca waktu saya kecil dulu.
Sidang pembaca mungkin penasaran, gerangan apakah isi cerita itu? Apa hubungannya dengan istri saya yang mencium terasi tadi? Berikut ceritanya.
Suatu hari, seorang pasangan bapak-ibu kedatangan anak beserta cucunya dari Sumatra Utara. Lama tak pulang kampung ke Aceh. Anaknya itu pengin dimasakkan sambal terasi oleh ibunya. Keinginan anaknya itu dituruti. Sambal terasi dibuatkan.
Cuma, stok terasi lagi kosong di rumah. Harus beli di warung. Yang tak berapa jauh dari rumah. Ibu menyuruh cucunya yang belum akil balig itu untuk membelinya. Warung itu dijaga oleh seorang bapak yang sudah agak tua.
Anaknya itu entah tinggal di Sumatra Utara bagian mana. Tak jelas dalam cerita itu. Tapi, kata sahib riwayat, di tempat anaknya tinggal di Sumatra Utara itu, terasi disebut dengan belacan.
Maka, kata belacan itulah yang dipakai cucunya itu untuk mencari apa yang disebut neneknya sebagai terasi tadi.
Sampai di warung sebelah, ia bertanya kepada bapak tua penjaga warung, "Nek, ada belacan kah?"
"Wah, belacan tidak ada, Nak. Tak ada yang jual belacan di sini, " jawab bapak tua itu sambil juga melayani pelanggan lainnya.
"Loh, kata nenek di sini ada."
"Kalau belacan saya tak pernah jual, Nak. Mungkin kamu salah dengar, kali. Coba kamu ingat-ingat lagi. Mungkin bukan belacan."
Anak itu mulai berpikir. Menggunakan akalnya yang belum begitu sempurna. Akhirnya, lonceng di kepalanya berdenting. Ia mendapatkan solusinya. Yang menurut dia paling brilian.
Ia minta izin sama bapak tua penjaga warung, "Nek, sebentar ya. Saya ke belakang warung. Sebentar saja."
"Baik, " jawab bapak tua itu yang separuh konsentrasinya terbagi ke pelanggan lain.
Di belakang warung, setelah celingukan ke seluruh arah mata angin, setelah dirasa aman, ia memasukkan jari telunjuk ke duburnya. Kemudian jari itulah yang dibawanya ke depan. Terus diciumkan kepada bapak tua penjaga warung, sambil ia berujar, "Nek, belacan itu, kira-kira bau kayak gini."
Bapak tua menciumnya. Hidungnya bergerak-gerak. Naik-turun. Kembang kempis. Tak berapa lama. Ia tersenyum. Pertanda sebuah kemenangan. Berujar, "Alah, hai, anak kecil. Ini terasi! Bukan belacan. Ini! Tiga ribu rupiah satu!"
__________
Catatan:
*Panggilan Nek yang merupakan pemendekan dari kata nenek, di Aceh, dan mungkin juga di Sumatra Utara, sering dipakai untuk sapaan kakek maupun nenek.
*Plot cerita agak saya ubah dari aslinya agar lebih menarik
Showing posts with label Ocehan. Show all posts
Showing posts with label Ocehan. Show all posts
Thursday, December 27, 2018
Friday, June 30, 2017
Sampah
Dulu ketika saya kursus bahasa Inggris di International Education Center (IEDUC) Bandung, seorang guru bule pernah mencak-mencak marah melihat kebiasaan orang kita yang suka buang sampah sembarangan.
Dari omelannya, yang menarik bagi saya yaitu kata dia bahwa orang zaman dulu tidak bisa disalahkan dengan kebiasaan mereka membuang sampah sembarangan. Sebabnya adalah, lanjut dia, sampah dulu berbeda dengan sampah sekarang.
Dulu sampah masih dari barang organik, seperti bungkusan daun pisang misalnya. Sedangkan sekarang, sampah yang kita campakkan sembarangan itu adalah berupa barang sintetis, yaitu berupa bungkusan atau botol plastik dan kaleng. Jadi, kesalahan kita sekarang adalah membawa kebiasaan zaman dulu yang serba organik ke zaman sekarang yang sudah serba sintetis.
Masih menurut dia, sebelum plastik ditemukan, sampah itu bisa saja dibuang sembarangan karena tanah akan mengolahnya dengan senang hati. Tapi di saat sekarang di mana hampir semua kantong belanja terbuat dari plastik, membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan buruk yang akan merusakkan tanah sekaligus merusak pemandangan.
Ini karena tanah tidak akan bisa mengurai bahan dari plastik, dan karenanya akan tetap menjadi plastik sampai tak terhitung tahun lamanya. Makanya, tanah paya yang dangkal karena lama dipakai sebagai tempat buang sampah adalah bukan tempat yang baik untuk mendirikan bangunan.
Banyak orang yang kecolongan dengan membeli rumah yang ternyata dibangun di tanah bekas tempat sampah. Tak berapa lama kemudian rumahnya retak. Tanah penuh plastik tentu tak akan pernah bisa padat dan kuat.
***
Ketidak-sadaran hal ini bukan hanya di Aceh saja yang kebetulan kasusnya mencuat dalam beberapa hari ini, di mana masyarakat dihebohkan oleh tingkah laku para pengunjung Masjid Raya Baiturrahman yang mengotori pekarangan masjid dengan sampah-sampah mereka, di seluruh Indonesia pun rata-rata masyarakat kita memang belum sadar akan hal ini.
Kalau menurut saya, dalam hal buang sampah sembarangan ini, sepertinya ini terjadi karena kita memang agak telat lahir ke dunia ini. Dengan kebiasaan buruk ini, seharusnya kita telah lahir minimal satu setengah abad yang lalu, sebelum plastik ditemukan.
Parahnya lagi, dari amatan saya, kebiasaan buang sampah sembarangan itu bukan hanya monopoli orang desa dengan pendidikan rendah saja, tapi orang kota dengan sederet titel pun masih saja ada yang berperilaku sebagai itu. Coba saja cek sendiri di kota-kota besar.
Itu di Indonesia. Di luar negeri kasus ini sebenarnya juga ada, sekalipun tentu tidak separah seperti di negara kita. Di Taiwan misalnya, juga masih ada orang yang suka membuang sampah sembarangan. Coba saja main ke stasiun. Yang buang buntung rokok dan meludah air sirih sembarangan ternyata lumayan mudah juga dijumpai. Sampah-sampah kecil dan botol plastik sekalipun tak sampai menumpuk, lumayan mudah didapatkan di stasiun.
Oleh karena itu, dalam hal ini, kesimpulan yang bisa saya berikan kepada mereka yang suka mencampakkan sampah sembarang adalah, mereka itu terlalu telat lahir. Seandainya mereka lahir di zaman baheula, mereka buang sampah sembarangan, tentu tak seorang pun yang akan mem-bully mereka.
Dari omelannya, yang menarik bagi saya yaitu kata dia bahwa orang zaman dulu tidak bisa disalahkan dengan kebiasaan mereka membuang sampah sembarangan. Sebabnya adalah, lanjut dia, sampah dulu berbeda dengan sampah sekarang.
Dulu sampah masih dari barang organik, seperti bungkusan daun pisang misalnya. Sedangkan sekarang, sampah yang kita campakkan sembarangan itu adalah berupa barang sintetis, yaitu berupa bungkusan atau botol plastik dan kaleng. Jadi, kesalahan kita sekarang adalah membawa kebiasaan zaman dulu yang serba organik ke zaman sekarang yang sudah serba sintetis.
Masih menurut dia, sebelum plastik ditemukan, sampah itu bisa saja dibuang sembarangan karena tanah akan mengolahnya dengan senang hati. Tapi di saat sekarang di mana hampir semua kantong belanja terbuat dari plastik, membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan buruk yang akan merusakkan tanah sekaligus merusak pemandangan.
Ini karena tanah tidak akan bisa mengurai bahan dari plastik, dan karenanya akan tetap menjadi plastik sampai tak terhitung tahun lamanya. Makanya, tanah paya yang dangkal karena lama dipakai sebagai tempat buang sampah adalah bukan tempat yang baik untuk mendirikan bangunan.
Banyak orang yang kecolongan dengan membeli rumah yang ternyata dibangun di tanah bekas tempat sampah. Tak berapa lama kemudian rumahnya retak. Tanah penuh plastik tentu tak akan pernah bisa padat dan kuat.
***
Ketidak-sadaran hal ini bukan hanya di Aceh saja yang kebetulan kasusnya mencuat dalam beberapa hari ini, di mana masyarakat dihebohkan oleh tingkah laku para pengunjung Masjid Raya Baiturrahman yang mengotori pekarangan masjid dengan sampah-sampah mereka, di seluruh Indonesia pun rata-rata masyarakat kita memang belum sadar akan hal ini.
Kalau menurut saya, dalam hal buang sampah sembarangan ini, sepertinya ini terjadi karena kita memang agak telat lahir ke dunia ini. Dengan kebiasaan buruk ini, seharusnya kita telah lahir minimal satu setengah abad yang lalu, sebelum plastik ditemukan.
Parahnya lagi, dari amatan saya, kebiasaan buang sampah sembarangan itu bukan hanya monopoli orang desa dengan pendidikan rendah saja, tapi orang kota dengan sederet titel pun masih saja ada yang berperilaku sebagai itu. Coba saja cek sendiri di kota-kota besar.
Itu di Indonesia. Di luar negeri kasus ini sebenarnya juga ada, sekalipun tentu tidak separah seperti di negara kita. Di Taiwan misalnya, juga masih ada orang yang suka membuang sampah sembarangan. Coba saja main ke stasiun. Yang buang buntung rokok dan meludah air sirih sembarangan ternyata lumayan mudah juga dijumpai. Sampah-sampah kecil dan botol plastik sekalipun tak sampai menumpuk, lumayan mudah didapatkan di stasiun.
Oleh karena itu, dalam hal ini, kesimpulan yang bisa saya berikan kepada mereka yang suka mencampakkan sampah sembarang adalah, mereka itu terlalu telat lahir. Seandainya mereka lahir di zaman baheula, mereka buang sampah sembarangan, tentu tak seorang pun yang akan mem-bully mereka.
Monday, June 26, 2017
Bom Panci
Akhirnya, prosesi refreshing saya di pinggir jalan depan kampus terpaksa harus saya hentikan akibat ulah sepasang laki-bini bersama seorang anak kecil mungilnya.
Anak kecil itu begitu lincah, lasak serasa tak bisa diam. Berlari kesana-kemari. Manakala ia hampir mendekati pinggir jalan, ibu-bapaknya bersorak berbarengan dengan suara yang omaigot lantangnya, untuk memanggil anaknya agar menjauh dari jalan.
Dua kali anak itu mendekati jalan, dua kali pula suara sorakan ibu-bapaknya selantang suara bom panci Kampung Melayu, menggetarkan awang-awang. Dan, dua kali pula saya kaget di saat sedang larut dalam bait-bait cerita novel yang sedang saya baca.
Jalanan masih ramai, udara menghangat seiiring menuju puncak musim panas di pertengahan Juli. Hiruk pikuk jalan ini, udara hangat ini, sekarang kutinggal menuju lab yang sepi dan dingin. Sesepi dan sedingin hatiku sebagai anak dagang di hari-hari yang Fitri ini.
__________
Hasyiah:
Anak dagang adalah orang perantauan; anak rantau (KBBI).
Anak kecil itu begitu lincah, lasak serasa tak bisa diam. Berlari kesana-kemari. Manakala ia hampir mendekati pinggir jalan, ibu-bapaknya bersorak berbarengan dengan suara yang omaigot lantangnya, untuk memanggil anaknya agar menjauh dari jalan.
Dua kali anak itu mendekati jalan, dua kali pula suara sorakan ibu-bapaknya selantang suara bom panci Kampung Melayu, menggetarkan awang-awang. Dan, dua kali pula saya kaget di saat sedang larut dalam bait-bait cerita novel yang sedang saya baca.
Jalanan masih ramai, udara menghangat seiiring menuju puncak musim panas di pertengahan Juli. Hiruk pikuk jalan ini, udara hangat ini, sekarang kutinggal menuju lab yang sepi dan dingin. Sesepi dan sedingin hatiku sebagai anak dagang di hari-hari yang Fitri ini.
__________
Hasyiah:
Anak dagang adalah orang perantauan; anak rantau (KBBI).
Wednesday, May 17, 2017
Sombong
Ternyata ada juga yang menuduh saya sebagai orang sombong. Katanya, kalau makin berilmu seseorang maka seharusnya makin rendah hatilah ia. Sedangkan saya, katanya, tidak seperti itu. Saya tidak masuk ke salah satu orang yang rendah hati itu.
Atas tuduhan itu saya terus terang tidak tahu mau menjawab apa. Kalau di facebook, hanya saya “like” saja. Kalau diucapkan langsung mungkin saya hanya tersenyum dan juga, seperti biasa, saya bawa canda saja. Karena canda itu memang khas saya.
Dalam kehidupan saya, sedari kecil saya cenderung menjauh dari orang-orang yang telah dianggap tokoh oleh khalayak. Bahkan sampai sekarang masih seperti itu. Ini bukan artinya saya tidak suka kepada mereka, bukan itu. Malah saya sangat menghormati mereka. Cuma saja nuansa formal pada dunia tokoh itu kerap membuat saya kikuk, salah tingkah. Saya tidak nyaman dengan dunia seperti itu. Akhirnya saya menjauh.
Oleh karena itu, saya tidak dekat sama sekali dengan tokoh-tokoh di kecamatan tempat saya tinggal. Saya hanya ingin menjadi masyarakatnya yang baik. Itu saja. Sekalipun ada sedikit kedekatan dengan ulama-ulama, tapi itu bukan kedekatan sebagai tokoh, melainkan sebagai kedekatan antara murid dan gurunya. Yang saat bicara, saya lebih banyak merunduk dan menjawab “iya, iya, dan iya”.
Terus, dengan golongan apa saya akrab dan suka bicara? Dengan anak-anak muda atau orang-orang tua biasa baik yang terdidik maupun yang tidak sama sekali, yang kadang tak jelas pemikirannya akan masa depan. Yang kadang mereka membaca koran, yang tertulis “ke timur”, dipahaminya “ke barat”. Dengan orang-orang semacam inilah saya suka bercengkerama.
Atas kebiasaan saya yang selalu suka nongkrong dengan anak-anak yang tidak jelas, sempat juga dulu saat masih SMP saya dimarahi abang saya. “Ikah kiban ilei, ngoen keuh watee urou syit ngoen kameeng keudee – Kamu ini bagaimana, teman kamu tiap hari cuma dengan kambing kedai, ” begitu kritikan abang saya pada suatu malam.
Julukan “kambing kedai” itu dialamatkan kepada anak-anak muda belia tapi sudah lepas dari pantauan orang tuanya dan jarang pulang ke rumah. Mereka biasanya selalu nongkrong di pasar dan kadang tidur di langgar. Biasanya mereka juga sudah putus sekolah. Dengan merekalah saya kerap bergaul.
Jika menilik kehidupan mereka, tentu wajar ada orang tua yang tidak suka jika anaknya bergaul dengan kambing kedai ini. Tapi saya, sekalipun demikian, tetap bergaul dengan mereka. Dan untungnya, saya tidak terpengaruh sama sekali dengan kehidupan buruk mereka. Satu hal yang paling cepat terpengaruh jika berteman dengan mereka kala itu adalah merokok, dan sampai sekarang saya bukan perokok. Justru sebaliknya, mereka yang kerap terpengaruh dengan saya.
