Tuesday, December 19, 2017

Doktor, Tukang Tambal Ban, dan Bergek

Beberapa hari yang lalu, saat menyambangi rumah ibu di Blangjruen sehabis magrib, begitu pulang ban sepeda motor kesayangan saya, Jupiter MX, bocor. Angin ban belakang habis total. Saya memompanya untuk sekedar bisa saya naiki sampai ke bengkel terdekat.

Maunya, saya hanya menambalnya di bengkel terdekat di pasar Blangjruen. Tapi ternyata malam itu bengkel yang biasanya buka sampai larut malam, malah tutup. Akhirnya motor saya kebut sampai ke Simpang Rangkaya yang jaraknya sekitar sekilometer ke selatan pasar Blangjruen.

Sukur, di sana tukang tambal ban masih buka. Motor saya sorong ke situ. Saya duduk di sebuah bangku panjang yang kayaknya khusus disediakan untuk pelanggannya yang menunggu. Malam itu saya tak membawa ponsel. Otomatis pikiran saya melayang ke mana-mana.

Saya menatap tukang tambal ban itu yang sedang menggerayangi motor saya. Entah apa sebabnya, tiba-tiba sifat narsis saya muncul. Tiba-tiba saya yakin betul bahwa tukang tambal ban itu mengenal saya.

"Siapa yang tak kenal saya di Blangjruen ini? Tak mungkin ada orang yang tak mengenal saya. Tak mungkin. Doktor satu-satunya sepanjang sejarah Blangjruen. Lulusan luar negeri lagi, " saya mengoceh tak karu-karuan dalam lamunan saya.

Tukang tambal ban sudah menemukan lubang di ban motor saya. Bocor halus. Butuh waktu sedikit lebih lama baginya untuk mendapatkan lubang halus itu. Kemudian setelah dikikisnya daerah bocor dengan kertas pasir dan membubuhi lem ke atasnya, ia menekan dengan pemanas elektrik, maka selesailah setahap pekerjaannya itu.

Sembari menunggu, ia ikut duduk bersama saya di kursi panjang. Setelah sedikit mengobrol pembuka dengan materi yang tak begitu penting, akhirnya ia bertanya, "Anda ini... yang mempunyai abang yang jualan emas di pasar Blangjruen ya?"

"Buset !, "saya kaget dan, dalam hati, menyerapahi diri sendiri dengan kesal, "Duh, ternyata dia tidak mengenal saya sama sekali! Sejak kapan abang saya buka toko emas?"

Tapi saya tidak marah. Cuma menyesali diri saja karena terlalu yakin bahwa saya dikenal banyak orang. Namun kenyataannya tidak demikian. Banyak sekali orang yang tidak mengenal saya. Menyadari itu, saya langsung turun tingkat dengan memperkenalkan diri saya dan keluarga saya kepadanya sampai ia betul-betul mengenal saya.

Di pasar Blangjruen, kita tak butuh kalkulator untuk menghitung berapa jumlah toko emas yang beroperasi di sana. Jumlahnya cuma empat: Masco Jaya, Hidup Damai, Hidup Damai Baru, dan ada satu lagi saya lupa nama tokonya.

Ini artinya, saya dikira sebagai anggota keluarga salah satu para pemilik toko emas itu. Kalau bukan keluarga Masco Jaya, berarti keluarga Hidup Damai, atau Hidup Damai Baru, atau keluarga pemilik toko emas satunya lagi. Hihihi, padahal setelah berkaca bolak-balik, saya sama sekali tak ada mirip-miripnya sama mereka.

Tapi okelah, tak apa-apa. Paling tidak, ia telah menaruh pilihan bahwa saya berasal dari keluarga berada. Itu artinya, gaya saya malam itu memang sudah mirip orang kaya. Secara wajah juga ga jelek-jelek amat. Malah masuk ke dalam kategori ganteng. Eaaa! Eaaa! Eaaa!

Tapi kalau mau jujur setelah saya merenung, jangankan di luar, di dalam institusi tempat saya bekerja saja banyak juga orang yang tidak mengenal saya. Sehingga saya kadang harus memperkenalkan diri kepada mereka.

