Istimewa pula, baru saja, hari Minggu kemarin (27/11/2016), Mbak Aling, seorang wanita tangguh kelahiran Kepulauan Laskar Pelangi, Bangka Belitung, yang sudah bermastautin di Taiwan, membuka warung barunya di jalan Tong Ai, di kawasan Kaohsiung Main Station.
Tentu ini bukan warungnya yang pertama. Selain yang di jalan Tong Ai ini, setahu saya dia mempunyai dua warung lagi, termasuk restoran halal di Masjid Besar Kaohsiung. Hebat memang wanita yang satu ini. Kalau soal beromong-omong mungkin saya masih bisa mengalahkannya. Tapi giliran bisnis, bendera putih harus saya kibarkan jika menghadapi wanita pembisnis asal Sumatra ini.
Kaohsiung Main Station ini sebenarnya adalah stasiun terpadu bagi seluruh moda transportasi yang masuk ke kota Kaohsiung. Sehingga kawasan ini semacam sarang bagi paling tidak empat moda transportasi vital yang ada di kota Kaohsiung; yaitu kereta api, bus antar kota, bus kota, dan mass rapid transit (MRT). Maka atas alasan inilah kawasan ini disebut dengan Main Station (stasiun utama), di mana menjadi tempat perhentian seluruh moda transportasi yang ada.
Namun, entah apa alasannya, di Kaohsiung ini, kereta api cepat (high speed rail/HSR), stasiunnya tidak terpadu dengan Main Station, melainkan terpisah empat kilometer ke utara Main Station. Inilah yang menyebabkan julukan main station di Kaohsiung ini agak sedikit meluruh, tersebab ada satu stasiun yang masih tidak sekawasan dengan main station, yaitu stasiun HSR yang berada di Zouying. Sedangkan di Taipei (ibukota Taiwan yang berada di ujung utara), seluruh moda transportasi bersangkar di main station. Jadi, itulah main station yang sesungguhnya.
Sekalipun demikian, stasiun Kaohsiung tetap saja disebut main station, sekalipun HSR tak ikut gabung di situ. Dan nama main station inilah yang cukup melekat di lidah kami non-bumiputra di Taiwan. Hal ini karena kata tempat yang berbahasa Inggris lebih mudah diucap dan diingat tinimbang kata Mandarin yang tentu begitu sulit bagi pendatang baru.
Namun anehnya, sekalipun secara resmi pemerintah Taiwan telah menyebut Kaohsiung Main Station untuk kawasan ini, banyak pula orang Kaohsiung ketika saya bilang mau ke Kaohsiung Main Station, mereka malah bingung. Tak tahu apa itu Main Station. Bahkan sopir bus sekalipun, yang seharusnya mengerti, malah melongo ketika mendengar kata Kaohsiung Main Station meluncur dari mulut saya. Mereka tahunya itu adalah Kaohsiung Huo Che Zhan (stasiun kereta api Kaohsiung), bukan Main Station.
Tapi apapun itu namanya, kawasan main station tiap harinya tak pernah sepi. Hal ini karena di situlah transit penumpang dari satu moda transportasi ke moda yang lain, terjadi. Lebih-lebih akhir pekan, mulai hari Jumat sore sampai Minggu sore, penuhlah kawasan itu dengan manusia-manusia sibuk menuju tujuannya masing-masing. Jika ada yang duduk-duduk santai di sekitar pintu MRT, hampir bisa dipastikan itu adalah WNI, yang tak jarang saya juga termasuk di dalamnya.
Tak ada informasi bagiku, apa pemantik awal sehingga main station ini menjadi tempat berkumpulnya WNI di akhir pekan, untuk melepas penat setelah lima hari capek bekerja. Aku jadi ingin tahu, apakah duluan hadir warung Indo di situ sehingga banyak WNI menyemut ke main station untuk membeli barang dan makanan khas Indonesia? Ataukah sebaliknya, karena banyaknya WNI yang berkumpul di situ, maka hadirlah warung Indo sebagai konsekuensi logis dari adanya pelanggan, adanya penjual?