Terkait berteman dengan anak-anak muda, dulu saat saya lagi cari-cari istri (2011-2012), pertemanan dengan mereka sempat tidak ikhlas juga saya. Artinya, saya menambah jumlah kedekatan dengan anak-anak tingkat SMA dengan harapan agar saya diperkenalkan dengan teman seangkatannya yang perempuan atau saudaranya yang perempuan, untuk saya jadikan istri.
Tak rugi, maksud saya itu tercapai. Yang memperkenalkan saya dengan seorang wanita muda cantik yang sekarang telah menjadi istri saya adalah dari kalangan anak muda. Ia memperkenalkan saya dengan adik sepupunya. Mendapatkan istri itu adalah keberhasilan luar biasa bagi seorang dosen yang sudah S2 dengan wajah pas-pasan. Karena yang sering terjadi adalah, wanitanya mau, saya tidak. Saya mau, sebaliknya wanitanya tidak. Ada juga yang sudah bilang mau, ternyata besoknya tidak. Dari golongan mudalah persoalan saya itu selesai dengan jalan cukup damai.
Waduh, kok jadi sampai kemari pembahasannya ya? Oke, kembali ke kambing kedai.
Sampai sekarang teman saya masih anak-anak muda dan juga orang-orang biasa. Dengan tokoh-tokoh tidak begitu dekat, tapi tentu saya sangat menghormati mereka. Saya dengar tuturnya dan tidak akan berbantah-bantahan dengan mereka. Karena bagi saya, walaupun saya tidak sanggup berwibawa, saya akan tetap menghormati kewibawaan orang lain. Tidak ada kebanggaan bagi saya ketika saya berhasil meruntuhkan kewibawaan orang lain.
Salah satu anak muda yang sampai sekarang masih menjadi teman saya, dulu sempat juga mengkritik perkara saya dalam memilih teman. “Tgk, idrouneuh lampah ngoen tokoh-tokoh neumeungoen. Bek watee urou gadoeh neuduek ngoen aneuk miet neupeugah haba bangai – Tgk, kamu bagusnya bergaul dengan tokoh-tokoh. Jangan tiap hari nongkrong dengan anak kecil bicara hal-hal bodoh.” Begitu kata seorang anak muda yang sudah menjadi teman akrab saya itu.
Ia tak sadar, jika saya dari dulu tidak mau berteman dengan anak-anak muda yang sering dipandang sebelah mata oleh para tetokoh, tentu ia tidak akan mempunyai teman seperti saya.
Ia juga menambahkan hujahnya kepada saya, bahwa jika saya mau, maka akan cepat dipertokohkan dibandingkan dengan si Polan dan si Polin. “Karena idrouneuh loe ileumei – Karena kamu punya banyak ilmu, ” begitu katanya lagi menyampaikan alasan.
Sepertinya itu tidak mampan. Saya, sampai sekarang, masih saja seperti dulu. Suka bergaul dengan orang-orang biasa. Anak-anak muda yang kadang tidak jelas pikirannya. Mengobrol dengan mereka, mendengar permasalahannya, candanya, dan tawanya. Dan lagi, saya lebih banyak bertanya saat mengobrol dengan mereka. Bertanya apa saja yang kira sesuai dengan latar belakang mereka. Kadang mereka juga bertanya kepada saya.
Pertanyaan saya, apakah karena ini saya dituduh sombong? Atau karena saya sering muji-muji diri di facebook dengan bilang bahwa saya paling ganteng sedunia? Itu bercanda, Bro, Sis. Tinggikanlah sedikit selera humormu. Aman hidup kita.
Atas tuduhan itu saya terus terang tidak tahu mau menjawab apa. Kalau di facebook, hanya saya “like” saja. Kalau diucapkan langsung mungkin saya hanya tersenyum dan juga, seperti biasa, saya bawa canda saja. Karena canda itu memang khas saya.
Dalam kehidupan saya, sedari kecil saya cenderung menjauh dari orang-orang yang telah dianggap tokoh oleh khalayak. Bahkan sampai sekarang masih seperti itu. Ini bukan artinya saya tidak suka kepada mereka, bukan itu. Malah saya sangat menghormati mereka. Cuma saja nuansa formal pada dunia tokoh itu kerap membuat saya kikuk, salah tingkah. Saya tidak nyaman dengan dunia seperti itu. Akhirnya saya menjauh.
Oleh karena itu, saya tidak dekat sama sekali dengan tokoh-tokoh di kecamatan tempat saya tinggal. Saya hanya ingin menjadi masyarakatnya yang baik. Itu saja. Sekalipun ada sedikit kedekatan dengan ulama-ulama, tapi itu bukan kedekatan sebagai tokoh, melainkan sebagai kedekatan antara murid dan gurunya. Yang saat bicara, saya lebih banyak merunduk dan menjawab “iya, iya, dan iya”.
Terus, dengan golongan apa saya akrab dan suka bicara? Dengan anak-anak muda atau orang-orang tua biasa baik yang terdidik maupun yang tidak sama sekali, yang kadang tak jelas pemikirannya akan masa depan. Yang kadang mereka membaca koran, yang tertulis “ke timur”, dipahaminya “ke barat”. Dengan orang-orang semacam inilah saya suka bercengkerama.
Atas kebiasaan saya yang selalu suka nongkrong dengan anak-anak yang tidak jelas, sempat juga dulu saat masih SMP saya dimarahi abang saya. “Ikah kiban ilei, ngoen keuh watee urou syit ngoen kameeng keudee – Kamu ini bagaimana, teman kamu tiap hari cuma dengan kambing kedai, ” begitu kritikan abang saya pada suatu malam.
Julukan “kambing kedai” itu dialamatkan kepada anak-anak muda belia tapi sudah lepas dari pantauan orang tuanya dan jarang pulang ke rumah. Mereka biasanya selalu nongkrong di pasar dan kadang tidur di langgar. Biasanya mereka juga sudah putus sekolah. Dengan merekalah saya kerap bergaul.
Jika menilik kehidupan mereka, tentu wajar ada orang tua yang tidak suka jika anaknya bergaul dengan kambing kedai ini. Tapi saya, sekalipun demikian, tetap bergaul dengan mereka. Dan untungnya, saya tidak terpengaruh sama sekali dengan kehidupan buruk mereka. Satu hal yang paling cepat terpengaruh jika berteman dengan mereka kala itu adalah merokok, dan sampai sekarang saya bukan perokok. Justru sebaliknya, mereka yang kerap terpengaruh dengan saya.
Terkait berteman dengan anak-anak muda, dulu saat saya lagi cari-cari istri (2011-2012), pertemanan dengan mereka sempat tidak ikhlas juga saya. Artinya, saya menambah jumlah kedekatan dengan anak-anak tingkat SMA dengan harapan agar saya diperkenalkan dengan teman seangkatannya yang perempuan atau saudaranya yang perempuan, untuk saya jadikan istri.
Tak rugi, maksud saya itu tercapai. Yang memperkenalkan saya dengan seorang wanita muda cantik yang sekarang telah menjadi istri saya adalah dari kalangan anak muda. Ia memperkenalkan saya dengan adik sepupunya. Mendapatkan istri itu adalah keberhasilan luar biasa bagi seorang dosen yang sudah S2 dengan wajah pas-pasan. Karena yang sering terjadi adalah, wanitanya mau, saya tidak. Saya mau, sebaliknya wanitanya tidak. Ada juga yang sudah bilang mau, ternyata besoknya tidak. Dari golongan mudalah persoalan saya itu selesai dengan jalan cukup damai.
Waduh, kok jadi sampai kemari pembahasannya ya? Oke, kembali ke kambing kedai.
Sampai sekarang teman saya masih anak-anak muda dan juga orang-orang biasa. Dengan tokoh-tokoh tidak begitu dekat, tapi tentu saya sangat menghormati mereka. Saya dengar tuturnya dan tidak akan berbantah-bantahan dengan mereka. Karena bagi saya, walaupun saya tidak sanggup berwibawa, saya akan tetap menghormati kewibawaan orang lain. Tidak ada kebanggaan bagi saya ketika saya berhasil meruntuhkan kewibawaan orang lain.
Salah satu anak muda yang sampai sekarang masih menjadi teman saya, dulu sempat juga mengkritik perkara saya dalam memilih teman. “Tgk, idrouneuh lampah ngoen tokoh-tokoh neumeungoen. Bek watee urou gadoeh neuduek ngoen aneuk miet neupeugah haba bangai – Tgk, kamu bagusnya bergaul dengan tokoh-tokoh. Jangan tiap hari nongkrong dengan anak kecil bicara hal-hal bodoh.” Begitu kata seorang anak muda yang sudah menjadi teman akrab saya itu.
Ia tak sadar, jika saya dari dulu tidak mau berteman dengan anak-anak muda yang sering dipandang sebelah mata oleh para tetokoh, tentu ia tidak akan mempunyai teman seperti saya.
Ia juga menambahkan hujahnya kepada saya, bahwa jika saya mau, maka akan cepat dipertokohkan dibandingkan dengan si Polan dan si Polin. “Karena idrouneuh loe ileumei – Karena kamu punya banyak ilmu, ” begitu katanya lagi menyampaikan alasan.
Sepertinya itu tidak mampan. Saya, sampai sekarang, masih saja seperti dulu. Suka bergaul dengan orang-orang biasa. Anak-anak muda yang kadang tidak jelas pikirannya. Mengobrol dengan mereka, mendengar permasalahannya, candanya, dan tawanya. Dan lagi, saya lebih banyak bertanya saat mengobrol dengan mereka. Bertanya apa saja yang kira sesuai dengan latar belakang mereka. Kadang mereka juga bertanya kepada saya.
Pertanyaan saya, apakah karena ini saya dituduh sombong? Atau karena saya sering muji-muji diri di facebook dengan bilang bahwa saya paling ganteng sedunia? Itu bercanda, Bro, Sis. Tinggikanlah sedikit selera humormu. Aman hidup kita.
Wednesday, May 10, 2017
Dua Bedebah
Kerap kali kekecewaan itu datang menghampiri kita melalui jalan yang cukup lapang, tak beronak. Begitu mudah ia datang, mencabik-cabik kegembiraan yang ada.
Kamar saya baru saja saya semprot dengan antinyamuk yang saya beli tiga hari lalu, 77 NTD harganya. Dari baunya yang menyengat, jangankan nyamuk, serasa saya pun pusing dibuatnya.
Untuk menghindari dari menghirup racun nyamuk itu, butuh waktu paling tidak lima menit menunggu di luar sampai akhirnya saya bisa masuk kamar lagi.
Pintu kamar saya buka, bau obat antinyamuk sudahlah bisa saya anggap hilang. Saya masuk, mendekati meja belajar, menarik kursi, duduk, dan akhirnya menjamah laptop.
Syahdan, belum sampai lima menit saya mencecahkan jemari di atas papan penjarian laptop, sebuah “helikopter” mini terbang bermanuver tepat di depan hidung saya, kemudian ia berputar-putar mengitari lampu belajar, di depan mata saya.
"Nyamuk kurang ajar ! Ini penghinaan terbesar malam ini !" dalam hati saya misuh-misuh di kamar.
Dua telapak tangan bergegas bersiap untuk saya melakukan tepuk nyamuk. Saya berdiri, sedikit merunduk, mencari posisi pas agar nyamuk itu berada betul di antara dua telapak tangan saya.
Nyamuk ini begitu lincah, terbang kesana kemari, berputar-putar dengan ritme yang cukup cepat. Saya juga tak kalah lincah. Dua telapak tangan siap tepuk saya bawa ke mana pun nyamuk itu menuju.
Posisi yang pas saya dapatkan. Nyamuk itu hampir tiga detik berada di antara kedua telapak tangan saya yang siap menepuk itu. Plaaak ! Tepukan pertama membahana. Saya membuka dua telapak tangan yang mengatup. Ternyata tidak kena, ia lolos.
"Bedebah!" saya mengumpatnya dalam hati. Saya mengangkat wajah, melihat ke depan. Nyamuk itu masih saja terbang mengitari lampu belajar, seolah tanpa dosa. Saya berang, agresi pertama saya gagal. Memalukan!
Saya mulai tidak terkontrol, angkara murka benar-benar telah menguasai jiwa saya malam ini. Kalau tadi saya bersiasat untuk mencari posisi pas dari nyamuk itu sebelum menepuk, sekarang tepukan saya berikan saja bertubi-tubi tak kenal henti dan tak menggubris akan akurasi.
Suara tepukan bertalu-talu, menggelegar, menggetarkan udara sampai ke langit-langit kamar. Tiga kali tepukan yang sempat saya hitung. Akhirnya saya pasrah, menginsafi bahwa nyamuk itu berhasil lolos. Selamat. Bebas pergi menjauh, meninggalkan saya di kamar ini yang digerogoti kemurkaan.
Saya melangkah mendekat ke sudut kamar, ke lokasi di mana botol antinyamuk semprot itu berada, mengambilnya, menatapnya lamat-lamat, berseru, “Antinyamuk bedebah !”
10 Mei 2017, Taiwan.
Kamar saya baru saja saya semprot dengan antinyamuk yang saya beli tiga hari lalu, 77 NTD harganya. Dari baunya yang menyengat, jangankan nyamuk, serasa saya pun pusing dibuatnya.
Untuk menghindari dari menghirup racun nyamuk itu, butuh waktu paling tidak lima menit menunggu di luar sampai akhirnya saya bisa masuk kamar lagi.
Pintu kamar saya buka, bau obat antinyamuk sudahlah bisa saya anggap hilang. Saya masuk, mendekati meja belajar, menarik kursi, duduk, dan akhirnya menjamah laptop.
Syahdan, belum sampai lima menit saya mencecahkan jemari di atas papan penjarian laptop, sebuah “helikopter” mini terbang bermanuver tepat di depan hidung saya, kemudian ia berputar-putar mengitari lampu belajar, di depan mata saya.
"Nyamuk kurang ajar ! Ini penghinaan terbesar malam ini !" dalam hati saya misuh-misuh di kamar.
Dua telapak tangan bergegas bersiap untuk saya melakukan tepuk nyamuk. Saya berdiri, sedikit merunduk, mencari posisi pas agar nyamuk itu berada betul di antara dua telapak tangan saya.
Nyamuk ini begitu lincah, terbang kesana kemari, berputar-putar dengan ritme yang cukup cepat. Saya juga tak kalah lincah. Dua telapak tangan siap tepuk saya bawa ke mana pun nyamuk itu menuju.
Posisi yang pas saya dapatkan. Nyamuk itu hampir tiga detik berada di antara kedua telapak tangan saya yang siap menepuk itu. Plaaak ! Tepukan pertama membahana. Saya membuka dua telapak tangan yang mengatup. Ternyata tidak kena, ia lolos.
"Bedebah!" saya mengumpatnya dalam hati. Saya mengangkat wajah, melihat ke depan. Nyamuk itu masih saja terbang mengitari lampu belajar, seolah tanpa dosa. Saya berang, agresi pertama saya gagal. Memalukan!
Saya mulai tidak terkontrol, angkara murka benar-benar telah menguasai jiwa saya malam ini. Kalau tadi saya bersiasat untuk mencari posisi pas dari nyamuk itu sebelum menepuk, sekarang tepukan saya berikan saja bertubi-tubi tak kenal henti dan tak menggubris akan akurasi.
Suara tepukan bertalu-talu, menggelegar, menggetarkan udara sampai ke langit-langit kamar. Tiga kali tepukan yang sempat saya hitung. Akhirnya saya pasrah, menginsafi bahwa nyamuk itu berhasil lolos. Selamat. Bebas pergi menjauh, meninggalkan saya di kamar ini yang digerogoti kemurkaan.