Memang, beberapa hari setelah saya pulang selesai doktor dari Taiwan, agak sedikit heboh, saya bak artis. Lumayan, karena lulus S3 agak cepat sedikit, katanya. Mungkin gegara itulah di awal-awal tiba di tanah air saya sering diajak kegiatan ini-itu di tempat saya bekerja. Setelah saya mengangguk setuju, eh, ternyata tak ada kabar lagi, sekalipun hanya kabar pembatalan. Padahal saya sudah mencari informasi sana-sini perihal kegiatan itu agar tidak kagok ketika ikut bekerja kelak.

Syahdan, suatu hari, pas saya turun dari ruang dosen ingin pulang karena tak tahu apa yang akan saya kerjakan lagi di kampus, tiba-tiba dari sela-sela parkiran mobil ada suara yang memanggil-manggil nama saya.

Saya menoleh, ternyata Heri. Seorang Polisi muda yang dulu pernah satu pesantren dengan saya di Dayah Alhilal Aziziyah Nibong. Tubuhnya sekarang tinggi besar. Tak seperti dulu yang agak kurusan.

Yang menarik adalah, ternyata ia bersama dengan grup artis Aceh Bergek yang begitu tersohor sekarang di Aceh. Mereka sedang shooting sinetron di depan institusi saya.

Saya mengobrol sejenak dengannya, kemudian menoleh ke arah Bergek dan sekelebat kemudian menatap lagi wajah Heri, bertanya, "Heri, aku mau berfoto bareng Bergek. Bisa tak kira-kira?"

"Bisaaa !," ponsel saya disabetnya sambil memanggil si Bergek untuk berfoto dengan saya. Kalau tak salah, ia sempat memperkenalkan saya kepada Bergek yang direspons oleh artis itu dengan tersenyum ringan ke arah saya. Saya membalasnya dengan tersenyum juga.

Tentu, perasaan Bergek beda dengan saya pada saat di depan tukang tambal ban tadi itu. Bergek pasti yakin betul bahwa saya mengenalnya sebagai artis Aceh, bukan sebagai anak tukang emas, tukang kebun, tukang kaleng, maupun tukang pangkas. Sebab ia memang benar-benar terkenal, tidak seperti saya.
Saya bersama Bergek di area parkir Politeknik Negeri Lhokseumawe

Tuesday, December 12, 2017

Pesimis atau Pesimistis?

Selama ini kita sering mendengar kalimat semisal: "Saya sangat optimis acara ini akan berhasil." dan pula semisal: "Kondisi ekonomi makin semrawut, saya sudah sangat pesimis melihat negeri ini."

Perlu dicatat bahwa kata "optimis" dan "pesimis" itu bukan kata sifat, melainkan kata benda. Lebih spesifiknya, optimis dan pesimis adalah kata benda pelaku. Kata benda pelaku ini setahu saya tidak ada dalam Bahasa Indonesia. Sementara dalam bahasa Arab ada, yaitu apa yang dikenal dengan "isim fa'il."

Sehingga dalam KBBI "optimis' diberi makna sebagai "orang yang selalu berpengharapan baik dalam menghadapi segala hal. Sementara "pesimis" adalah orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik.

Sedangkan kata sifat untuk "optimis" dan "pesimis" masing-masing adalah optimistis dan pesimistis. Sehingga kedua kata terakhir inilah yang seharusnya dipakai dalam dua kalimat di atas.

Untuk kata optimis dan pesimis, mungkin penggunaannya dalam kalimat, lebih cocok semisal berikut: "Sejak perusahaannya mengalami kebangkrutan, ia berubah dari optimis menjadi pesimis."

Thursday, December 7, 2017

Maulid Nabi Dan Kalender Luni-solar Arab Pra-islam

Sebenarnya belum ada kata sepakat ahli sejarah yang meyakini betul kapan nabi Muhammad dilahirkan. Jangankan hari, tahun kelahiran Beliau saja sebenarnya juga tak sepi dari perdebatan. Apalagi pukul berapa, siang atau malam, sungguh lebih gelap lagi.

