Tuesday, November 15, 2016

Hari ini, Sebulan yang Lalu. Sebuah Cerita Pengalaman Kuliah di Taiwan

Entah disebabkan stres atau apa, kebiasaanku ternyata ada yang berubah selama ini. Ini baru aku sadari tadi. Ternyata saya tidak lagi minum teh sebagaimana biasanya. Tak tanggung-tanggung, sudah satu bulan lamanya. Padahal mulai dari beberapa bulan lalu, bagiku tak ada hari tanpa minum teh. Teh hijau buatan Taiwan.

Bahkan untuk keperluan ini, saya punya gelas khusus berbahan keramik yang kebetulan saya dapat dari hadiah enam bulan lalu. Saya beruntung dapat gelas keramik ini, karena tanpa hadiah itu pun saya akan membelinya, tersebab ada informasi bahwa minum teh itu lebih baik di gelas keramik, jangan di gelas plastik, apalagi di gelas aluminium dan sebangsanya. Entah apa pengaruhnya, aku sendiri tak tahu. Aku mengikutinya saja.

Tadi. Benar-benar tadi. Barusan. Mataku liar menetap apa saja yang ada di meja belajarku. Agak sumpek juga sih meja belajarku ini. CPU dan monitor komputer rusak sengaja aku taruh mengelilingi meja belajar untuk membatasi ruang pandang agar aku lebih fokus belajar. Sehingga mataku tidak jelalatan menatap ke seantero ruang lab.

Di depan sebelah kiri laptop, ada kipas angin kecil yang kupergunakan ketika aku kepanasan sementara teman lain malah kedinginan. Tentang kipas ini baiknya saya ceritakan nanti saja, baca saja sampai habis. Kalau berani. Terus, di depan kipas itu ada balang keripik, kemudian setelahnya berderet mengarah ke belakang, rexona (sudah kosong), dua botol minyak wangi hadiah, sebotol minyak wangi Cassablanca, dan sebotol deodoran anti-bau ketek. Lengkap sudah, 'kan?

Sebelah kanan laptop, tak ketinggalan, ada satu botol aqua sedang yang sudah saya isi ulang. Kalau tidak salah, aqua ini sudah tiga hari yang lalu saya beli, tapi botolnya tidak saya buang setelah airnya habis kuminum. Tetap aku pakai dan isi ulang dengan air gratis dari dispenser kampus. Sebelah botol aqua ini selanjutnya ada sebuah kotak dan botol kapas korek kuping ukuran jumbo, yang setelah aku beli ternyata kapas kuping ini terlalu besar untuk lubang telingaku. Sehingga jarang pula aku gunakan karena tak muat ke dalam. Sebelah kapas kuping ini, maka terlihatlah sekotak teh hijau yang masih banyak isinya!

Nah, saat itulah aku menyadari bahwa aku sudah lama tak minum teh. Saya merunut kebelakang. Apa pasal yang mengakibatkan aku berhenti meminum teh? Akhirnya saya ingat. Itu berawal saat aku sakit sebulan yang lalu. Saya pergi ke doktor dan dikasih obat untuk kuminum selama tiga hari. Terus apa hubungannya dengan minum teh? Berikut ceritanya.

Dulu, ketika aku sedang ber-KKN di kecamatan Mantrijeron Jogjakarta di akhir tahun 2005, di antara teman-teman satu pos dengan saya, ada seorang yang berasal dari fakultas farmasi UGM. Suatu hari dia menceritakan kegunaan teh hijau yang katanya baik untuk kesehatan. Dan yang paling aku ingat adalah, dia menganjurkan agar jangan sekali-kali minum obat berbarengan dengan teh. Ini karena obat akan menurun efeknya jika bereaksi dengan teh. Nah, itulah penyebabnya. Oleh karena itu, manakala aku minum obat selama tiga hari sebulan lalu, aku terpaksa libur minum teh.

Aku selanjutnya tak sadar, ternyata setelah tiga hari libur minum teh, saya lupa memulainya lagi. Padahal saya tak lagi minum obat. Maka hari ini, setelah aku ingat, aku mulai lagi minum teh. Minum teh ala Taiwan. Tanpa gula. Di Taiwan, kalau pakai gula itu bukan teh, tapi bubur, "cagruk" kalau dalam bahasa Aceh. Begitu juga kopi.

***

Tentang kipas angin kecil tadi, begini, lo, ceritanya.

Teman, aku ini kadang merasa cukup jengkel karena suhu badan kami anggota lab ternyata tidak sama. Sehingga reaksi badan kami terhadap AC bisa berbeda-beda. Bagiku suhu AC 25 derajat itu nyaman. Sementara bagi sebagian temanku, suhu segitu sudah cukup membuat mereka menggigil. Karenanya kadang mereka mengejek dengan berkata, "Selamat Hari Natal," karena saking dinginnya (di belahan bumi bagian utara, Natal itu identik dengan musim dingin dan bersalju).

Untuk menyelesaikan masalah ini, aku mengambil inisiatif untuk mengalah saja. Kipas angin kecil aku taruh di hadapanku dan kunyalakan saat aku merasa kepanasan. Tak mau peduli dengan suhu AC itu lagi.

Tapi, lama-lama aku tak nyaman juga. Suara derit kipas itu lumayan berisik. Aku berpikir beberapa jenak. Berharap solusi yang baik datang. Aha, aku dapat. Pengarah angin AC akhirnya kuarahkan ke meja belajarku. Sehingga aku merasa dingin pada suhu yang tadinya aku merasa panas. Aku berhasil melakukannya. Eh, namun, belum saja setengah jam kondisi itu kunikmati, malah temanku yang tadinya kedinginan sekarang kepanasan. Maka mereka menurunkan suhu AC.

Bisa ditebak akibatnya, arah angin AC yang sudah mengarah ke tempat dudukku otomatis membuat ubun-ubunku serasa mau beku kedinginan. Aku menghela nafas panjang. Kenapa suasananya jadi ruwet begini, ya? Padahal masalahnya cuma AC, lo. AC! Tapi.... Ok. Yang namanya Usman Blangjruen sejak kapan kekurangan akal? Ga akan. Kecuali hanya saat melihat es krim saja akalnya mendadak hilang!

Akhirnya aku punya ide baru. Sebuah CPU komputer yang tak terpakai lagi dan menjadi sampah di lab, aku ambil dan kutindih dua sehingga berhasil melintangi serbuan angin AC yang tadinya secara frontal menembakkan ke ubun-ubunku. Maka sekarang anginnya menjadi buyar setelah menghantam CPU rongsokan itu. Sekarang amanlah sudah.

Untuk tidak mengundang rasa aneh teman-teman lab dan Profesor, aku bilang kepada mereka bahwa CPU itu sengaja aku susun untuk merintangi hembusan angin AC. Maka, sekarang aku aman dan bisa minum teh lagi dengan tenang. Mari, tehnya diseruput.
Teh hijau buatan Taiwan.

CPU rongsokan untuk blokade angin AC.

No comments:

Post a Comment