Saya melangkah mendekat ke sudut kamar, ke lokasi di mana botol antinyamuk semprot itu berada, mengambilnya, menatapnya lamat-lamat, berseru, “Antinyamuk bedebah !”
10 Mei 2017, Taiwan.
Tuesday, May 2, 2017
Pentingnya Membaca Headline Koran
Sesibuk-sibuknya saya dan se"tidak suka-suka"nya saya akan dunia politik, headline koran Aceh tetap saya baca dengan detail tiap hari.
Waktu untuk itu tetap saya sisihkan. Lagipula membaca halaman pertama (headline) koran itu sungguh tidak butuh waktu lama, maksimal 20 menit selesai.
Itu sudah termasuk waktu untuk buka kamus di ponsel jika ada kata yang tidak saya pahami atau ragu, dan juga waktu untuk membuka Google seandainya ada istilah yang asing bagi saya.
Untuk daerah Aceh saya tentu membaca koran Serambi Indonesia, karena itu adalah harian media cetak satu-satunya di Aceh.
Selama di Taiwan, saya agak telat bisa membaca lembaran pertama koran itu. Hal ini karena versi "epaper"nya baru ada di malam hari. Karena itu, saya biasa membacanya saat sudah berbaring untuk tidur malam.
Pertanyaannya, apakah penting membaca headline koran? Menurut saya penting sekali. Pasalnya, kita harus tahu apa yang sedang berlaku di daerah kelahiran kita. Kita harus tahu masalah apa yang sedang mengundang perhatian orang di daerah kita.
Dan yang paling penting, kita harus tahu apa yang sedang pembesar-pembasar kita lakukan untuk daerah kelahiran kita. Sehingga pada gilirannya, dengan membaca itu, kita minimal tahu apa yang bisa kita lakukan untuk daerah kelahiran kita, yang belum kunjung mereka lakukan.
Waktu untuk itu tetap saya sisihkan. Lagipula membaca halaman pertama (headline) koran itu sungguh tidak butuh waktu lama, maksimal 20 menit selesai.
Itu sudah termasuk waktu untuk buka kamus di ponsel jika ada kata yang tidak saya pahami atau ragu, dan juga waktu untuk membuka Google seandainya ada istilah yang asing bagi saya.
Untuk daerah Aceh saya tentu membaca koran Serambi Indonesia, karena itu adalah harian media cetak satu-satunya di Aceh.
Selama di Taiwan, saya agak telat bisa membaca lembaran pertama koran itu. Hal ini karena versi "epaper"nya baru ada di malam hari. Karena itu, saya biasa membacanya saat sudah berbaring untuk tidur malam.
Pertanyaannya, apakah penting membaca headline koran? Menurut saya penting sekali. Pasalnya, kita harus tahu apa yang sedang berlaku di daerah kelahiran kita. Kita harus tahu masalah apa yang sedang mengundang perhatian orang di daerah kita.
Dan yang paling penting, kita harus tahu apa yang sedang pembesar-pembasar kita lakukan untuk daerah kelahiran kita. Sehingga pada gilirannya, dengan membaca itu, kita minimal tahu apa yang bisa kita lakukan untuk daerah kelahiran kita, yang belum kunjung mereka lakukan.
Sunday, April 30, 2017
Pengakuan Kedaulatan Jelek dan Ganteng
Oke, saya akui saja, biar sama-sama enak. Saya memang tidak ganteng (masih belum tega menyebut jelek), dan bahkan, satu angkatan sekolah, sayalah yang paling tidak ganteng dulu.
Baik saat sekolah di SMA di mana pemuda begitu menggebu-gebunya naluri kesetrum ketika melihat perempuan, maupun sampai kuliah di Politeknik Negeri Lhokseumawe, saya cenderung menjauh dari perempuan karena memang tidak percaya diri.
Pendeknya, saya yakin sekali akan ungkapan yang saya buat sendiri, “Siapa pula yang mau sama saya?” Maka saat itu, tempat istirahat saya adalah perpustakaan. Kantin adalah hanya untuk waktu makan saja, setelah itu kabur. Mungkin karena itulah minat baca saya begitu tinggi sampai sekarang, karena tidak ganteng.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah saat saya masuk Politeknik Negeri Lhokseumawe di tahun 1999, rambut saya dipaksa cukurkan karena begitulah peraturan anak baru di saat menghadapi masa pelonco yang jahanam itu.
Tentu, walaupun rambut saya jelek juga, tanpa rambut itu benar-benar wajah saya tidak bisa tertolong sama sekali kala itu. Jangankan orang lain, saya sendiri enek melihatnya. Pengin rasanya saya pecahkan saja cermin di rumah kalau tidak takut sama ibu.
Bulan-bulan pertama masuk kuliah, tentu rambut saya masihlah pendek. Saya bersama teman-teman masuk kelas. Saya lebih cenderung menyendiri karena memang saya sulit memulai pertemanan. Teman-teman juga nampaknya tidak merasa terlalu penting untuk dekat dengan saya. Walaupun mereka semua baik-baik pada sangka saya. Tapi sayalah yang suka menyendiri.
Hari demi hari kuliah berjalan. Pendidikan di Politeknik saya sadari tidaklah jauh bedanya dengan SMA. Bahkan, ada yang menarik, salah satu dosen suka memberi soal rebutan yang siapa duluan selesai maka akan langsung mendapat nilai tinggi dari dosen itu. Soal rebutan itu tak saya lepas angin sedikit pun kepada semua teman saya, kecuali semua saya rebut habis. Nilai saya pun meroket tak terkejar.
Saat itulah pandangan teman saya mulai tertuju ke arah saya, menyadari bahwa wajah itu sama sekali tidak mewakili kecerdasan seseorang. Istimewa pula, seorang teman yang kemudian menjadi akrab dengan saya, ketika melihat saya bisa menyelesaikan soal-soal itu dengan cepat, mengakui kepada saya bahwa dulu ia pernah bilang kepada teman-teman lain: “Kupikee si gam bangai si gamnyan – Saya pikir anak bodoh dia itu.”
Demi mendengar pengakuan itu tentu seketika saya tertawa, dan tentu pula tanpa tedeng aling-aling saya harus mengakui sebagai manusia normal bahwa saya langsung seolah melambung ke angkasa saat itu, tersanjung.
Saya memang dari dulu sampai sekarang lebih membanggakan pengetahuan saya dibandingkan dengan penampilan fisik. Ya, tentu itu harus diakui juga sebagai sebuah fait accompli yang harus ditanggung oleh si buruk rupa. Tapi, minimal kita mempunyai sesuatu yang bisa kita banggakan dalam diri kita. Jangan sudah jelek, bodoh, terus songong lagi.
Sungguhpun demikian, bukan berarti saya menafikan akan pentingnya penampilan menarik. Saya tetap berusaha untuk itu.
Itulah sebabnya pada tahun 2007 saya berurusan dengan spesialis ortodonsi untuk menata gigi saya yang amburadul kala itu. Sampai sekarang gigi saya masih terpasangi penahan (retainer) yang dulu maksudnya agar gigi saya tidak kabur-kabur lagi.
Dokter gigi sebenarnya sudah bilang bahwa saya tidak perlu lagi pakai retainer karena gigi saya sudah kuat akarnya pasca diseret-seret dalam beberapa tahun terakhir. Tapi saat saya mau melepaskan retainer itu, istri saya malah protes, “Jangan, dipakai saja. Saya suka melihatnya.”
Itulah sebabnya sampai sekarang seutas kawat masih tetap memagari gigi saya. Kawat ini bukan untuk gigi saya lagi. Tapi untuk istri saya. Dia suka, itu saja. Dan bagi saya itu sudah cukup alasan untuk tetap mempertahankannya.
Lihat, sesuatu yang seharusnya saya buang tapi tetap saya pertahankan hanya karena istri saya suka. Menjadi istri seorang Usman anak Blangjruen, sungguh nikmat Tuhan yang selayaknya tidak didustakan.
Tambahan lagi, tiga tahun yang lalu, teman saya di Politeknik dulu yang telah lama tak bertemu, secara spontan pernah bilang kepada saya kala itu, “Kah kaganteng keuh jinou – Kamu sudah ganteng sekarang” sambil menatap saya lamat-lamat. Saya yakin itu maksudnya bahwa saya tidak sejelek dulu lagi.
Saya dipuji begitu, langsung menyahut dengan sombongnya, menggoda, “Loh, bukankah dari dulu saya sudah ganteng?”
Ia mencibir. “Paneena, uroujeeh leupah gura hi keuh – Mana ada, dulu cukup jelek rupamu.”
Kami pun sama-sama tertawa.
__________
Hasyiah:
Fait accompli adalah sesuatu yang tidak dapat dipersoalkan lagi karena sudah selesai (dilaksanakan) (KBBI).
Songong adalah tidak tahu adat (KBBI).
Baik saat sekolah di SMA di mana pemuda begitu menggebu-gebunya naluri kesetrum ketika melihat perempuan, maupun sampai kuliah di Politeknik Negeri Lhokseumawe, saya cenderung menjauh dari perempuan karena memang tidak percaya diri.
Pendeknya, saya yakin sekali akan ungkapan yang saya buat sendiri, “Siapa pula yang mau sama saya?” Maka saat itu, tempat istirahat saya adalah perpustakaan. Kantin adalah hanya untuk waktu makan saja, setelah itu kabur. Mungkin karena itulah minat baca saya begitu tinggi sampai sekarang, karena tidak ganteng.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah saat saya masuk Politeknik Negeri Lhokseumawe di tahun 1999, rambut saya dipaksa cukurkan karena begitulah peraturan anak baru di saat menghadapi masa pelonco yang jahanam itu.
Tentu, walaupun rambut saya jelek juga, tanpa rambut itu benar-benar wajah saya tidak bisa tertolong sama sekali kala itu. Jangankan orang lain, saya sendiri enek melihatnya. Pengin rasanya saya pecahkan saja cermin di rumah kalau tidak takut sama ibu.
Bulan-bulan pertama masuk kuliah, tentu rambut saya masihlah pendek. Saya bersama teman-teman masuk kelas. Saya lebih cenderung menyendiri karena memang saya sulit memulai pertemanan. Teman-teman juga nampaknya tidak merasa terlalu penting untuk dekat dengan saya. Walaupun mereka semua baik-baik pada sangka saya. Tapi sayalah yang suka menyendiri.
Hari demi hari kuliah berjalan. Pendidikan di Politeknik saya sadari tidaklah jauh bedanya dengan SMA. Bahkan, ada yang menarik, salah satu dosen suka memberi soal rebutan yang siapa duluan selesai maka akan langsung mendapat nilai tinggi dari dosen itu. Soal rebutan itu tak saya lepas angin sedikit pun kepada semua teman saya, kecuali semua saya rebut habis. Nilai saya pun meroket tak terkejar.
Saat itulah pandangan teman saya mulai tertuju ke arah saya, menyadari bahwa wajah itu sama sekali tidak mewakili kecerdasan seseorang. Istimewa pula, seorang teman yang kemudian menjadi akrab dengan saya, ketika melihat saya bisa menyelesaikan soal-soal itu dengan cepat, mengakui kepada saya bahwa dulu ia pernah bilang kepada teman-teman lain: “Kupikee si gam bangai si gamnyan – Saya pikir anak bodoh dia itu.”
Demi mendengar pengakuan itu tentu seketika saya tertawa, dan tentu pula tanpa tedeng aling-aling saya harus mengakui sebagai manusia normal bahwa saya langsung seolah melambung ke angkasa saat itu, tersanjung.
Saya memang dari dulu sampai sekarang lebih membanggakan pengetahuan saya dibandingkan dengan penampilan fisik. Ya, tentu itu harus diakui juga sebagai sebuah fait accompli yang harus ditanggung oleh si buruk rupa. Tapi, minimal kita mempunyai sesuatu yang bisa kita banggakan dalam diri kita. Jangan sudah jelek, bodoh, terus songong lagi.
Sungguhpun demikian, bukan berarti saya menafikan akan pentingnya penampilan menarik. Saya tetap berusaha untuk itu.
Itulah sebabnya pada tahun 2007 saya berurusan dengan spesialis ortodonsi untuk menata gigi saya yang amburadul kala itu. Sampai sekarang gigi saya masih terpasangi penahan (retainer) yang dulu maksudnya agar gigi saya tidak kabur-kabur lagi.
Dokter gigi sebenarnya sudah bilang bahwa saya tidak perlu lagi pakai retainer karena gigi saya sudah kuat akarnya pasca diseret-seret dalam beberapa tahun terakhir. Tapi saat saya mau melepaskan retainer itu, istri saya malah protes, “Jangan, dipakai saja. Saya suka melihatnya.”
Itulah sebabnya sampai sekarang seutas kawat masih tetap memagari gigi saya. Kawat ini bukan untuk gigi saya lagi. Tapi untuk istri saya. Dia suka, itu saja. Dan bagi saya itu sudah cukup alasan untuk tetap mempertahankannya.
Lihat, sesuatu yang seharusnya saya buang tapi tetap saya pertahankan hanya karena istri saya suka. Menjadi istri seorang Usman anak Blangjruen, sungguh nikmat Tuhan yang selayaknya tidak didustakan.
Tambahan lagi, tiga tahun yang lalu, teman saya di Politeknik dulu yang telah lama tak bertemu, secara spontan pernah bilang kepada saya kala itu, “Kah kaganteng keuh jinou – Kamu sudah ganteng sekarang” sambil menatap saya lamat-lamat. Saya yakin itu maksudnya bahwa saya tidak sejelek dulu lagi.
Saya dipuji begitu, langsung menyahut dengan sombongnya, menggoda, “Loh, bukankah dari dulu saya sudah ganteng?”
Ia mencibir. “Paneena, uroujeeh leupah gura hi keuh – Mana ada, dulu cukup jelek rupamu.”
Kami pun sama-sama tertawa.
__________
Hasyiah:
Fait accompli adalah sesuatu yang tidak dapat dipersoalkan lagi karena sudah selesai (dilaksanakan) (KBBI).
Songong adalah tidak tahu adat (KBBI).
Thursday, April 20, 2017
Mengaco Belo di Hari Jumat Semu di Taiwan
Dalam seminggu sehari saya pasti agak cepat keluar asrama menuju lab. Hari-hari biasa saya baru masuk lab pada pukul sebelas siang. Dan terus saja tepekur di lab sampai pukul dua belas malam.
Tapi sehari itu, seperti hari ini, pukul sepuluh saya sudah terpacak di lab, lebih cepat satu jam. Dan tentu dengan pakaian yang serba baru dicuci, mengingat di sini saya terkenal jarang ganti baju. Tapi jangan kuatir juga, karena badan saya dijamin aman dari bau tidak sedap ala truk pengangkut getah karet.
Sampai di lab, dengan ransel masih di pundak, saya menghampiri “wastafel bercermin” sebelum ke meja belajar, untuk melihat janggut dan kumis saya sampai semana sudah panjangnya, ternyata sudah bisa dicukur.
Saya bergegas menuju meja belajar, mengambil pencukur jenggot, ke wastafel lagi, dan membabatnya sampai habis. Di samping wastafel itu maka adalah minyak rambut dan sisir punggung rata, sisir khas favorit saya.
Rambut kemudian sedikit saya basahkan dengan raupan air, mencolek minyak rambut, membalurnya perlahan, dan menyisir, maka terlihatlah saya lebih muda lagi sekira sepuluh tahun mundur ke belakang. Tersenyum ke cermin sejenak, setelahnya menuju ke meja belajar, menghidupkan laptop.