Jika kita menyelisik buku sejarah hidup Beliau, maka kita akan mendapati berbagai pendapat tentang kapan Beliau dilahirkan. Sebagaimana telah dirangkum oleh M Hussain Haikal dalam bukunya "Hayatu Muhammad" (buku ini telah lama ada terjemahannya), biarpun sebagian besar ahli sejarah meyakini bahwa Beliau dilahirkan pada tahun Gajah (570 M), namun ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa beliau dilahirkan 15 tahun sebelum peristiwa Gajah itu. Ada juga yang menyatakan beberapa hari, bulan, atau tahun setelah peristiwa Gajah. Dan bahkan, ada juga yang berpendapat 30 atau 70 tahun setelah peristiwa Gajah.

Ini baru tahun. Bulan di mana Beliau dilahirkan tentu juga tak luput dari perdebatan. Yang paling populer memang pendapat yang menyatakan bahwa Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awal. Tapi pendapat lain juga menyatakan bahwa Beliau lahir pada bulan Muharram, Safar, Rajab, atau Ramadhan.

Bagi yang meyakini Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi, ternyata tanggalnya juga masih diperdebatkan. Ada yang menyatakan tanggal 2 Rabiul Awal, 8, atau 9. Dan yang paling populer, Ibnu Ishak salah satu yang berpendapat demikian, bahwa Beliau dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana yang sama kita peringati sekarang ini.

Oke, kita tidak perlu bingung dengan hal ini, santai saja. Karena yang paling penting adalah bahwa Beliau sudah lahir ke dunia ini dengan membawa Islam sebagai sebuah agama yang telah dianut oleh sebagain besar penduduk dunia. Perkara kapan tepatnya beliau dilahirkan, itu salah satu hal yang tak haram masuk ke ranah perdebatan.

Jadi, sementara kita kunci saja pendapat yang populer yang menyatakan bahwa Beliau dilahirkan pada 12 Rabiul Awal. Tapi kita jangan tersenyum dulu dengan meyakini betul bahwa itu bersih dari masalah lanjutannya. Ada masalah lagi. Ini perlu diingat, bahwa sistem penanggalan yang digunakan masyarakat Arab pra-islam adalah luni-solar (qamari-Syamsyi), bukan lunar (qamari) sebagaimana penanggalan Islam sekarang. Sehingga lebih tepatnya Nabi dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal Qamari-Syamsi, bukan 12 Rabiul Awal Qamari.

Oke, oke. Jangan bingung dulu. Kita bahas sedikit tentang kalender luni-solar bangsa Arab pra-islam, berikut perubahannya ke kalender lunar setelah Islam datang.

***

Pada era pra-islam, masyarakat Arab menggunakan kalender luni-solar yang tidak hanya berpatokan pada peredaran bulan, tapi juga pada matahari. Awal dan akhir bulan luni-solar berpatokan pada kemunculan hilal muda, tetapi bulan-bulannya berkaitan dengan musim-musim di jazirah Arab. Sehingga kalender itu juga harus mengikuti peredaran matahari di samping bulan.

Hal inilah yang mengakibatkan nama-nama bulan dalam penanggalan Arab diambil dari nama-nama musim dan kejadian-kejadian tertentu pada bulan tersebut.

Bulan pertama, yang dimulai pada penguhujung musim panas (September) dinamakan dengan bulan Muharram karena pada bulan tersebut seluruh penduduk semenanjung Arabia sepakat mengharamkan perang.

Masuk bulan Oktober, dedaunan menguning, maka bulan tersebut diberi nama Safar, yang artinya menguning. Setelah selesai menguning, maka tibalah musim gugur yang terjadi pada bulan November dan Desember, maka kedua bulan itu dinamakan dengan nama Rabi', yang artinya musim gugur. Jadi, November sebagai Rabiul Awal dan Desember sebagai Rabiul Akhir.

