Setelah kejadian gagal saat pangkas rambut pada seorang kapster (tukang pangkas) tiga minggu lalu, hari ini aku merasa rambutku sudah bisa ditata ulang lagi. Ini karena panjangnya sudah lumayan cukup untuk dipotong lagi.
Tentu aku tidak kembali lagi ke kapster yang telah gagal menaklukkan rambutku beberapa minggu lalu itu. Aku memilih kembali ke kapster lain yang sudah dua kali sukses menata rambutku yang nakal tapi mempesona ini.
Salon kapster ini letaknya cukup dekat dengan kampus saya (NKUAS). Seandainya tidak ada tembok tinggi yang memisahkan kami, maka ke sana hanya sepelemparan batu saja jaraknya. Namun, karena dibatasi tembok saya harus keluar melalui pintu gerbang belakang, belok kiri sedikit, belok kanan sedikit, sampai. Benar-benar sedikit, hanya sepuluh langkah.
Biaya potong rambut di salon ini juga murah, hanya 100 NTD, sekitar 40 ribu rupiah. Ini murah untuk standar luar negeri. Jangan coba-coba dibandingkan dengan Blangjruen (desa kelahiranku di Aceh Utara), yang hanya 12 ribu Rupiah. Di sini 100 NTD itu sudah harga potong rambut standar mahasiswa hemat.
Kalau untuk mahasiswa modis tentu mereka akan pergi ke salon yang mahal; yang pakai keramas, vitamin, atau malah pakai cat segala. Salon semacam ini tentu mahal, bisa sampai seribu NTD. Ampun, deh. Potong rambut saja kok sampai setengah juta rupiah begitu. Mending beli cendol, bisa kenduri satu kampung, syukuran cendol, didoakan selamat dunia-akhirat lagi.
Pengecatan rambut di Taiwan ini marak juga, loh. Beberapa hari yang lalu teman lab saya mengecat rambutnya dengan warna emas kecokelatan. Aku melihat cocok juga, sih, sama parasnya. Wajah teman saya ini hampir mirip Tao Ming Se. Kenal sama Tao Ming Se? Itu, loh, yang ada di serial Meteor Garden, drama besutan Taiwan yang cukup populer sepuluh tahun lalu di Indonesia itu.
Nama asli aktor ganteng ini sebenarnya adalah Liao Yangzhen. Karena dalam drama Meteor Garden dia berperan sebagai Dao Ming Si (baca, Tao Ming Se), maka orang-orang lebih mengenalnya dengan nama peran itu ketimbang nama aslinya. Hal ini lumrah terjadi, tak terkecuali di Blangjruen.
Sebagai contoh, saya tanya kepada Anda, kenal, tidak, sama orang yang bernama Haji Latief Sitepu? Tidak, 'kan? Tapi kalau saya tanya Haji Muhidin? Pasti kenal, 'kan? Abahnya si Rumanah, yang sering marah-marah dalam serial Tukang Bubur Naik Haji itu. Padahal nama aslinya adalah Haji Latief Sitepu, bukan Haji Muhidin.
Waduh, kok malah membahas drama, ya? Ok, kembali ke Tao Ming Se. Teman saya, yang beberapa hari lalu mengecat rambutnya, agak mirip sama Tao Ming Se. Kulitnya putih bersih, matanya agak sipit khas Tionghoa. Maka ketika dia mengecat rambutnya, cocok sekali. Pas. Aku tadi sempat membayangkan juga jika aku ikut mengecat rambut seperti dia, bagaimana rupaku ya? Ah, aku yakin rupaku akan tambah hancur. Tapi kalau cat hitam barangkali bisa mendongkrak parasku menjadi imut-imut kembali seperti sebelum S3 dulu. Mengingat rambutku sekarang sudah banyak putihnya setelah dihantam tugas S3..
Tapi tak apa-apa, lah. Aku tak berharap banyak dari rambutku ini. Yang penting setelah dipotong, kusisir ia masih mau diatur, itu sudah syukur sekali. Walaupun, aku berniat juga, jika nanti rambutku sudah memutih semua, aku ingin mengecatnya dengan warna coklat. Secara hukum agama juga dibolehkan mengecat rambut asal jangan warna hitam, 'kan?
Omong-omong, kapster yang saya datangi tadi itu lihai banget membaca gerak-gerik rambutku. Kapsternya perempuan, kurus tinggi, dan sudah tua. Tapi masih modis dengan baju kaos dan celana jinnya yang ketat. Dari gayanya, sangat meyakinkan. Dari caranya menjumput rambut ketika mau dipotong, terlihat sekali luwes dan berpengalaman.
***
Selama potong rambut di Taiwan, ada satu perbedaan yang mencolok antara kapster Taiwan dengan Blangjruen. Di Blangjruen, kalau kapster mau memotong rambut sebelah kanan, kepala kita dimiringkan ke kiri. Giliran memotong sebelah kiri, kepala kita dimiringkan ke kanan. Begitu juga saat sasarannya adalah bagian belakang, maka kita akan dirundukkan ke depan.
Sedangkan di Taiwan ini tidak demikian adanya. Pelanggan tidak akan dipaksa kepalanya harus miring kiri, miring kanan, dan merunduk. Tapi justru kapsternya yang berusaha sekuat tenaga mengambil posisi agar bisa memotong rambut tanpa harus mengganggu posisi kepala pelanggannya. Makanya, ketika memotong rambut di kapster Taiwan, kita masih bisa tetap membaca buku atau hanya sekedar mengintip beranda facebook di telepon pintar kita.
Sudah, ini saja ceritanya hari ini. Maaf, jadi panjang begini nulisnya, padahal ceritanya sama sekali ga penting.
__________
Ditulis pada tanggal 17 November 2016
No comments:
Post a Comment