Jam digital laptop menunjukkan pukul 10.30. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk melalaikan diri di depan laptop. Membuka apa saja yang saya sukai, termasuk melihat Facebook dan sedikit mengintip hasil kerja kemarin malam.
Tak terasa pukul sebelas pun sampailah. Saya mematikan laptop, mengambil botol air kemudian memasukkannya ke saku samping rangsel. Powerbank cum kabelnya, beserta notepad yang berisi buku-buku digital tak ketinggalan pula saya masukkan ke kantong depan ransel.
Dompet, baik untuk uang kertas maupun koin, saya masukkan ke saku celana: dompet uang kertas ke saku kanan belakang celana, sedang dompet koin ke saku kiri depan.
Saya bangkit dari kursi, merengkuh ransel, dan menyelempangkan satu talinya di pundak kiri. Sebelum menyelempangkan tali yang satunya lagi ke pundak kanan, saya melihat ke arah teman Indonesia yang duduk di depan saya, bilang, “Heh, Jumatan, ayo!”
Kawan, betapa kagetnya saya manakala mendengar respons teman saya itu yang begitu santai, “Eh, Bang, santai. Jumatnya masih besok. Hari ini Kamis.”
Duh, sebegitu tuakah saya sehingga nama hari pun sudah saya lupakan? Saya tidak terima ini. Hari ini harus hari Jumat. Tidak boleh salah. “Masa, sih? Bukan hari Jumat?” tanya saya seolah tak percaya.
“Bukan, Bang.” Ia sudah mulai tertawa.
Sedangkan saya sudah mulai malu dan kesal, membuka ponsel pintar, melihat kalender. Di layar depan ponsel tertulis “Thu, April 20”, yang artinya Thusday, April 20. Jelas bahwa hari ini adalah hari K-a-m-i-s.
O, Tuhan. Perasaan saya langsung tidak enak. Sebabnya, hari Jumat di Taiwan ini bagi saya di samping berhasrat untuk menunaikan salat Jumat, juga telah mengkhayalkan bagaimana nikmatnya makan siang di restoran Indonesia di Masjid Besar Kaohsiung olahan tangan Mbak Aling si wanita tangkas dan cantik asal Bangka Belitung itu.
Dua agenda terbesar itu pupus bagai habisnya es diterpa matahari musim panas, meleleh dan menguap tak bersisa. Tapi, saya harus mengatasi ini. Saya tak akan membiarkan diri saya sedih di rantau ini. Karena tanpa itu pun hidup di sini sudah sama sekali tak enak bagi saya. Ingin pulang kampung, tapi belum bisa.
Saya tetap saja memanggul ransel itu dengan sempurna, tidak melepaskannya, dan bilang ke teman saya itu, “Ah, tak apa-apa, lah. Saya akan tetap keluar. Untuk mencari makanan enak.”
Selanjutnya saya pun kabur ke Kaohsiung Main Station, ingin makan masakan Indonesia sepuasnya di sana. Saya keluar dari lab, uap panas menerpa wajah demi pintu lab saya buka. Memang musim panas telah sempurna menancapkan kukunya di Kaohsiung untuk tahun ini.
Tak peduli, saya tetap berangkat. Matahari bersinar terang, membakar apa saja yang ada di bawahnya, termasuk kulitku yang membungkus hatiku yang lagi dirundung galau ini.
Dua barisan gedung melintang di pekarangan kampus telah saya lewati saat tiba-tiba kepala saya sakit, berdenyut. Kulepaskan tali ransel sebelah kanan, ransel kuhela ke depan, merogoh ke dalamnya. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, stok obat sakit kepala saya masih ada walau hanya tinggal satu pil.
Saya membuka kemasannya, mematahkannya menjadi dua. Sayang, patahannya tak tepat di gentingan tengah. Satu patahan, utuh tiga perempatnya. Seperempatnya lain hancur menjadi tepung, tak berwujud.
Karena hanya ingin minum separuh dosis, dengan mengandalkan kuku jempol, saya mencoba mengorek pil itu hingga tinggal separuh benar. Terakhir pil yang tinggal setengah itu pun patah dua. Tak peduli, saya minum saja.
Saya meneruskan perjalanan ke perhentian bus di depan kampus. Sampai di sana, tak seberapa lama maka bus pun datang. Saya naik, duduk manis, menyetel arah angin AC, mengeluarkan notepad, dan membaca buku. Entah berapa menit lamanya, rasanya tak lama sudah sampai saja di Kaohsiung Main Station.
Saat turun dari bus, masih belum tetap pendirian saya akan ke warung mana saya menuju. Akhirnya, setelah sel otakku melakukan rapat kilat, pilihan jatuh pada warung Indonesia Bu Sari yang ada di sebelah barat stasiun. Saya bergegas ke sana. Cuma beberapa tarikan napas maka saya sampai di depan warung itu. Ternyata tutup. Tak mengapa. Masih banyak warung lain.
Warung Lestari adalah pilihan selanjutnya. Tutup juga? Enak saja! Buka, dong. Di situ saya memesan mi ayam yang enaknya sungguh membikin lupa mertua itu. Sementara menunggu mi itu selesai dibuat, saya membaca buku lagi sampai mi itu terhidang mantap di hadapan saya.
Tak butuh waktu lama, saya selesai menandaskannya. Habis bersih. Seandainya peradaban kita menurunkan standar kebersihannya sedikit saja, sungguh mangkuk mi sisa makan saya itu tak perlu dicuci lagi. Sangking begitu bersihnya.
Saya memanggil Mbak Lestari, minta dibuatkan nasi goreng plus mata sapi untuk makan malam. “Dibungkus, ya, Mbak,” teriak saya dan segera di-oke-kan olehnya.
Sungguh tak lama nasi goreng itu terhidang cantik di depan saya dalam sebuah piring lonjong putih susu. Saya melihatnya, protes, “Mbak, saya pesannya dibungkus, lo.” Maka dibungkuslah nasi goreng itu. Tanpa debat.
Saya bergegas pulang setelah membayar, 200 NTD. Namun, belum genap sepuluh langkah meninggalkan pintu warung, saya balik lagi. “Mbak, jual obat sakit kepala, tidak?” teriak saya di muka pintu.
“Eh, tunggu, saya lihat dulu,” jawabnya sambil berjalan menuju meja kasir. Saya ikut melihat ke dalam bungkusan yang dikeluarkan dari lacinya. Syukur, ada. Malah banyak. Saya minta satu bungkus saja, berisi lima tablet, 50 NTD harganya. Eh, penasaran, ya? Nama obat sakit kepala itu adalah Paramex.
__________
Hasyiah:
Mengaco belo adalah berkata-kata tidak keruan; meracau.
Tapi sehari itu, seperti hari ini, pukul sepuluh saya sudah terpacak di lab, lebih cepat satu jam. Dan tentu dengan pakaian yang serba baru dicuci, mengingat di sini saya terkenal jarang ganti baju. Tapi jangan kuatir juga, karena badan saya dijamin aman dari bau tidak sedap ala truk pengangkut getah karet.
Sampai di lab, dengan ransel masih di pundak, saya menghampiri “wastafel bercermin” sebelum ke meja belajar, untuk melihat janggut dan kumis saya sampai semana sudah panjangnya, ternyata sudah bisa dicukur.
Saya bergegas menuju meja belajar, mengambil pencukur jenggot, ke wastafel lagi, dan membabatnya sampai habis. Di samping wastafel itu maka adalah minyak rambut dan sisir punggung rata, sisir khas favorit saya.
Rambut kemudian sedikit saya basahkan dengan raupan air, mencolek minyak rambut, membalurnya perlahan, dan menyisir, maka terlihatlah saya lebih muda lagi sekira sepuluh tahun mundur ke belakang. Tersenyum ke cermin sejenak, setelahnya menuju ke meja belajar, menghidupkan laptop.
Jam digital laptop menunjukkan pukul 10.30. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk melalaikan diri di depan laptop. Membuka apa saja yang saya sukai, termasuk melihat Facebook dan sedikit mengintip hasil kerja kemarin malam.
Tak terasa pukul sebelas pun sampailah. Saya mematikan laptop, mengambil botol air kemudian memasukkannya ke saku samping rangsel. Powerbank cum kabelnya, beserta notepad yang berisi buku-buku digital tak ketinggalan pula saya masukkan ke kantong depan ransel.
Dompet, baik untuk uang kertas maupun koin, saya masukkan ke saku celana: dompet uang kertas ke saku kanan belakang celana, sedang dompet koin ke saku kiri depan.
Saya bangkit dari kursi, merengkuh ransel, dan menyelempangkan satu talinya di pundak kiri. Sebelum menyelempangkan tali yang satunya lagi ke pundak kanan, saya melihat ke arah teman Indonesia yang duduk di depan saya, bilang, “Heh, Jumatan, ayo!”
Kawan, betapa kagetnya saya manakala mendengar respons teman saya itu yang begitu santai, “Eh, Bang, santai. Jumatnya masih besok. Hari ini Kamis.”
Duh, sebegitu tuakah saya sehingga nama hari pun sudah saya lupakan? Saya tidak terima ini. Hari ini harus hari Jumat. Tidak boleh salah. “Masa, sih? Bukan hari Jumat?” tanya saya seolah tak percaya.
“Bukan, Bang.” Ia sudah mulai tertawa.
Sedangkan saya sudah mulai malu dan kesal, membuka ponsel pintar, melihat kalender. Di layar depan ponsel tertulis “Thu, April 20”, yang artinya Thusday, April 20. Jelas bahwa hari ini adalah hari K-a-m-i-s.
O, Tuhan. Perasaan saya langsung tidak enak. Sebabnya, hari Jumat di Taiwan ini bagi saya di samping berhasrat untuk menunaikan salat Jumat, juga telah mengkhayalkan bagaimana nikmatnya makan siang di restoran Indonesia di Masjid Besar Kaohsiung olahan tangan Mbak Aling si wanita tangkas dan cantik asal Bangka Belitung itu.
Dua agenda terbesar itu pupus bagai habisnya es diterpa matahari musim panas, meleleh dan menguap tak bersisa. Tapi, saya harus mengatasi ini. Saya tak akan membiarkan diri saya sedih di rantau ini. Karena tanpa itu pun hidup di sini sudah sama sekali tak enak bagi saya. Ingin pulang kampung, tapi belum bisa.
Saya tetap saja memanggul ransel itu dengan sempurna, tidak melepaskannya, dan bilang ke teman saya itu, “Ah, tak apa-apa, lah. Saya akan tetap keluar. Untuk mencari makanan enak.”
Selanjutnya saya pun kabur ke Kaohsiung Main Station, ingin makan masakan Indonesia sepuasnya di sana. Saya keluar dari lab, uap panas menerpa wajah demi pintu lab saya buka. Memang musim panas telah sempurna menancapkan kukunya di Kaohsiung untuk tahun ini.
Tak peduli, saya tetap berangkat. Matahari bersinar terang, membakar apa saja yang ada di bawahnya, termasuk kulitku yang membungkus hatiku yang lagi dirundung galau ini.
Dua barisan gedung melintang di pekarangan kampus telah saya lewati saat tiba-tiba kepala saya sakit, berdenyut. Kulepaskan tali ransel sebelah kanan, ransel kuhela ke depan, merogoh ke dalamnya. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, stok obat sakit kepala saya masih ada walau hanya tinggal satu pil.
Saya membuka kemasannya, mematahkannya menjadi dua. Sayang, patahannya tak tepat di gentingan tengah. Satu patahan, utuh tiga perempatnya. Seperempatnya lain hancur menjadi tepung, tak berwujud.
Karena hanya ingin minum separuh dosis, dengan mengandalkan kuku jempol, saya mencoba mengorek pil itu hingga tinggal separuh benar. Terakhir pil yang tinggal setengah itu pun patah dua. Tak peduli, saya minum saja.
Saya meneruskan perjalanan ke perhentian bus di depan kampus. Sampai di sana, tak seberapa lama maka bus pun datang. Saya naik, duduk manis, menyetel arah angin AC, mengeluarkan notepad, dan membaca buku. Entah berapa menit lamanya, rasanya tak lama sudah sampai saja di Kaohsiung Main Station.
Saat turun dari bus, masih belum tetap pendirian saya akan ke warung mana saya menuju. Akhirnya, setelah sel otakku melakukan rapat kilat, pilihan jatuh pada warung Indonesia Bu Sari yang ada di sebelah barat stasiun. Saya bergegas ke sana. Cuma beberapa tarikan napas maka saya sampai di depan warung itu. Ternyata tutup. Tak mengapa. Masih banyak warung lain.
Warung Lestari adalah pilihan selanjutnya. Tutup juga? Enak saja! Buka, dong. Di situ saya memesan mi ayam yang enaknya sungguh membikin lupa mertua itu. Sementara menunggu mi itu selesai dibuat, saya membaca buku lagi sampai mi itu terhidang mantap di hadapan saya.
Tak butuh waktu lama, saya selesai menandaskannya. Habis bersih. Seandainya peradaban kita menurunkan standar kebersihannya sedikit saja, sungguh mangkuk mi sisa makan saya itu tak perlu dicuci lagi. Sangking begitu bersihnya.
Saya memanggil Mbak Lestari, minta dibuatkan nasi goreng plus mata sapi untuk makan malam. “Dibungkus, ya, Mbak,” teriak saya dan segera di-oke-kan olehnya.
Sungguh tak lama nasi goreng itu terhidang cantik di depan saya dalam sebuah piring lonjong putih susu. Saya melihatnya, protes, “Mbak, saya pesannya dibungkus, lo.” Maka dibungkuslah nasi goreng itu. Tanpa debat.
Saya bergegas pulang setelah membayar, 200 NTD. Namun, belum genap sepuluh langkah meninggalkan pintu warung, saya balik lagi. “Mbak, jual obat sakit kepala, tidak?” teriak saya di muka pintu.
“Eh, tunggu, saya lihat dulu,” jawabnya sambil berjalan menuju meja kasir. Saya ikut melihat ke dalam bungkusan yang dikeluarkan dari lacinya. Syukur, ada. Malah banyak. Saya minta satu bungkus saja, berisi lima tablet, 50 NTD harganya. Eh, penasaran, ya? Nama obat sakit kepala itu adalah Paramex.
__________
Hasyiah:
Mengaco belo adalah berkata-kata tidak keruan; meracau.
Monday, April 3, 2017
Dr. Zakir Naik dan Bahasa Inggris Kita
Saya tak tahu persis berapa persen penduduk Indonesia yang bisa berbahasa Inggris dengan sempurna. Artinya, bisa berbicara, mengerti ketika mendengar, dan juga lihai dalam menulis serta membaca. Tapi saya yakin itu tidaklah banyak. Dan mungkin saya termasuk di dalamnya.
Saya kalau disuruh bicara, yakin betul hampir tak ada yang tak bisa saya ungkapkan dalam bahasa Inggris. Begitu banyak sudah kosakata yang saya miliki. Tapi giliran disuruh dengar ceramah, nonton film, dengar lagu, dan opera dalam bahasa Inggris, nanti dulu, saya angkat tangan.
Mendengar (listening) satu arah semacam itu terus terang saya belum mampu. Namun, kalau ada bule mengajak saya mengobrol dalam bahasa Inggris, sehari suntuk pun mampu saya layani. Bila perlu tambah semalam suntuk, tak apa-apa. Ini karena komunikasinya dua arah. Konteksnya sudah jelas. Sehingga kosakata-kosakata yang lepas dari mulut bule sudah siap saya terima.
