Beberapa hari lalu, taktik inilah yang dilakukan temanku asal Vietnam yang kebetulan sedang menyambangi Taiwan untuk keperluan sebuah menghadiri seminar internasional. Ia diberikan waktu dua minggu untuk menetap di sini oleh imigrasi Taiwan. Maka sebelum beranjak pulang, aku diundangnya makan es krim.
Ya Tuhan, kapan aku pernah menolak makan es krim? Tak pernah. Selama langit masih menangkupi pertiwi, selama matahari belum bosan keluar dari ufuk timur, selama itu pulalah es krim akan selalu menjadi idolaku. Aku yang bekerja bersosoh di laboratorium, memudarlah semangatku jika di luar sana ada siapa saja yang mengajakku makan es krim!
Aku mengangguk dalam kesepianku di laboratorium segera setelah mendapatkan pesan "Usman, besok malam aku mengundangmu makan es krim. Sekaligus acara perpisahan. Aku harus pulang dalam beberapa hari ini. Visaku akan habis masanya."
Tak perlu pesan terlalu panjang bagiku untuk menjawab pesan ini selain hanya, "Ok".
Namun, esok malamnya, sempat juga tebersit niat di hatiku untuk membatalkan saja undangan itu. Tersebab badanku tiba-tiba meriang. Sepertinya aku akan sakit. Belum lagi aku mengirim pesan pembatalan, sebuah pesan masuk, "Usman, ayo. Aku tunggu kamu di pintu kampus belakang."
"Jauh tidak tempatnya, Wahai Teman?" balasku bertanya, "badanku tidak enak, sepertinya aku akan sakit."
"Tidak jauh sama sekali. Hanya lima ratus meter. Dekat," balasnya.
Aku mulai mencongak, menyipat-nyipat sendiri jarak lima ratus meter dalam pikiranku. Apakah dia jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki, karena aku berpikir kami bersama-sama berjalan kaki ke sana. Kusimpulkan bahwa itu tidak jauh, apalagi untuk urusan es krim.
Aku pun keluar laboratorium. Jam digital kerenku menunjukkan pukul 9.30 malam. Kaohsiung yang berada di ujung selatan Taiwan, sudah mulai menurun panasnya menyongsong musim dingin. Desau angin mengelus lembut tetumbuhan taman di kampus NKUAS. Temaram lampu menerangi langkahku menuju pintu gerbang kampus NKUAS.
Tepat di depan pintu gerbang, sudah terlihat tiga orang anak manusia asal Vietnam. Merekalah temanku yang sedang menunggu kedatanganku. Satu orang sedang duduk di sadel sepeda balapnya dengan kakinya sebagai standar. Dua lagi adalah sejoli pasangan pacaran yang sedang duduk di atas sepeda motornya. Mereka larut dalam obrolan sambil menunggu temannya yang asal Indonesia datang. Saking seriusnya berdiskusi, mereka tak sadar bahwa aku sudah berada di sampingnya.
Dan....
Hah...! Aku bersorak di sisi mereka. Mereka kaget bukan kepalang yang membuat aku jadi merasa menyesal. Sempat-sempatnya aku bercanda padahal tadi aku mengakui sakit. Namun, mereka tertawa setelahnya, aku juga. Setelah itu kami pun berangkat. Sejoli pacaran berangkat dengan sepeda motor dan aku mendayung sepeda membonceng salah satu temanku. Aku menghitung, sampai 25 kayuhan, kami sampai di depan sebuah warung es krim.
Kami disambut senyuman penuh pesona dari pelayan warung. Aku balas tersenyum, semringah. Biasa, mau makan es krim. Tadinya badanku yang agak sedikit demam, sekarang hawanya menurun menguap diterjang bahagiaku melihat pernak-pernik es krim.
Sebuah piring kecil diberikan kepada kami. Kami dipersilakan mengambil sendiri aneka jenis pengisi es krim. Ada agar-agar puspawarna, bola-bola tepung kenyal seukuran buah ceri, kacang ijo, irisan buah naga, dan banyak lagi. Saat itu aku masih belum curiga, dan menganggap bahwa es krim kali ini begitu istimewa. Lengkap sekali pengisinya, dan juga bisa dipilih sendiri. Selanjutnya beratnya ditimbang oleh kasir untuk menentukan harga.
Aku tidak banyak mengambil pengisi itu, karena perutku begitu kenyang setelah dihantam nasi vegetarian tadi sore. Aku ingin fokus makan es krimnya ketimbang pengisinya. Begitu siasat yang aku pasang, mengalahkan siasat Pak Letnan Jendral van Heutsz ketika menggempur pejuang Muslimin di tanah Keureutoe zaman penjajah dulu.
Proses pilih-memilih pengisi es krim maka selesailah. Aku menimbangnya ke kasir dan dibayar oleh temanku yang empunya hajat. Setelah itu pelayan mengambil pengisi es krim itu dan ditumpahkan ke dalam sebuah piring besar yang telah dihuni oleh serutan es batu yang menggunung. Amboi, ini bukan es krim, tapi es doger, alias es serut! Wahai Teman Vietnamku Sayang, ini bukan es krim!
Sekelebat air mukaku berubah suram, semangat empat lima-ku tercerabut seketika, dan suasana hatiku hening demi mengetahui bahwa malam ini yang akan aku makan adalah es d-o-g-e-r, bukan es krim. Aku berusaha menghabiskannya dan minta ijin undur pulang setelahnya.
***
Demikianlah, bukan es krim yang membuatku bahagia malam itu, tapi teman-temanku yang sebagian besar berbangsa Vietnam sangat mencintaiku. Sering aku diundang pesta oleh mereka, tapi karena alasan keyakinan Agama yang aku yakini, aku menolaknya, karena aku tak bisa makan babi dan minum bir.
Untuk teman Vietnamku, Tabik
![]() |
Pernak-pernik pengisi es krim, eh salah, es doger |
![]() |
Es doger yang kusangka es krim |
![]() |
Teman-teman Vietnam |
No comments:
Post a Comment