Monday, November 7, 2016

Adab pada Korban Kecelakaan Berbeda di Setiap Negeri

Sudah menjadi kebiasaan di tempat kita, jika ada kecelakaan di jalan, orang-orang pasti akan membantu menggotong korban ke pinggir jalan. Atau kalau parah, langsung menyetop mobil yang lewat agar mau menolong mengangkutnya ke rumah sakit terdekat. Lebih unik lagi, sepeda motor yang sudah amburadul setelah laga maut itu usai, kalau bisa cepat-cepat disembunyikan, entah apa ini maksudnya.

Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah foto di media sosial bagaimana masyarakat secara sukarela mengutip serakan daging korban kecelakaan yang hancur tak berwujud lagi dan memasukkannya ke kantong plastik.

Kebiasaan ini berlangsung turun-temurun sehingga seolah menjadi tabiat luhur manusia yang harus dijunjung tinggi di mana pun bumi dipijak; yaitu, jika ada korban kecelakaan di jalan, harus dibantu berdiri atau diangkut ke pinggir jalan. Motor yang tergeletak di jalan juga diberdirikan.

Padahal, tidak demikian apa yang terjadi di negara lain. Tak usah jauh-jauh kita pergi, ke Taiwan saja, masih sama-sama Asia, yang hanya lima jam terbang dengan pesawat dari Indonesia, tabiat itu sudah tak berlaku lagi. Jika ada kecelakaan, hal yang harus dilakukan di sini adalah menelpon ambulans dan polisi. Mereka akan segera datang tak lebih lama daripada waktu tiga kali suapan nasi.

Sedangkan korban, jika sudah terkulai di jalan, dibiarkan saja di jalan, sebagaimana adanya. Jangan disetuh-sentuh. Begitu juga sepeda motor atau mobil, dibiarkan saja berada pada tempatnya. Jangan disentuh pula. Biarkan itu urusan petugas kesehatan dan polisi. Mereka sama-sama kita tunggu kedatangannya.

Saat petugas kesehatan datang bersama ambulans, baru korban dilayani dengan cara standar bagaimana cara memapah atau mengangkut korban kecelakaan yang mungkin mengalami fraktur atau dislokasi. Pertolongan pertama juga diberikan.

Dalam pada itu, polisi yang biasanya datang berbarengan, juga mencatat semua kronologi kejadian. Termasuk jarak kendaraan dengan pinggir jalan dan jarak antara sesama lawan tabrakan, semuanya diukur. Tak lupa pula mereka mengambil foto tempat kejadian, jepret sana, jepret sini, sebagai masukan untuk penyelidikan.

Oleh karena itu, orang dan kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan tidak boleh disentuh-sentuh. Karena itu akan menghilangkan jejak kronologi kecelakaan dan nantinya akan menyulitkan kepolisian untuk penyelidikan. Begitu juga korban yang terluka, jangan coba-coba untuk diangkat, karena mengangkat korban yang kemungkinan sudah mengalami fraktur dan dislokasi itu ada ilmunya, dan hanya kru ambulans lah yang mengerti itu.

***

Pernah satu waktu ada kecelakaan tabrakan mobil versus sepeda motor di perempatan dekat warung Indonesia Zainal Abidin di sekitar Kaohsiung Main Station (stasiun utama Kaohsiung). Hari itu hari Minggu. Banyak sekali WNI yang menghabiskan akhir pekannya di situ, bercengkerama dengan teman-teman sambil menyantap makanan khas Indonesia di "warung Indo". Tiba-tiba terdengar suara debam keras, mengagetkan kami semua. Aku saat itu sedang mengobrol dengan Pak Zainal Abidin, sesepuh WNI di Kaohsiung, membahas tentang masalah bangsa.

Perhatian kami beralih ke lokasi kecelakaan yang hanya beberapa hasta dari tempat duduk kami. Dua orang ibu tergeletak bersama sepeda motornya. Di sisi lain seorang bapak berdiri di muka pintu mobilnya sambil menelpon-nelpon, panik. Pipi mobilnya peok ditabrak sepeda motor mini ibu-ibu yang nahas itu.

WNI yang kebetulan lewat di situ langsung mengerubuti korban. Yang lain berinisiatif mendirikan sepeda motor dan disorongnya ke pinggir jalan. Melihat tingkah teman sebangsanya yang unik ini, Pak Zainal langsung bersorak, "Hei! Taruh lagi motor itu seperti semula. Ga boleh disentuh. Nanti biar polisi saja."

Tanpa bantah, motor itupun ditidurkan kembali seperti sedia kala, seolah belum pernah disentuh sama sekali. Ibu yang tak bisa berdiri karena sakit lututnya, dibiarkan saja terduduk di aspal sampai akhirnya ambulans dan polisi datang. Korban diperiksa apa yang luka kemudian diangkut ke ambulans oleh petugas kesehatan. Polisi pun yang datang langsung melaksanakan tugasnya untuk keperluan investigasi.

Jadi, maksud saya begini, jika Anda melihat video di internet di mana orang-orang hanya menonton saja korban kecelakaan, tidak menyentuhnya apalagi membantunya, jangan marah-marah dulu, apalagi menuduh orang-orang itu biadab, tak berperi kemanusiaan. Aslinya mereka bukan tidak mau membantu, tapi mereka mungkin sedang menunggu petugas kesehatan dan polisi yang telah diteleponya.
__________
Notabene:
  1. Fraktur adalah keretakan atau keadaan patah (tentang tulang dan sebagainya).
  2. Dislokasi adalah perenggangan persendian pada patah tulang, atau terkilir.
  3. Warung Indo adalah sebutan WNI di Taiwan untuk warung orang Indonesia yang menjual makanan dan produk-produk khas Indonesia. Awalnya saya tak suka dengan sebutan ini, karena saya pikir itu sama dengan istilah "Indon" yang kerap dipakai untuk maksud merendahkan bangsa Indonesia di luar negeri. Tapi ternyata berbeda. Dan saya sekarang ikut menyebut "warung Indo" dan "orang Indo" di Taiwan.
Petugas kesehatan sedang memeriksa korban. Lihat, sepeda motornya masih belum diberdirikan dan korban masih terduduk di aspal.

Korban sudah dipapah ke ambulans. Sepeda motor masih belum dibangunkan karena polisi masih butuh pencatatan.

Ini kejadian yang lain. Lihat pula polisi sedang mewawancarai korban sementara sepeda motor masih belum diberdirikan. Malah lampunya masih hidup.

No comments:

Post a Comment