Itu yang pertama. Yang kedua, dalam memahami bahasa Inggris (dan bahasa lain juga sama), dialek juga berpengaruh. Dr. Zakir Naik, misal kasusnya, itu orang India. Dialek Indianya, sebagaimana yang sama kita tahu, secara utuh terbawa ke dalam bahasa Inggrisnya. Ini masalah besar bagi pendengar non-India.
Bagi orang yang belum pernah berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara intens dan lama dengan orang India, maka siap-siap saja mengernyit dahi ketika mendengar mereka bicara. Akan terasa sulit dimengerti.
Ini lumrah terjadi. Karenanya, Anda tidak perlu sedih jika mengalaminya. Sudah belajar bahasa Inggris puluhan tahun, tapi mendengar ceramah Dr. Zakir Naik, kok, ya, tak paham.
Oke, baiklah, saya akui saja. Biar pada lega. Bukan hanya Anda, saya pun yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris di Taiwan ini, tak banyak yang bisa saya pahami dari ceramah Dr. Zakir Naik. Oleh karena itu, tak perlulah bersedih hati. Anda tidak sendiri. Ada saya di sini. Karena memahami bahasa Inggris satu arah itu memang sulit.
Terkait bahasa Inggris dialek India, untuk diketahui, bahwa teman saya yang asli Taiwan dan Vietnam ternyata juga kesulitan memahaminya. Di Taiwan ini juga lumayan banyak pendatang dari India baik sebagai pekerja maupun mahasiswa.
Ada sebuah cerita, ini saya dengar dari teman Aceh yang juga sedang sekolah di Taiwan. Suatu hari seorang pemuda India berbelanja di sebuah minimarket di Taiwan. Dia belum bisa berbahasa Mandarin. Maka dengan bahasa Inggrislah ia berbicara dengan pelayan minimarket itu.
Alih-alih dimengerti, pelayan malah bingung, tidak paham apa yang diutarakannya. Kampretnya, pelayan itu malah minta ke pemuda India itu untuk berbahasa Inggris. Nah, loh, kan, ia sudah berbahasa Inggris? Pemuda India ini gusar. Dia sudah berbahasa Inggris, tapi masih saja pelayan bertuah itu bilang bahwa ia berbicara bahasa India.
Itu sebuah kasus dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Aceh, saya juga punya cerita. Dulu, tahun 1999, saya pergi ke Banda Aceh untuk ikut Sipenmaru (sekarang SPMB) di Unsyiah. Ini adalah kali pertama saya ke Banda Aceh. Saya numpang di rumah kost kakak teman saya di bilangan Darussalam. Suatu malam saya diajak main jalan kaki oleh seorang pemuda asli Banda Aceh.
Ia sangat fokal. Berbicara terus sepanjang jalan. Saya harus menunggu ia batuk, tersedak, atau bersin baru sempat bicara. Saya orang Pase (kawasan Aceh Utara dan Aceh Jeumpa sekarang). Sementara pemuda itu berbicara dengan dialek Banda Aceh. Mau tahu nasib saya saat itu? Tak ada bedanya dengan pelayan minimarket tadi yang kerepotan memahami bahasa Inggris pemuda India. Tak mengerti.
Satu cerita lagi. Antara tahun 2003-2005, saat saya sedang bersekolah master di UGM Jogjakarta, saya pernah mengajak teman melancong ke kota Berhati Nyaman itu. Bagi teman saya itu, adalah kali pertama ia ke Jogjakarta, dan kali pertama pula ia mendengar langsung penutur asli bahasa Jawa.
Suatu malam saya ajak ia ke angkringan di bilangan Jetisharjo untuk minum teh dan makan gorengan. Tempatnya hanya sepelemparan batu dari rumah kost saya. Sampai di sana, karena saya sudah kenal dengan pemilik angkringan, mengobrollah saya dengan Si Mbak angkringan. Tentunya dengan bahasa Indonesia, tidak dengan bahasa Jawa sebagaimana biasanya. Karena saya berharap agar teman saya itu mengerti apa yang kami bicarakan.
Namun sayang, saat kami beranjak pulang ke rumah kost, saya tanya pada teman saya itu, “Kamu paham apa yang kami bicarakan tadi?” Ia menggeleng. ”Tidak banyak yang kupahami. Paling separuhnya.”
Duh, padahal saya dan Si Mbak menggunakan bahasa Indonesia, loh. Akhirnya saya sadar. Si Mbak itu adalah penutur asli bahasa Jawa. Bukan rakitan seperti saya. Namun, karena saya sudah bisa berbahasa Jawa, bahasa Indonesia yang kami bawakan sudah sangat berdialek Jawa, dan lagi cepat. Alhasil, teman saya ternyata hanya separuh bisa menangkapnya.
Syahdan, dari tiga kisah di atas, memberi pelajaran bahwa sebuah bahasa yang dilantunkan dengan dialek yang berbeda, akan sulit dipahami oleh orang yang tidak menggunakan dialek tersebut. Anda belajar bahasa Inggris di Indonesia sampai karatan dan bisa bicara cas-cis-cus dengan sesama orang Indonesia, tapi jarang melatih untuk mendengar logat orang Inggris atau Amerika asli, siap-siap bengong saat tiba-tiba mendengar mereka bicara.
Begitu juga jika belum pernah mendengar orang India berbahasa Inggris. Sekali dengar, dijamin langsung bingung. Begitu juga saat mendengar orang Vietnam dan Taiwan berbahasa Inggris. Orang Vietnam sulit mengucapkan huruf “s” mati. Sedangkan orang Taiwan tidak bisa mengucapkan huruf “d”.
Kali ini saya buka rahasia saja. Biar pada tambah lega lagi. Di bulan-bulan pertama saya kuliah di Taiwan, saat mau bertemu Professor, saya mendadak stres. Perkaranya, saya takut karena kerap tak tahu apa yang dibicarakannya. Padahal ia telah berbicara bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang jangan tanya, dengan melihat gerak mulutnya saja, tak usah banyak dengar, saya langsung mengerti apa maksudnya.
Professor saya orang Taiwan asli. Orangnya baik sekali. Sayang sama murid-muridnya setiap hari. Ia adalah lulusan Amerika di University of Cincinnati. Kemampuannya akan bahasa Inggris tentu tak perlu diragukan lagi. Tapi soal dialek, nanti dulu, kali. Tak pernah dibuangnya sampaikan nanti. Tentunya sama dengan saya, berbahasa Inggris tetap dengan dialek Aceh wilayah Pase sejati.
Saya kalau disuruh bicara, yakin betul hampir tak ada yang tak bisa saya ungkapkan dalam bahasa Inggris. Begitu banyak sudah kosakata yang saya miliki. Tapi giliran disuruh dengar ceramah, nonton film, dengar lagu, dan opera dalam bahasa Inggris, nanti dulu, saya angkat tangan.
Mendengar (listening) satu arah semacam itu terus terang saya belum mampu. Namun, kalau ada bule mengajak saya mengobrol dalam bahasa Inggris, sehari suntuk pun mampu saya layani. Bila perlu tambah semalam suntuk, tak apa-apa. Ini karena komunikasinya dua arah. Konteksnya sudah jelas. Sehingga kosakata-kosakata yang lepas dari mulut bule sudah siap saya terima.
Itu yang pertama. Yang kedua, dalam memahami bahasa Inggris (dan bahasa lain juga sama), dialek juga berpengaruh. Dr. Zakir Naik, misal kasusnya, itu orang India. Dialek Indianya, sebagaimana yang sama kita tahu, secara utuh terbawa ke dalam bahasa Inggrisnya. Ini masalah besar bagi pendengar non-India.
Bagi orang yang belum pernah berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara intens dan lama dengan orang India, maka siap-siap saja mengernyit dahi ketika mendengar mereka bicara. Akan terasa sulit dimengerti.
Ini lumrah terjadi. Karenanya, Anda tidak perlu sedih jika mengalaminya. Sudah belajar bahasa Inggris puluhan tahun, tapi mendengar ceramah Dr. Zakir Naik, kok, ya, tak paham.
Oke, baiklah, saya akui saja. Biar pada lega. Bukan hanya Anda, saya pun yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris di Taiwan ini, tak banyak yang bisa saya pahami dari ceramah Dr. Zakir Naik. Oleh karena itu, tak perlulah bersedih hati. Anda tidak sendiri. Ada saya di sini. Karena memahami bahasa Inggris satu arah itu memang sulit.
Terkait bahasa Inggris dialek India, untuk diketahui, bahwa teman saya yang asli Taiwan dan Vietnam ternyata juga kesulitan memahaminya. Di Taiwan ini juga lumayan banyak pendatang dari India baik sebagai pekerja maupun mahasiswa.
Ada sebuah cerita, ini saya dengar dari teman Aceh yang juga sedang sekolah di Taiwan. Suatu hari seorang pemuda India berbelanja di sebuah minimarket di Taiwan. Dia belum bisa berbahasa Mandarin. Maka dengan bahasa Inggrislah ia berbicara dengan pelayan minimarket itu.
Alih-alih dimengerti, pelayan malah bingung, tidak paham apa yang diutarakannya. Kampretnya, pelayan itu malah minta ke pemuda India itu untuk berbahasa Inggris. Nah, loh, kan, ia sudah berbahasa Inggris? Pemuda India ini gusar. Dia sudah berbahasa Inggris, tapi masih saja pelayan bertuah itu bilang bahwa ia berbicara bahasa India.
Itu sebuah kasus dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Aceh, saya juga punya cerita. Dulu, tahun 1999, saya pergi ke Banda Aceh untuk ikut Sipenmaru (sekarang SPMB) di Unsyiah. Ini adalah kali pertama saya ke Banda Aceh. Saya numpang di rumah kost kakak teman saya di bilangan Darussalam. Suatu malam saya diajak main jalan kaki oleh seorang pemuda asli Banda Aceh.
Ia sangat fokal. Berbicara terus sepanjang jalan. Saya harus menunggu ia batuk, tersedak, atau bersin baru sempat bicara. Saya orang Pase (kawasan Aceh Utara dan Aceh Jeumpa sekarang). Sementara pemuda itu berbicara dengan dialek Banda Aceh. Mau tahu nasib saya saat itu? Tak ada bedanya dengan pelayan minimarket tadi yang kerepotan memahami bahasa Inggris pemuda India. Tak mengerti.
Satu cerita lagi. Antara tahun 2003-2005, saat saya sedang bersekolah master di UGM Jogjakarta, saya pernah mengajak teman melancong ke kota Berhati Nyaman itu. Bagi teman saya itu, adalah kali pertama ia ke Jogjakarta, dan kali pertama pula ia mendengar langsung penutur asli bahasa Jawa.
Suatu malam saya ajak ia ke angkringan di bilangan Jetisharjo untuk minum teh dan makan gorengan. Tempatnya hanya sepelemparan batu dari rumah kost saya. Sampai di sana, karena saya sudah kenal dengan pemilik angkringan, mengobrollah saya dengan Si Mbak angkringan. Tentunya dengan bahasa Indonesia, tidak dengan bahasa Jawa sebagaimana biasanya. Karena saya berharap agar teman saya itu mengerti apa yang kami bicarakan.
Namun sayang, saat kami beranjak pulang ke rumah kost, saya tanya pada teman saya itu, “Kamu paham apa yang kami bicarakan tadi?” Ia menggeleng. ”Tidak banyak yang kupahami. Paling separuhnya.”
Duh, padahal saya dan Si Mbak menggunakan bahasa Indonesia, loh. Akhirnya saya sadar. Si Mbak itu adalah penutur asli bahasa Jawa. Bukan rakitan seperti saya. Namun, karena saya sudah bisa berbahasa Jawa, bahasa Indonesia yang kami bawakan sudah sangat berdialek Jawa, dan lagi cepat. Alhasil, teman saya ternyata hanya separuh bisa menangkapnya.
Syahdan, dari tiga kisah di atas, memberi pelajaran bahwa sebuah bahasa yang dilantunkan dengan dialek yang berbeda, akan sulit dipahami oleh orang yang tidak menggunakan dialek tersebut. Anda belajar bahasa Inggris di Indonesia sampai karatan dan bisa bicara cas-cis-cus dengan sesama orang Indonesia, tapi jarang melatih untuk mendengar logat orang Inggris atau Amerika asli, siap-siap bengong saat tiba-tiba mendengar mereka bicara.
Begitu juga jika belum pernah mendengar orang India berbahasa Inggris. Sekali dengar, dijamin langsung bingung. Begitu juga saat mendengar orang Vietnam dan Taiwan berbahasa Inggris. Orang Vietnam sulit mengucapkan huruf “s” mati. Sedangkan orang Taiwan tidak bisa mengucapkan huruf “d”.
Kali ini saya buka rahasia saja. Biar pada tambah lega lagi. Di bulan-bulan pertama saya kuliah di Taiwan, saat mau bertemu Professor, saya mendadak stres. Perkaranya, saya takut karena kerap tak tahu apa yang dibicarakannya. Padahal ia telah berbicara bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang jangan tanya, dengan melihat gerak mulutnya saja, tak usah banyak dengar, saya langsung mengerti apa maksudnya.
Professor saya orang Taiwan asli. Orangnya baik sekali. Sayang sama murid-muridnya setiap hari. Ia adalah lulusan Amerika di University of Cincinnati. Kemampuannya akan bahasa Inggris tentu tak perlu diragukan lagi. Tapi soal dialek, nanti dulu, kali. Tak pernah dibuangnya sampaikan nanti. Tentunya sama dengan saya, berbahasa Inggris tetap dengan dialek Aceh wilayah Pase sejati.
Sunday, April 2, 2017
Saya, Istri, dan Orang Manteue
Saya ingat pada 10 Juli 2016 lalu, buat pertama kali saya berziarah ke makam raja Pase Sultan Malikussaleh di desa Beuringen, kecamatan Samudra, Aceh Utara. Ada seorang paruh baya di situ. Saya tak tahu dia siapa, tapi dari cara bicaranya tentang makam itu, yakinlah saya bahwa dia mengetahui seluk-beluk makam tersebut. Minimal menurut versi dia sendiri.
Entah apa yang memantiknya, saya lupa, sepotong kalimat “orang Aceh ini, orang multi” menyelit di antara ratusan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Penjelasan untuk itu kemudian dilanjutkannya, bahwa orang Aceh ini tidak memiliki ciri-ciri khusus karena sudah bercampur dengan berbagai macam suku bangsa. Inilah maksud multi baginya. Bercampur.
Benar juga kata bapak itu. Saya melihat wajah saya sendiri. Sebagian teman bilang saya mirip Arab, dan ada juga yang bilang wajah saya seperti India. Kulit saya coklat. Hidung saya besar. Dan kalau terpaksa harus, maka bolehlah dikatakan mancung. Dulu, gigi saya juga mancung, dan lagi acak-acakan sebelum ditarik pakai behel. Sekarang, jangan tanya, ganteng maksimal, setelah berevolusi sana-sini.
Nah, sekarang kita lihat istri saya. Sepertinya, dari pengamatan saya, mulai dari saat ngintip diam-diam di warung pecal desa Kuta saat dia berangkat sekolah ke SMA Matangkuli, sampai saat sudah menjadi istri dan punya anak dua, istri saya mirip artis Korea. Matanya agak coklat cum bersih. Rambutnya pirang lurus. Kalau tergerai maka tercapailah bahu. Kulitnya putih tapi agak berwarna coklat muda. Mukanya bulat tapi tetap memberi kesan lonjong, lebih-lebih disekitar dagunya. Dari wajahnya, mirip artis Korea. Dari Rambut pirangnya, Eropa.