Setelah musim gugur yang kedua pada bulan Desember selesai, maka masuklah musim dingin pada bulan Januari dan Pebruari. Maka kedua bulan ini dinamakan dengan Jumad, yang artinya dingin atau beku. Sehingga Januari dinamai sebagai Jumadil Awal dan Pebruari sebagai Jumadil Akhir.

Selanjutnya, di bulan Maret, matahari mulai bergerak dari belahan bumi bagian selatan menuju ke utara, sehingga jazirah Arab perlahan akan menghangat, yang mengakibatkan salju peninggalan musim dingin mulai mencair. Oleh karena itu, bulan Maret disebut sebagai bulan Rajab, yang artinya mencair.

Seiring menghangatnya jazirah Arab, pada bulan April masyarakat Arab turun ke lembah-lembah untuk bertani. Maka bulan April dinamakan dengan Bulan Sya'ban, yang artinya lembah.

Sekarang masuklah bulan Mei, yaitu awalnya musim panas di jazirah Arab. Sehingga bulan Mei dinamakan dengan Ramadhan, yang artinya adalah panas atau terik. Panas masih tetap berlanjut dan pada bulan Juni terus meningkat panasnya. Sehingga bulan Juni disebut sebagai bulan Syawal, yang artinya peningkatan, karena panasnya terus meningkat daripada sebelumnya.

Musim panas di Jazirah Arab mencapai puncak pada bulan Juli. Sehingga orang-orang pada bulan ini enggan keluar kemana-mana. Mereka lebih suka duduk-duduk saja di rumah. Maka bulan Juli disebut dengan Zulka'idah, bulan yang di dalamnya orang-orang hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk saja.

Sementara bulan Agustus, panas sudah mulai menurun, pada bulan ini orang-orang berbondong-bondong berhaji ke Baitullah di Mekkah. Sehingga bulan ini dinamakan dengan bulan Zulhijjah.

Zulhijjah adalah bulan ke-12 atau bulan terakhir dalam penanggalan Arab. Karena panjang bulan tersebut berpatokan pada peredaran bulan di langit, maka jumlah hari dalam sebulan kalau tidak 29, maka 30. Sehingga jumlah hari dalam setahun adalah tidak lebih dari 355 hari.

Mengingat tahun matahari yang sesuai musim mencapai 366 hari, maka setiap setahun ia akan berselisih 11 hari dengan tahun Arab. Oleh karena itu, agar bulan Arab tetap sesuai dengan musim, maka ditambahlah satu bulan setelah bulan Zulhijjah sebanyak 7 kali dalam 19 tahun. Sehingga bangsa Arab memiliki bulan ke-13 pada tahun-tahun tertentu, yang dinamakan oleh mereka dengan bulan Nasi'.

Terkait bulan Nasi' ini, ada yang lucu. Karena perbedaan sistem hisab yang dipakai oleh kabilah-kabilah Arab, terkadang penambahan bulan Nasi' tidak serentak. Satu kabilah beranggapan bahwa tahun ini, misalnya, ada bulan Nasi', sementara kabilah lain berpendapat langsung masuk bulan Muharram setelah Zulhijah.

Alhasil, ada kabilah yang diserang padahal mereka menganggap ini sudah masuk bulan Muharram, sehingga mereka tidak siap untuk berperang. Mereka yang menyerang pun tidak merasa bersalah karena sistem perhitungan mereka menyatakan bahwa sekarang adalah bulan Nasi'. Jadi bebas saja berperang sesuka hati.

Karena terjadi kesemrawutan ini, setelah datangnya Islam, maka turunlah surat Attaubah ayat 36 yang menegaskan bahwa jumlah bulan tidak lebih dari 12 bulan. Tentu saja, bulan Nasi' terhapus dengan turunnya surat ini.

Dengan dihilangkannya bulan Nasi', maka sistem penanggalan Arab berubah dari luni-solar menjadi lunar totok, mutlak tergantung pada peredaran bulan saja. Sehingga bulan-bulan penanggalan Arab tidak lagi sesuai musim. Ramadan yang dulu jatuh pada musim panas, sekarang bisa jatuh pada musim dingin, gugur, dan lain sebagainya. Namun demikian nama bulannya tetap saja masih dipakai sampai sekarang.