Entahlah, ini hampir sama dengan pertanyaan, duluan siapa telur sama ayam. Tapi yang jelas, jika Anda datang di Kaohsiung Main Station pada hari Minggu, saya yakin Anda akan bertanya, "Apakah benar aku ini sedang di Taiwan? Karena kemana pun pandangan kita berarah, maka di situlah wajah-wajah khas Indonesia terlihat. Warung-warung Indo pun dari tahun ke tahun bertambah terus. Dan yang paling baru adalah RM. Rizki Barokah, kepunyaan Mbak Aling yang telah kusebutkan sepintas di muka.
Kemarin, sehabis Magrib (29/11/2016), selepas rapat lab mingguan bersama Profesor, saya ambil tas, naik bus, kabur ke main station untuk melepaskan penat. Tujuan saya tak lain adalah mencari makanan yang bisa sedikit membuatku bergairah hidup. Ini adalah kebiasaanku setiap selesai rapat lab yang lumayan menegangkan urat kuduk itu.
Sesampai di main station, aku menyempatkan diri untuk menjenguk warung baru Mbak Aling itu. Saya masuk sampai ke dalam, bahkan sampai ke toilet yang ada di bagian yang paling belakang. Saya berhenti sejenak di dalamnya, dan kemudian berkesimpulan, inilah warung makan Indonesia paling mewah yang pernah aku temui di Taiwan ini.
Mulai dari ruangan yang lebar memanjang ke belakang, berbelok ke kanan, dinding yang dicat putih bersih dengan ornamen gambar menara Pisa pula, sampai dengan pasangan kursi-meja elegan yang dibekali steker daya di setiap sampingnya sehingga tak perlu takut kekurangan daya ponsel jika berlama-lama di situ, benar-benar membuatku bangga jika suatu saat nanti bisa mengajak teman Taiwan ke sini. Sangat berkelas.
Sebagaimana irama warung-warung Indo lain, yang telah lebih dulu ada di bilangan Kaohsiung Main Station, RM. Rizki Barokah ini juga demikian. Pada hari-hari biasa, RM. Rizki Barokah menyediakan menu standar yang segera dimasak atau dihangatkan saat kita memesannya. Seperti kari sapi, empek-empek ikan, rendang sapi, mi kuah sapi, ayam goreng, bakso sapi, kari ayam Pakistan, mi ayam, kari ayam, kuetiau goreng (ini kayaknya tak ada di Indonesia), gulai kambing, soto ayam, ikan goreng, mi goreng, nasi goreng, dan bihun goreng. Dan yang tak kalah penting, semua makanan yang disajikan ini, halal! Sebagaimana tertulis pada daftar menunya.
Sedangkan untuk hari Minggu, selain menu standar, RM. Rizki Barokah menyediakan menu tambahan khas Nusantara, yang disajikan secara prasmanan, ambil sendiri, harganya tergantung banyaknya dan apanya yang kita ambil.
Soal harga, janganlah cemas, sesuai dengan pengalaman saya makan di warung racikan Mbak Aling di Masjid Kaohsiung, harganya masih sangat terjangkau, bahkan untuk kantong mahasiswa sekalipun. Maka saya yakin, di RM. Rizki Barokah yang baru ini juga demikian pada sangkaku.
Tapi saya tetap mewanti-wanti Anda, jangan pernah membawa uang kurang dari 300 NTD jika Anda berniat makan di warung Indo. Atau dengan uang yang ada, Anda bisa memilih menu standar saja, yang harganya sudah tertera. Atau lagi, terus terang saja kepada yang empunya warung, Anda punya uang berapa, sehingga bisa ditentukan apa yang bisa dipesan.
Malam itu saya datang hanya melihat-lihat kondisi warung saja. Tidak makan di situ, karena dari awal sudah matang sekali rencanaku ingin menyantap bebek goreng di warung Indo Chen Lili, yang tak seberapa jauh dari RM. Rizki Barokah.
Maka setelah mengobrol sejenak dengan Mbak yang sudah saya kenal tapi lupa namanya, kemudian jepret sana-jepret sini, saya pun keluar dari warung itu. Malam itu kebetulan Mbak Aling tidak ada di tempat karena ia dapat jatah melayani pelanggan di restoran halal Masjid Besar Kaohsiung.
![]() |
Kudapan khas Indonesia di hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Rendang Padang. Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Selada. Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Ikan goreng sambal. Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Terong sambal. Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Tempe. Menu pada hari Minggu. Sumber foto: Aling |
![]() |
Jepretan depan RM. Rizki Barokah |
![]() |
Penampakan dalam |
![]() |
Daftar menu standar harian |
No comments:
Post a Comment