Dari bentuk tubuh, rambut, warna kulit, dan wajah kami, maka bisa saya simpulkan bahwa darah multi yang mengalir ke tubuh kami benar-benar dari kelompok suku-suku bangsa yang berbeda. Namun, di antara sekian banyak etnis yang menyusun tubuh kami, saya curiga, kelihatannya ada aliran etnis tertentu yang mengalir ke tubuhnya dan juga mengalir ke tubuh saya. Saya tak tahu itu etnis apa. Tapi ciri-cirinya sungguh jelas bagi saya: makannya banyak. Karena kami berdua benar-banar si jago makan. Dan selalu saling mendukung dalam urusan makan.
Apakah itu suku Manteue? Yang kemunculannya di pedalaman Aceh membuat heboh sejagat maya? Saya menarik napas panjang, menggeleng. Sayang, dari buku-buku yang pernah saya baca, di antara sederet ciri-ciri orang Manteue, tak satupun dinyatakan bahwa suku Mateue suka makan banyak.
Entah apa yang memantiknya, saya lupa, sepotong kalimat “orang Aceh ini, orang multi” menyelit di antara ratusan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Penjelasan untuk itu kemudian dilanjutkannya, bahwa orang Aceh ini tidak memiliki ciri-ciri khusus karena sudah bercampur dengan berbagai macam suku bangsa. Inilah maksud multi baginya. Bercampur.
Benar juga kata bapak itu. Saya melihat wajah saya sendiri. Sebagian teman bilang saya mirip Arab, dan ada juga yang bilang wajah saya seperti India. Kulit saya coklat. Hidung saya besar. Dan kalau terpaksa harus, maka bolehlah dikatakan mancung. Dulu, gigi saya juga mancung, dan lagi acak-acakan sebelum ditarik pakai behel. Sekarang, jangan tanya, ganteng maksimal, setelah berevolusi sana-sini.
Nah, sekarang kita lihat istri saya. Sepertinya, dari pengamatan saya, mulai dari saat ngintip diam-diam di warung pecal desa Kuta saat dia berangkat sekolah ke SMA Matangkuli, sampai saat sudah menjadi istri dan punya anak dua, istri saya mirip artis Korea. Matanya agak coklat cum bersih. Rambutnya pirang lurus. Kalau tergerai maka tercapailah bahu. Kulitnya putih tapi agak berwarna coklat muda. Mukanya bulat tapi tetap memberi kesan lonjong, lebih-lebih disekitar dagunya. Dari wajahnya, mirip artis Korea. Dari Rambut pirangnya, Eropa.
Dari bentuk tubuh, rambut, warna kulit, dan wajah kami, maka bisa saya simpulkan bahwa darah multi yang mengalir ke tubuh kami benar-benar dari kelompok suku-suku bangsa yang berbeda. Namun, di antara sekian banyak etnis yang menyusun tubuh kami, saya curiga, kelihatannya ada aliran etnis tertentu yang mengalir ke tubuhnya dan juga mengalir ke tubuh saya. Saya tak tahu itu etnis apa. Tapi ciri-cirinya sungguh jelas bagi saya: makannya banyak. Karena kami berdua benar-banar si jago makan. Dan selalu saling mendukung dalam urusan makan.
Apakah itu suku Manteue? Yang kemunculannya di pedalaman Aceh membuat heboh sejagat maya? Saya menarik napas panjang, menggeleng. Sayang, dari buku-buku yang pernah saya baca, di antara sederet ciri-ciri orang Manteue, tak satupun dinyatakan bahwa suku Mateue suka makan banyak.
Saturday, March 4, 2017
Upil di Acara Melawan Lupa MetroTV
Terkait acara Melawan Lupa di MetroTV (28 Februari 2017) yang menampakkan saya barusan, ada yang bilang, "Cuma sebentar munculnya." Karena gambar saya hanya ditayangkan sekali.
Begini, Bro, Sis. Dibandingkan orang-orang yang diwawancarai itu, saya ini hanya upil. Jadi, didatangi wartawan dan terlihat saja sekilas di tv nasional, itu sudah cukup mending.
Sekarang coba lihat mereka. Ampon Rusli, itu cucunya Cut Nyak Meutia. Kak Dara, cicitnya, yang sekaligus mantan jurnalis Kompas. Bapak Rusdi Sufi, lebih gawat lagi, professor sejarah di Unsyiah! Pak Fachri Ali, tokoh Aceh di Jakarta yang hampir tidak ada orang yang tak mengenalnya. Lha, saya? Siapa, coba?
Jadi, sudah sewajarnya dalam acara yang cukup singkat itu saya hanya diberi satu plot saja. Laksana perahu yang kebetulan harus parkir di antara kapal-kapal besar. Kebetulan perahu itu tiba-tiba begitu penting untuk diparkir di situ. Namun, sekalipun penting, tempatnya tetap kecil, karena sekali lagi, cuma perahu dalam hal ini.
Begini, Bro, Sis. Dibandingkan orang-orang yang diwawancarai itu, saya ini hanya upil. Jadi, didatangi wartawan dan terlihat saja sekilas di tv nasional, itu sudah cukup mending.
Sekarang coba lihat mereka. Ampon Rusli, itu cucunya Cut Nyak Meutia. Kak Dara, cicitnya, yang sekaligus mantan jurnalis Kompas. Bapak Rusdi Sufi, lebih gawat lagi, professor sejarah di Unsyiah! Pak Fachri Ali, tokoh Aceh di Jakarta yang hampir tidak ada orang yang tak mengenalnya. Lha, saya? Siapa, coba?
Jadi, sudah sewajarnya dalam acara yang cukup singkat itu saya hanya diberi satu plot saja. Laksana perahu yang kebetulan harus parkir di antara kapal-kapal besar. Kebetulan perahu itu tiba-tiba begitu penting untuk diparkir di situ. Namun, sekalipun penting, tempatnya tetap kecil, karena sekali lagi, cuma perahu dalam hal ini.
Konsumen Sabar
Saya mungkin termasuk orang yang paling sabar sebagai konsumen. Jarang sekali marah-marah jika merasa terzalimi oleh pedagang. Beli baju, begitu sampai di rumah ternyata ada bagian yang sobek. Itu kemungkinan besar saya tidak akan mengembalikannya lagi. Pasrah saja. Menganggap saja Itu sebagai nasib.
Enak sekali pedagang jika punya pelanggan seperti saya, bukan? Iya pasti, lah. Bukan hanya itu. Saya juga paling malas menawar harga barang. Maka jadilah orang-orang seperti saya ini menjadi lahan empuk pedagang nakal.
Tak jarang pula saat saya membeli sesuatu, begitu sampai di rumah, pasti dibilang kemahalan oleh keluarga dan juga kadang oleh teman. Saya kena tipu, katanya. Karenanya, jika saya telah membeli, jarang saya beritahu berapa harganya.
Kalau dituduh kemahalan dan ketipu, paling saya akan menjawab secara ringan saja, "Bukan ketipu, kemahalan dikit, kan, nggak apa-apa. Yang ketipu itu kalau beli baju, begitu sampai di rumah, buka, isinya kerupuk. Nah, itu baru ketipu." Begitu.
Eh, pernah, tidak, manteman mengalami hal seperti ini: perbaiki sepeda motor di bengkel, pas si tukang lagi ngutak-ngatik mesin tiba-tiba ada bagian mesin yang terlepas kemudian loncat entah kemana. Nyari sana-sani nggak dapat. Terus si tukangnya bilang, "Nggak apa-apa bagian itu hilang. Nggak ada pengaruhnya."?
Nggak ada pengaruhnya? Songong, kan, ini tukang? Saya sebagai orang yang menggeluti ilmu perancangan mesin sampai detik ini, benar-benar pengin nyobek-nyobek mulutnya.
Mana ada seorang perancang iseng naruh sesuatu di mesin jika itu tidak ada manfaatnya? Perancang itu bukan orang kurang kerjaan, lo, Kang. Tukang. Jangan karena kamu tidak tahu fungsinya terus lo bilang tak ada pengaruhnya.
Tapi, lagi-lagi saya bersabar. Tidak berdebat. Menarik napas panjang. Dalam. Enak sekali memang jika punya konsumen seperti saya. Konsumen yang songong, eh salah, sabar!
Enak sekali pedagang jika punya pelanggan seperti saya, bukan? Iya pasti, lah. Bukan hanya itu. Saya juga paling malas menawar harga barang. Maka jadilah orang-orang seperti saya ini menjadi lahan empuk pedagang nakal.
Tak jarang pula saat saya membeli sesuatu, begitu sampai di rumah, pasti dibilang kemahalan oleh keluarga dan juga kadang oleh teman. Saya kena tipu, katanya. Karenanya, jika saya telah membeli, jarang saya beritahu berapa harganya.
Kalau dituduh kemahalan dan ketipu, paling saya akan menjawab secara ringan saja, "Bukan ketipu, kemahalan dikit, kan, nggak apa-apa. Yang ketipu itu kalau beli baju, begitu sampai di rumah, buka, isinya kerupuk. Nah, itu baru ketipu." Begitu.
Eh, pernah, tidak, manteman mengalami hal seperti ini: perbaiki sepeda motor di bengkel, pas si tukang lagi ngutak-ngatik mesin tiba-tiba ada bagian mesin yang terlepas kemudian loncat entah kemana. Nyari sana-sani nggak dapat. Terus si tukangnya bilang, "Nggak apa-apa bagian itu hilang. Nggak ada pengaruhnya."?
Nggak ada pengaruhnya? Songong, kan, ini tukang? Saya sebagai orang yang menggeluti ilmu perancangan mesin sampai detik ini, benar-benar pengin nyobek-nyobek mulutnya.
Mana ada seorang perancang iseng naruh sesuatu di mesin jika itu tidak ada manfaatnya? Perancang itu bukan orang kurang kerjaan, lo, Kang. Tukang. Jangan karena kamu tidak tahu fungsinya terus lo bilang tak ada pengaruhnya.
Tapi, lagi-lagi saya bersabar. Tidak berdebat. Menarik napas panjang. Dalam. Enak sekali memang jika punya konsumen seperti saya. Konsumen yang songong, eh salah, sabar!
Tuesday, January 31, 2017
Sapaan Bunda di Aceh
Bunda adalah kependekan dari ibunda, yang seharusnya digunakan sebagai sapaan hormat untuk ibu. Namun, dalam dasawarsa terakhir ini di Blangjruen, Aceh Utara, tempat saya dilahirkan, penggunaannya menjadi melenceng. Bunda lebih ditujukan untuk menyapa istri dari paman, yang seyogianya dalam bahasa Aceh disapa dengan mak cek (mak cik) dan ma bit (mak kecil).
Entah siapa yang memulai, sapaan bunda membanjiri daerah saya dengan penggunaannya yang lumayan keliru itu. Tak terkecuali, keluarga saya juga terseret ke dalam arus itu. Di sini bunda-di sana bunda. Di mana-mana terdengar bunda.
Dulu ketika saya mengusulkan agar kemenakan saya memanggil istri saya sebagai ma bit atau mak cek, saya kalah pendukung. Termasuk istri saya mungkin tidak mau dipanggil ma bit atau mak cek. Akhirnya, istri saya juga dipanggil bunda oleh mereka.
Sekarang malah lebih unik lagi, sapaan bunda yang sudah terlanjur keren untuk sapaan istri paman, istri uak pun mau dipanggil dengan sapaan bunda. Alasannya cukup sederhana, kedengaran tua sekali kalau dipanggil mawa (mak ua). Karenanya, dipanggil bunda lagi.
Menurut pengamatan saya, perkara sapaan khas Aceh yang mulai ditinggalkan bukan karena kedengaran tua atau tidaknya, tapi memang kita orang Aceh ini lumayan lama dulu menganggap bahasa Aceh sebagai bahasa kampungan. Ini sama gobloknya saat dulu kita menerima tuduhan Belanda bahwa nenek kita buta huruf.
Mana ada orang Aceh yang buta huruf. Jauh sebelum Belanda datang, nenek kita sudah mengenal tulis-baca dengan aksara Arab dan Arab Jawi. Namun, ketika kita tidak menggunakan huruf latin yang mereka pakai, kita malah dianggap buta huruf. Yang buta itu mata mereka!
Terkait masa suram penggunaan bahasa Aceh, masih ingat tahun 80-an? Saya masih. Ketika kecil dulu pada suatu hari saya datang di kota Lhokseumawe, saya kesulitan membeli es krim karena belum bisa berbahasa Indonesia. Bayangkan, untuk membeli es krim saja bahasa Aceh sudah tak level lagi kala itu. Maka kiaskan saja untuk hal-hal lain ke atasnya.
Ini bukan artinya saya anti-bahasa Indonesia. Bukan itu maksud saya.Tapi mengagungkan suatu bahasa sampai-sampai menganggap rendah bahasa lain, itu yang saya lawan.
Untuk diketahui, kerajaan Aceh baru mulai goyang pada tahun 1873 ketika Belanda menyerang kerajaan Aceh yang entah apa maksud dan tujuannya. Mungkin sebab gatal saja tangan mereka untuk berperang, sehingga orang Aceh melayani keisengan mereka dengan berperang mati-matian sampai 1919 dan dilanjutkan lagi pada 1942. Jadi, sebelum 1874, kerajaan Aceh masih sebuah negara berdaulat. Bahkan, kemerdekaan Belanda pun salah satunya kerajaan Acehlah yang mengakuinya.
Lama dari tahun 1874 sampai sekarang, dalam rentang waktu sejarah, tak berlebihan jika saya bilang bahwa kerajaan Aceh baru kemarin sore runtuh. Jadi, jangan berlagak bego menjadi orang Aceh dengan menganggap bahasanya sendiri sebagai kampungan.
Tapi santai, sekarang kita bisa lumayan tenang tentang hal itu. Bahasa Aceh sudah mulai marak lagi digunakan di kantor-kantor resmi pelayanan publik sekalipun. Orang-orang tua sekarang tak perlu takut berbahasa Aceh dengan dokter dan petugas di rumah sakit.
Namun, sisa-sisa zaman kegelapan penggunaan bahasa Aceh masih juga bisa didapati sampai sekarang. Termasuk di dalamnya, keengganan menggunakan sapaan khas Aceh seperti ma bit, ma wa, mak cek, abu wa (uak laki-laki), ayah bit (paman), dan lain sebagainya.
Entah kapan sapaan-sapaan khas Aceh itu diminati lagi dan kita bisa mengembalikan sapaan bunda pada tempatnya yang benar, yaitu sapaan hormat untuk ibu, bukan untuk mahluk Tuhan yang lain.
__________
Hasyiah:
Dasawarsa adalah masa sepuluh tahun.
Entah siapa yang memulai, sapaan bunda membanjiri daerah saya dengan penggunaannya yang lumayan keliru itu. Tak terkecuali, keluarga saya juga terseret ke dalam arus itu. Di sini bunda-di sana bunda. Di mana-mana terdengar bunda.
Dulu ketika saya mengusulkan agar kemenakan saya memanggil istri saya sebagai ma bit atau mak cek, saya kalah pendukung. Termasuk istri saya mungkin tidak mau dipanggil ma bit atau mak cek. Akhirnya, istri saya juga dipanggil bunda oleh mereka.
Sekarang malah lebih unik lagi, sapaan bunda yang sudah terlanjur keren untuk sapaan istri paman, istri uak pun mau dipanggil dengan sapaan bunda. Alasannya cukup sederhana, kedengaran tua sekali kalau dipanggil mawa (mak ua). Karenanya, dipanggil bunda lagi.