***

Jadi, sekarang jelas bagi kita yang mengikuti pendapat Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awal, bahwa Beliau lahir pada pertengahan musim gugur pertama, yaitu sekitar bulan November.

Untuk tahun ini (2017), peringatan Maulid lebih cocok dibandingkan tahun-tahun yang lain, karena jatuh pada saat yang sesuai dengan musim dimana dulu Nabi dilahirkan. Cuma sedihnya, musim gugur di Arab berarti musim hujan di Aceh yang masyarakatnya selalu merayakan Maulid nabi secara besar-besaran. Serambi Mekkah ini sekarang sedang diguyur hujan lebat tanpa henti. Sebagian daerah malah sudah tenggelam banjir.

Thursday, November 23, 2017

Calon Hobi

Saya pernah menjadi manusia galau tingkat tinggi saat mengambil S2 di UGM di tahun 2010, sampai stres berat. Pertama masalahnya tentu karena beban kuliah. Kedua, sebagai manusia yang lahir sebagai dan hidup bersama orang timur yang sok mengurusi pribadi orang lain, saya galau habis tersebab belum kawin.

Setiap ditanyai soal itu, hati saya sakit, terus galau. Hal inilah salah satu sebabnya mengapa saya sekarang tidak pernah bertanya kapan kawin, kapan punya anak, dan beragam kapan-kapan yang lain pada orang yang saya kenal. Saya merasakan sendiri, sakit hati ini ketika ditanya sampai ke ranah pribadi.

Saya sempat mencurigai pada kebiasaan saya sendiri yang dengannya menyebabkan saya menjadi cepat stres, yaitu menjadi manusia tanpa hobi. Saya menjadi manusia nir-hobi, tak punya hobi sama sekali, hobi yang membuat kening saya sedikit berhenti mengernyit karena beban kuliah.

Mulai saat itu saya berusaha mencari hobi selain mendelik ke buku-buku yang hanya memuat rumus-rumus yang ruwet-ruwet itu. Pertama, saya pernah ikut-ikutan main futsal bareng teman sekelas master di teknik mesin UGM. Gagal. Saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Pulang-pulang, capek, terus galau lagi.

Coba yang lain. Karaoke, adalah calon hobi kedua yang saya ikuti. Apa? Lagu pop? Enak saja! Lagu dangdut lah. Lagu Bang Haji Rhoma Irama! Inilah sebabnya saya selalu berlangganan di rumah karaoke Shangrilla yang berlokasi di bilangan lembah Selokan Mataram Yogyakarta. Shangrilla memiliki banyak koleksi lagu dangdut, termasuk lagunya Bang Haji.

Hobi ini lumayan bertahan, hampir tiap dua hari sekali saya bernyanyi di rumah karaoke itu. Yang lucu bin aneh, saya sering pergi ke karaoke sendirian! Kebiasaan ini jarang dilakukan oleh makhluk sosial di bawah kolong langit ini. Biasanya orang kalau pergi ke rumah karaoke mesti rame-rame. Nyanyinya juga rame-rame, kayak tahlilah atau samadiah itu.

Saya tak suka seperti itu. Kalau ada saya, peraturan saya terapkan, nyanyinya harus satu-satu, sesuai selera masing-masing. Teman lain mendengar saja kalau temannya sedang nyanyi. Inilah yang menyebabkan saya tak begitu cocok ber-karaoke bareng teman-teman. Apalagi, teman-teman saya sukanya lagu rok undegron gitu. Saya jangankan diajak nyanyi lagu macam itu, mendengar saja sebentar langsung harus ambil minyak angin. Migrenku kumat. Boros minyak angin kalau karaoke sama mereka!

Akhirnya, ya, saya pergi sendiri ke Shangrilla, nyanyi sendiri. Cewek-cewek operator sampai hafal wajah saya. Pernah sekali mereka bertanya, “Sendirian, Mas?” Saya mengangguk, melempar senyuman maut penuh pesona. Mereka tertawa setelah saling bersitatap dengan koleganya. Tapi setelah itu mereka tak tanya apa-apa lagi. Saya datang langsung dikasih kunci. Masuk. Tak berapa lama kemudian berkumandanglah suara merdu saya yang diiringi langsung oleh grup band Soneta! Eaaa, eaaa, eaaa!