Menurut pengamatan saya, perkara sapaan khas Aceh yang mulai ditinggalkan bukan karena kedengaran tua atau tidaknya, tapi memang kita orang Aceh ini lumayan lama dulu menganggap bahasa Aceh sebagai bahasa kampungan. Ini sama gobloknya saat dulu kita menerima tuduhan Belanda bahwa nenek kita buta huruf.
Mana ada orang Aceh yang buta huruf. Jauh sebelum Belanda datang, nenek kita sudah mengenal tulis-baca dengan aksara Arab dan Arab Jawi. Namun, ketika kita tidak menggunakan huruf latin yang mereka pakai, kita malah dianggap buta huruf. Yang buta itu mata mereka!
Terkait masa suram penggunaan bahasa Aceh, masih ingat tahun 80-an? Saya masih. Ketika kecil dulu pada suatu hari saya datang di kota Lhokseumawe, saya kesulitan membeli es krim karena belum bisa berbahasa Indonesia. Bayangkan, untuk membeli es krim saja bahasa Aceh sudah tak level lagi kala itu. Maka kiaskan saja untuk hal-hal lain ke atasnya.
Ini bukan artinya saya anti-bahasa Indonesia. Bukan itu maksud saya.Tapi mengagungkan suatu bahasa sampai-sampai menganggap rendah bahasa lain, itu yang saya lawan.
Untuk diketahui, kerajaan Aceh baru mulai goyang pada tahun 1873 ketika Belanda menyerang kerajaan Aceh yang entah apa maksud dan tujuannya. Mungkin sebab gatal saja tangan mereka untuk berperang, sehingga orang Aceh melayani keisengan mereka dengan berperang mati-matian sampai 1919 dan dilanjutkan lagi pada 1942. Jadi, sebelum 1874, kerajaan Aceh masih sebuah negara berdaulat. Bahkan, kemerdekaan Belanda pun salah satunya kerajaan Acehlah yang mengakuinya.
Lama dari tahun 1874 sampai sekarang, dalam rentang waktu sejarah, tak berlebihan jika saya bilang bahwa kerajaan Aceh baru kemarin sore runtuh. Jadi, jangan berlagak bego menjadi orang Aceh dengan menganggap bahasanya sendiri sebagai kampungan.
Tapi santai, sekarang kita bisa lumayan tenang tentang hal itu. Bahasa Aceh sudah mulai marak lagi digunakan di kantor-kantor resmi pelayanan publik sekalipun. Orang-orang tua sekarang tak perlu takut berbahasa Aceh dengan dokter dan petugas di rumah sakit.
Namun, sisa-sisa zaman kegelapan penggunaan bahasa Aceh masih juga bisa didapati sampai sekarang. Termasuk di dalamnya, keengganan menggunakan sapaan khas Aceh seperti ma bit, ma wa, mak cek, abu wa (uak laki-laki), ayah bit (paman), dan lain sebagainya.
Entah kapan sapaan-sapaan khas Aceh itu diminati lagi dan kita bisa mengembalikan sapaan bunda pada tempatnya yang benar, yaitu sapaan hormat untuk ibu, bukan untuk mahluk Tuhan yang lain.
__________
Hasyiah:
Dasawarsa adalah masa sepuluh tahun.
Thursday, January 12, 2017
Visi dan Misi, Apa Itu?
Terus terang saya baru tahu apa itu "visi" dan apa pula itu "misi", barusan. Benar, baru saja saya tahu! Entah mengapa, saya tak begitu peduli dengan dua kata ini. Padahal, hampir tiap hari saya dengar dua kata ini, lebih-lebih di saat masa kampanye seperti sekarang ini.
Lihat, Tolan, ini sebagai bukti bahwa saya sangat cuek orangnya. Tapi, oke, lah. Bagi yang sekufu dengan saya perkara makna visi dan misi ini, jangan cemas, Anda tidak sendiri, ada saya di sini.
Namun, karena saya sudah tahu, walaupun telat, ada baiknya saya bagikan saja makna dua kata ini, visi dan misi. Silakan.
Visi adalah gambaran tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Misalnya, "Saya mau Aceh kelak menjadi provinsi terkaya di Indonesia", ini namanya visi.
Sedangkan misi, adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai visi (tujuan) itu. Untuk contoh visi di atas, maka misal misi mungkin bisa seperti ini, "Saya mendirikan pabrik-pabrik di Aceh." Nah, ini misi namanya.
Terus, yang ada pada mesin sepeda motor itu apa? Itu busi!
Lihat, Tolan, ini sebagai bukti bahwa saya sangat cuek orangnya. Tapi, oke, lah. Bagi yang sekufu dengan saya perkara makna visi dan misi ini, jangan cemas, Anda tidak sendiri, ada saya di sini.
Namun, karena saya sudah tahu, walaupun telat, ada baiknya saya bagikan saja makna dua kata ini, visi dan misi. Silakan.
Visi adalah gambaran tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Misalnya, "Saya mau Aceh kelak menjadi provinsi terkaya di Indonesia", ini namanya visi.
Sedangkan misi, adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai visi (tujuan) itu. Untuk contoh visi di atas, maka misal misi mungkin bisa seperti ini, "Saya mendirikan pabrik-pabrik di Aceh." Nah, ini misi namanya.
Terus, yang ada pada mesin sepeda motor itu apa? Itu busi!
Saturday, January 7, 2017
Kurir Tahi Kucing
Pukul tiga sore, di perhentian bus depan kampus saya, NKUAS, duduk di sebuah bangku panjang berjejer dua anak SMA Taiwan. Yang satu badannya gemuk berkulit putih. Yang satunya lagi kurus ceking, juga berkulit putih.
Saya baru saja sampai di situ, juga ingin menunggu bus. Saya menebar senyum kepada dua anak itu, kemudian duduk di samping mereka, di paling ujung. Sejenak kemudian saya melihat gelagat aneh pada anak muda yang duduk di samping saya. Dia berkali-kali melihat ke bawah sol sepatunya.
Pertama ia melihat sol sepatunya yang kiri, saya juga ikut melirik. Aman, tidak ada apa-apa yang menempel di sana. Begitu juga yang sebelah kanan, aman. Kemudian ia bilang sesuatu ke teman di sampingnya. Temannya langsung saja mengikuti jejaknya tadi; mengangkat kaki kemudian mengintip ke bawah sol sepatunya. Sama, saya juga ikut melirik. Kaki kiri, aman. Kaki kanan, juga aman. Tak ada sesuatu yang menempel di sana.
Kemudian mereka berdua menatap ke arah saya. Saya menatap mereka berdua secara bergantian. Mereka berdua kemudian saling bersitatap, kemudian salah satunya mengipas-ngipaskan tangannya di depan hidungnya. Sebagai tanda ada bau yang tak sedap.
Saya mulai curiga, jangan-jangan mereka pikir bau itu dari saya. Hidung saya yang masih disaput flu, kemudian saya paksa-awaskan. Saat itulah saya menyadari bahwa ada bau tahi kucing di sekitar kami.
Sontak saya langsung mengecek bawah sandal keren saya itu. Tak perlu disuruh-suruh. Saya melihat sandal sebelah kiri. Mereka yang duduk di samping saya ikut melihatnya. Sandal kiri aman. Sebelah kanan, juga aman. Kemudian saya melihat ke sekitar saya.
Tepat di depan kami, ada sebatang pohon kira-kira sejengkal diameternya, tingginya sekira dua meter, dan daunnya hijau bundar-bundar selebar jempol orang dewasa. Pohon ini memang sengaja tidak dibiarkan tumbuh tinggi. Pohon yang sudah besar itu terlihat buntung begitu saja di ujung-ujung cabang atasnya, dan dibiarkan hidup dengan tunas-tunas yang tumbuh mencuat dari cabang-cabangnya yang besar. Pohon ini tak ubahnya seperti bonsai.
Pohon ini ditanam di trotoar yang kiri-kanan-muka-belakangnya dikepung oleh semen. Namun, setengah jengkal dari keliling uram pohon itu, semen itu berakhir. Di situ terlihat tanah hitam, yang walaupun sempit, maka tumbuhlah rumput-rumput yang mengelilingi uram pohon itu. Sekarang, ke uram pohon itulah mata saya tertuju.
Eh, mata saya menangkap sesuatu. Ada tahi anjing di sana. Saya tahu itu tahi anjing dari bentuk konturnya. Tapi, baunya seperti tahi kucing. O, berarti bau tahi anjing sama dengan bau tahi kucing? Ilmu baru ini. Baru tahu saya, bahwa tahi anjing dan kucing serupa baunya.Terus, alasan apa mereka kalau bertemu selalu berantem? Bau tahinya saja sama.
Saya menggamit lengan anak Taiwan yang duduk di samping saya. Dia menoleh. Saya menunjuk tahi anjing itu. Dia melihatnya. Kami pun tertawa. Maka sekarang hilanglah kecurigaan di antara kami, yang tadinya cenderung saling menuduh sebagai kurir tahi kucing.
__________
Hasyiah:
Uram adalah bagian paling bawah dari pohon. Berasal dari bahasa Aceh, tapi sekarang sudah dimasukkan ke KBBI edisi ke-5. Sehingga kata "uram" ini sudah baku sebagai kosakata bahasa Indonesia.
Saya baru saja sampai di situ, juga ingin menunggu bus. Saya menebar senyum kepada dua anak itu, kemudian duduk di samping mereka, di paling ujung. Sejenak kemudian saya melihat gelagat aneh pada anak muda yang duduk di samping saya. Dia berkali-kali melihat ke bawah sol sepatunya.
Pertama ia melihat sol sepatunya yang kiri, saya juga ikut melirik. Aman, tidak ada apa-apa yang menempel di sana. Begitu juga yang sebelah kanan, aman. Kemudian ia bilang sesuatu ke teman di sampingnya. Temannya langsung saja mengikuti jejaknya tadi; mengangkat kaki kemudian mengintip ke bawah sol sepatunya. Sama, saya juga ikut melirik. Kaki kiri, aman. Kaki kanan, juga aman. Tak ada sesuatu yang menempel di sana.
Kemudian mereka berdua menatap ke arah saya. Saya menatap mereka berdua secara bergantian. Mereka berdua kemudian saling bersitatap, kemudian salah satunya mengipas-ngipaskan tangannya di depan hidungnya. Sebagai tanda ada bau yang tak sedap.
Saya mulai curiga, jangan-jangan mereka pikir bau itu dari saya. Hidung saya yang masih disaput flu, kemudian saya paksa-awaskan. Saat itulah saya menyadari bahwa ada bau tahi kucing di sekitar kami.
Sontak saya langsung mengecek bawah sandal keren saya itu. Tak perlu disuruh-suruh. Saya melihat sandal sebelah kiri. Mereka yang duduk di samping saya ikut melihatnya. Sandal kiri aman. Sebelah kanan, juga aman. Kemudian saya melihat ke sekitar saya.
Tepat di depan kami, ada sebatang pohon kira-kira sejengkal diameternya, tingginya sekira dua meter, dan daunnya hijau bundar-bundar selebar jempol orang dewasa. Pohon ini memang sengaja tidak dibiarkan tumbuh tinggi. Pohon yang sudah besar itu terlihat buntung begitu saja di ujung-ujung cabang atasnya, dan dibiarkan hidup dengan tunas-tunas yang tumbuh mencuat dari cabang-cabangnya yang besar. Pohon ini tak ubahnya seperti bonsai.
Pohon ini ditanam di trotoar yang kiri-kanan-muka-belakangnya dikepung oleh semen. Namun, setengah jengkal dari keliling uram pohon itu, semen itu berakhir. Di situ terlihat tanah hitam, yang walaupun sempit, maka tumbuhlah rumput-rumput yang mengelilingi uram pohon itu. Sekarang, ke uram pohon itulah mata saya tertuju.
Eh, mata saya menangkap sesuatu. Ada tahi anjing di sana. Saya tahu itu tahi anjing dari bentuk konturnya. Tapi, baunya seperti tahi kucing. O, berarti bau tahi anjing sama dengan bau tahi kucing? Ilmu baru ini. Baru tahu saya, bahwa tahi anjing dan kucing serupa baunya.Terus, alasan apa mereka kalau bertemu selalu berantem? Bau tahinya saja sama.
Saya menggamit lengan anak Taiwan yang duduk di samping saya. Dia menoleh. Saya menunjuk tahi anjing itu. Dia melihatnya. Kami pun tertawa. Maka sekarang hilanglah kecurigaan di antara kami, yang tadinya cenderung saling menuduh sebagai kurir tahi kucing.
__________
Hasyiah:
Uram adalah bagian paling bawah dari pohon. Berasal dari bahasa Aceh, tapi sekarang sudah dimasukkan ke KBBI edisi ke-5. Sehingga kata "uram" ini sudah baku sebagai kosakata bahasa Indonesia.
Tuesday, November 15, 2016
Perempuan dan Sepeda Motor Tua Pak Geusyik
Dulu, saat saya masih kecil, ada seorang teungku berceramah di desa Blangjruen, menyampaikan sebuah analogi untuk seorang perempuan yang kerap menjadi korban pergaulan bebas:
"....Perempuan itu persis seperti sepeda motor tua Pak Geusyik. Asal masih bisa ditunggangi, sebentar-sebentar ada saja orang kampung yang mau meminjamnya. Pak Geusyik pun tak begitu keberatan meminjamkan sepeda motor tuanya itu.
Baru saja dibawa pulang oleh yang satu, yang kedua datang dan membawanya pergi lagi. Dikembalikan oleh yang kedua, yang ketiga datang membawanya lagi. Dan begitulah seterusnya, kadang-kadang sampai malam pun masih dipakai orang.
Namun, manakala ban sepeda motor tua yang malang itu sudah bengkak dan mau meledak, maka saat itulah tidak ada lagi orang yang mau meminjamnya. Lebih celaka lagi, tak ada satu pun orang yang mau bertanggungjawab atas kerusakan sepeda motor tua itu.
Maka sekarang tinggallah Pak Geusyik sendiri menangisi sepeda motor tuanya. Menyesali kebodohannya. Merutuki rakyatnya yang tidak bertanggungjwab...."
__________
Notabene:
"....Perempuan itu persis seperti sepeda motor tua Pak Geusyik. Asal masih bisa ditunggangi, sebentar-sebentar ada saja orang kampung yang mau meminjamnya. Pak Geusyik pun tak begitu keberatan meminjamkan sepeda motor tuanya itu.
Baru saja dibawa pulang oleh yang satu, yang kedua datang dan membawanya pergi lagi. Dikembalikan oleh yang kedua, yang ketiga datang membawanya lagi. Dan begitulah seterusnya, kadang-kadang sampai malam pun masih dipakai orang.
Namun, manakala ban sepeda motor tua yang malang itu sudah bengkak dan mau meledak, maka saat itulah tidak ada lagi orang yang mau meminjamnya. Lebih celaka lagi, tak ada satu pun orang yang mau bertanggungjawab atas kerusakan sepeda motor tua itu.
Maka sekarang tinggallah Pak Geusyik sendiri menangisi sepeda motor tuanya. Menyesali kebodohannya. Merutuki rakyatnya yang tidak bertanggungjwab...."
__________
Notabene:
- Teungku adalah sebutan orang Aceh untuk ahli agama. Kalau di tanah Jawa disebut dengan Kyai.
- Pak Geusyik adalah sebutan untuk Bapak Kepala Desa di Aceh. Hierarki kepemimpinan di Aceh mulai dari bawah sampai atas adalah: Kepala Keluarga, Kepala Lorong, Ketua Dusun, Geusyik, Mukim, Camat, Bupati/Walikota, dan Gubernur. Tidak ada Ketua RT/RW dan Lurah di Aceh.
Thursday, October 27, 2016
Jadi Takut Nulis
Saya terus terang sebagai blogger jadi takut menulis dengan adanya UU ITE. Banyak sekali tulisan saya tidak saya publikasikan di blog setelah saya tulis. Kadang saya simpan saja di draf. Dan yang parah, ada yang hilang entah kemana.
Saya suka membaca tulisan-tulisan saya sendiri. Karenanya saya tak sedih sama sekali jika tulisan itu tak jadi saya publikasikan. Dan saya tak sedih pula jika pengunjung blog saya jumlahnya biasa-biasa saja. Karena akusendiri adalah pembacanya yang setia.
Saya suka membaca tulisan-tulisan saya sendiri. Karenanya saya tak sedih sama sekali jika tulisan itu tak jadi saya publikasikan. Dan saya tak sedih pula jika pengunjung blog saya jumlahnya biasa-biasa saja. Karena akusendiri adalah pembacanya yang setia.
Saya takut UU ITE ini menjadi "overkiller" yang mengakibatkan blogger baru dan lugu seperti saya ini jadi takut menulis. Atau menulis, tapi seperti terkebiri. Karena dikit-dikit, digugat. Siapa yang tak takut?
Jogja, Kota Kelahiran Keduaku
Jika saya lihat sepintas, negara-negara kerajaan itu lebih makmur dan nyaman. Betul tidak ya? Contoh kecilnya, Jogja. Walaupun hanya sebagai propinsi, warga Jogja sampai sekarang masih mempunyai Raja, Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang sekaligus bertindak sebagai Gubernur dengan cara penetapan, bukan melalui pemilihan umum.
Hidup di Jogja itu nyaman sekali. Kewibawaan Dalam Keraton masih sangat merasuk ke sumsum tulang warga Jogja. Sehingga Raja selalu diikuti segala titahnya dan dijauhi segala larangannya.
Saya ingat betul dulu ketika Dalam Keraton menginstruksikan warganya untuk memasak sayur lodeh sebagai prosesi tolak bala, maka seluruh warga Jogja, termasuk ibu kosku, memasaknya.
Sampai sekarang masih terasa bagiku bagaimana nyamannya tinggal di Jogja. Bahkan aku dulu pernah bilang, "Jogja adalah tempat kelahiranku yang kedua."
Hidup di Jogja itu nyaman sekali. Kewibawaan Dalam Keraton masih sangat merasuk ke sumsum tulang warga Jogja. Sehingga Raja selalu diikuti segala titahnya dan dijauhi segala larangannya.
Saya ingat betul dulu ketika Dalam Keraton menginstruksikan warganya untuk memasak sayur lodeh sebagai prosesi tolak bala, maka seluruh warga Jogja, termasuk ibu kosku, memasaknya.
Sampai sekarang masih terasa bagiku bagaimana nyamannya tinggal di Jogja. Bahkan aku dulu pernah bilang, "Jogja adalah tempat kelahiranku yang kedua."
Sunday, October 2, 2016
Bahasa Inggris, Seharusnya Bukan Jadi Penjara
Sedih itu ketika aku baru tahu apa yang seharusnya kulakukan ketika aku sudah letih, capek. Bayangkan, tiga tahun sudah bergelut dengan buku, baru minggu ini aku sadar apa kekuranganku selama ini.
Masih mending kalau buku yang kubaca itu berbahasa Inggris, ini kadang berbahasa Mandarin, dengan hurufnya yang keriting membingungkan itu. Tapi, karena terpaksa, buku itu tetap harus kubaca. Dan syukur pula buku teknik agak bisa dimengerti sekalipun berbahasa Mandarin karena banyak hitungan daripada tulisannya. Sekalipun demikian, tak jarang buku itu harus kugotong ke meja teman Taiwan untuk kutanyai artinya.
Aku tahu, ini hal biasa dalam dunia pendidikan. Di S2 dulu aku baru tahu apa yang harus kuketik dalam buku tesisku justru di tiga bulan terakhir. Sebelumnya, grafik dan data-data mentah yang kudapat dari penelitian kuendapkan begitu saja tanpa bisa kuapa-apakan. Tiga bulan terakhir, seolah tuts papan penjarian komputerku berasap dan mau lepas tercerabut tak tahan entakan jari telunjuk tangan kanan-kiriku yang tak henti hampir dua puluh jam perhari.
Sekarang aku S3, awalnya aku tak mau lagi seperti dulu, pikiran baru terbuka di saat-saat jatah beasiswaku mendekati ajalnya. Ingin rasanya aku melenggang santai, mengetik pelan dengan entakan jari yang lembut sampai kata terakhir selesai kutulis di disertasiku. Aku menekan tuts titik pertanda disertasiku selesai dengan senyuman penuh takzim.
Tapi alih-alih mimpi itu tercapai, aku malah baru tahu kemana langkahku harusnya berarah di saat sisa "waktuku" kurang dari dua semester lagi. Aku harus belajar dari nol lagi tentang suatu hal baru itu.
Pertanyaannya, apakah aku akan baik-baik saja di Taiwan ini? Aku sudah punya jawabannya. Aku akan baik-baik saja, Kawan. Sudah terbiasa dalam hidupku ini belajar sesuatu dari nol di saat waktuku sudah genting.
***
Di Taiwan ini, buku-buku pelajaran berbahasa Mandarin cukup banyak dan lengkap pula. Di antaranya hasil terjemahan dari buku berbahasa Inggris. Dan banyak juga buku-buku asli berbahasa Mandarin yang ditulis langsung oleh akademisi-akademisi Taiwan.
Jadi, tak bisa berbahasa Inggris, bukan kendala bagi mahasiswa Taiwan untuk dapat memperoleh ilmu selengkap mahasiswa-mahasiswa negara berbahasa Inggris peroleh. Bahkan di lab saya, ada banyak buku yang materi di dalamnya sangat kubutuhkan, tapi belum pernah ditulis dalam bahasa Inggris. Buku itu bertengger di rak buku lab saya dengan karakter Mandarinnya, gagah dan penuh percaya diri.
Aku jadi berpikir, apakah tidak sebaiknya dosen-dosen di Indonesia lebih didorong untuk menulis dalam bahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris? Seperti halnya di Taiwan ini di mana buku apa saja ada dalam bahasa Mandarin? Berapa persen, sih, mahasiswa Indonesia yang bisa berbahasa Inggris? Tak banyak, kan? Terus mau dibawa kemana mereka jika kita nantinya lebih doyan menulis dalam bahasa Inggris?
Aku saja yang tiap hari membaca buku berbahasa Inggris dan ngomong yang sudah lumayan cas-cis-cus, batal membaca jika di laptopku kamus bahasa Inggris belum menyala. Apalagi sebagian besar mahasiswa kita yang hanya bisa bilang yes-no, OTW, dan BTW doang.
Apakah mereka mau dibiarkan kekurangan ilmu sebab kelemahan bahasa Inggris mereka? Tak "tahu", lah, kalau di Indonesia. Kalau di Taiwan, tidak. Bahasa Inggris bukan rintangan bagi mereka untuk memperoleh ilmu. Buku-buku berbahasa Mandarin siap menyambut mereka di segala penjuru ilmu.
__________
Tulisan ini juga pecut bagi diriku sendiri agar giat menulis buku pelajaran dalam bahasa Indonesia di saat aku pulang nantinya.
Masih mending kalau buku yang kubaca itu berbahasa Inggris, ini kadang berbahasa Mandarin, dengan hurufnya yang keriting membingungkan itu. Tapi, karena terpaksa, buku itu tetap harus kubaca. Dan syukur pula buku teknik agak bisa dimengerti sekalipun berbahasa Mandarin karena banyak hitungan daripada tulisannya. Sekalipun demikian, tak jarang buku itu harus kugotong ke meja teman Taiwan untuk kutanyai artinya.
Aku tahu, ini hal biasa dalam dunia pendidikan. Di S2 dulu aku baru tahu apa yang harus kuketik dalam buku tesisku justru di tiga bulan terakhir. Sebelumnya, grafik dan data-data mentah yang kudapat dari penelitian kuendapkan begitu saja tanpa bisa kuapa-apakan. Tiga bulan terakhir, seolah tuts papan penjarian komputerku berasap dan mau lepas tercerabut tak tahan entakan jari telunjuk tangan kanan-kiriku yang tak henti hampir dua puluh jam perhari.
Sekarang aku S3, awalnya aku tak mau lagi seperti dulu, pikiran baru terbuka di saat-saat jatah beasiswaku mendekati ajalnya. Ingin rasanya aku melenggang santai, mengetik pelan dengan entakan jari yang lembut sampai kata terakhir selesai kutulis di disertasiku. Aku menekan tuts titik pertanda disertasiku selesai dengan senyuman penuh takzim.
Tapi alih-alih mimpi itu tercapai, aku malah baru tahu kemana langkahku harusnya berarah di saat sisa "waktuku" kurang dari dua semester lagi. Aku harus belajar dari nol lagi tentang suatu hal baru itu.
Pertanyaannya, apakah aku akan baik-baik saja di Taiwan ini? Aku sudah punya jawabannya. Aku akan baik-baik saja, Kawan. Sudah terbiasa dalam hidupku ini belajar sesuatu dari nol di saat waktuku sudah genting.
***
Di Taiwan ini, buku-buku pelajaran berbahasa Mandarin cukup banyak dan lengkap pula. Di antaranya hasil terjemahan dari buku berbahasa Inggris. Dan banyak juga buku-buku asli berbahasa Mandarin yang ditulis langsung oleh akademisi-akademisi Taiwan.
Jadi, tak bisa berbahasa Inggris, bukan kendala bagi mahasiswa Taiwan untuk dapat memperoleh ilmu selengkap mahasiswa-mahasiswa negara berbahasa Inggris peroleh. Bahkan di lab saya, ada banyak buku yang materi di dalamnya sangat kubutuhkan, tapi belum pernah ditulis dalam bahasa Inggris. Buku itu bertengger di rak buku lab saya dengan karakter Mandarinnya, gagah dan penuh percaya diri.
Aku jadi berpikir, apakah tidak sebaiknya dosen-dosen di Indonesia lebih didorong untuk menulis dalam bahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris? Seperti halnya di Taiwan ini di mana buku apa saja ada dalam bahasa Mandarin? Berapa persen, sih, mahasiswa Indonesia yang bisa berbahasa Inggris? Tak banyak, kan? Terus mau dibawa kemana mereka jika kita nantinya lebih doyan menulis dalam bahasa Inggris?
Aku saja yang tiap hari membaca buku berbahasa Inggris dan ngomong yang sudah lumayan cas-cis-cus, batal membaca jika di laptopku kamus bahasa Inggris belum menyala. Apalagi sebagian besar mahasiswa kita yang hanya bisa bilang yes-no, OTW, dan BTW doang.
Apakah mereka mau dibiarkan kekurangan ilmu sebab kelemahan bahasa Inggris mereka? Tak "tahu", lah, kalau di Indonesia. Kalau di Taiwan, tidak. Bahasa Inggris bukan rintangan bagi mereka untuk memperoleh ilmu. Buku-buku berbahasa Mandarin siap menyambut mereka di segala penjuru ilmu.
__________
Tulisan ini juga pecut bagi diriku sendiri agar giat menulis buku pelajaran dalam bahasa Indonesia di saat aku pulang nantinya.
Bau yang Abadi padanya Kebencian
Dulu, di kampungku, Blangjruen Aceh Utara, zaman ibuku masih muda, kalau kita bilang minyak wangi, maka itu maksudnya adalah minyak "London Night". Botolnya kecil pendek seukuran setengah jempol orang dewasa. Karena belum tahu cara membaca bahasa Inggris dengan baik, maka orang kampungku (termasuk aku) menyebutnya minyak "landonit".
Waktu itu, dara Blangjruen cantiknya belum maksimal tanpa baluran secuil minyak wangi itu. Tapi aku lupa, apakah minyak ini juga dipakai oleh laki-laki. Aku dulu yang masih kecil sering merengek-rengek sama ibu agar dicecahi sedikit minyak itu jika aku melihat ia sedang memakainya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata minyak landonit ini tergerus oleh banyaknya minyak wangi lain yang membanjiri pasar Blangjruen. Salah satu yang terkenal adalah Cassablanca. Bukan hanya anak muda, orang tua pun tak jarang menjadi pelanggan setia minyak wangi baru ini.
Anehnya, seiring lamanya ditinggalkan, minyak landonit menjadi tak disenangi lagi. Baunya menjadi tak enak, katanya. Padahal bentuk keharumannya masih sama seperti dulu. Tapi kenapa bau yang sama pada waktu yang berbeda sudah tak disukai lagi? Malah jika kita memaksakan diri untuk menggunakannya sekarang, pasti ada yang mengakui pusing menciumnya? Dari sini aku bisa berkesimpulan, sama seperti model pakaian, aroma minyak wangi juga bisa kadaluwarsa, menjadi tidak model lagi saat jaman berubah.
Naga-naganya, Cassablanca cs pun sekarang hampir tergerus. Anak muda Blangjruen aku lihat sekarang banyak beralih ke minyak wangi literan yang bisa dibeli permili, botolnya bawa sendiri. Aku dan istri juga demikian. Aku rasa, minyak wangi literan ini kedepan juga akan bernasib sama seperti pendahulu-pendahulunya, baunya bakal tidak disenangi lagi.
Namun, dari aku kecil sampai sekarang, hanya satu bau yang semua bersepakat untuk terus membencinya. Bau ketek. Aku rasa, kiamat tinggal sehari lagi, bau laknat itu masih tetap dibenci manusia di seantero kolong langit ini. Maka, jagalah bau badan.
Waktu itu, dara Blangjruen cantiknya belum maksimal tanpa baluran secuil minyak wangi itu. Tapi aku lupa, apakah minyak ini juga dipakai oleh laki-laki. Aku dulu yang masih kecil sering merengek-rengek sama ibu agar dicecahi sedikit minyak itu jika aku melihat ia sedang memakainya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata minyak landonit ini tergerus oleh banyaknya minyak wangi lain yang membanjiri pasar Blangjruen. Salah satu yang terkenal adalah Cassablanca. Bukan hanya anak muda, orang tua pun tak jarang menjadi pelanggan setia minyak wangi baru ini.
Anehnya, seiring lamanya ditinggalkan, minyak landonit menjadi tak disenangi lagi. Baunya menjadi tak enak, katanya. Padahal bentuk keharumannya masih sama seperti dulu. Tapi kenapa bau yang sama pada waktu yang berbeda sudah tak disukai lagi? Malah jika kita memaksakan diri untuk menggunakannya sekarang, pasti ada yang mengakui pusing menciumnya? Dari sini aku bisa berkesimpulan, sama seperti model pakaian, aroma minyak wangi juga bisa kadaluwarsa, menjadi tidak model lagi saat jaman berubah.
Naga-naganya, Cassablanca cs pun sekarang hampir tergerus. Anak muda Blangjruen aku lihat sekarang banyak beralih ke minyak wangi literan yang bisa dibeli permili, botolnya bawa sendiri. Aku dan istri juga demikian. Aku rasa, minyak wangi literan ini kedepan juga akan bernasib sama seperti pendahulu-pendahulunya, baunya bakal tidak disenangi lagi.
Namun, dari aku kecil sampai sekarang, hanya satu bau yang semua bersepakat untuk terus membencinya. Bau ketek. Aku rasa, kiamat tinggal sehari lagi, bau laknat itu masih tetap dibenci manusia di seantero kolong langit ini. Maka, jagalah bau badan.
![]() |
| Minyak wangi London Night. Sumber foto: Google |
Subscribe to:
Posts (Atom)