Ketika saya sudah begitu yakin bahwa bernyanyilah sebagai hobi saya, ternyata lambat laun bosan juga saya sorak-sorak di depan mik itu. Akhirnya suntuk lagi. Bingung lagi. Dan, galau lagi. Sementara beban kuliah semakin bertambah mendekati waktu penggarapan tesis. Sampai pada klimaks, saya berkesimpulan, bernyanyi adalah bukan hobi saya. Saya harus mencari hobi baru lagi.

Saya mulai menjelajah setiap sekat alam pikiran saya, yang akhirnya terhenti pada sebuah calon hobi baru. Yaitu blogging, atau menulis di blog. Maka mulai saat itu, sejak 2011, saya mulai belajar menulis blog. Calon hobi ini lumayan menarik, karena sempat juga diiming-imingi oleh bakal dapatnya uang kalau blog kita banyak yang membacanya, dan kemudian pembaca secara sukarela mengklik iklan yang kita pasang, maka dolar pun akan mengucur ke saku kita. Kelak saya tahu bahwa sebenarnya itu tidaklah mudah jika menjadi blog idealis seperti saya. Sampai sekarang saya tidak mendapat sepeser pun dari hobi blogging saya. Tapi saya tetap menulis, karena suka saja.

Sebagai manusia normal, bulu saya meremang mendengar iming-iming duit itu. Saya pun menekuni dunia menulis blog. Namun kemudian saya bingung juga mau nulis apa. Saya berselancar di internet, mencari apa sebenarnya yang harus ditulis di dalam blog.

Akhirnya, setelah membaca beberapa blog orang, saya berkesimpulan akan menulis pengalaman-pengalaman pribadi saya. Apapun itu. Asal kira-kira bisa membuat orang tercerahkan dari jejak langkah saya, maka akan saya tulis.

Sekalipun sudah lama juga saya menulis blog, sampai sekarang, saya sebenarnya belum berani bilang apakah menjadi blogger ini sebagai hobi saya atau bukan. Atau statusnya tetap saja bertahan sebagai calon hobi. Tapi yang jelas, sampai sekarang saya masih suka menulis blog, dan saya menikmatinya.

Soal materi tulisan boleh dikatakan tidak ada khusus-khususnya. Semua masalah yang saya ketahui, saya tulis saja. Tak peduli orang suka membacanya atau tidak. Tugas saya menulis, dan saya, sekali lagi, menikmatinya.

Dan yang paling penting, hobi menulis inilah yang mengiringi saya dalam menyelesaikan studi doktor saya di Taiwan. Sebuah hobi yang membuat saya dianggap paling mengerti Taiwan, tersebab tulisan pengalaman saya di negeri Formosa ini dibaca banyak orang yang berencana menyambangi negeri Chiang Kai-Shek ini. Mereka mengakui banyak terbantukan dengan tulisan saya itu.

Karenanya, saya pernah merasa bak selebritis di Taiwan dulu. Karena rata-rata mereka telah mengenal saya sebelum saya memperkenalkan diri. Apalagi kalau bukan kayak selebritis jika seperti ini. Ya kan? Ya kan? Iya

“Eh, ini Pak Usman yang itu ya?” kata seorang cewek berjilbab di sebuah pertemuan anak-anak Indonesia.

Saya mengangguk bangga.

“Pak, saya sering loh baca-baca tulisan Bapak. Sangat membantu, ” tambah cewek itu.

Saya tersenyum bangga dengan, tentunya, sedikit memasang wibawa.

“Saya hampir pangling tadi. Soalnya beda sama yang di foto, ” aku cewek bertuah itu.

“Oh, iya pasti, “ sela saya, ”lebih ganteng aslinya, kan?” Ketawa kami pun pecah.

Padahal saya tahu, saya di foto pasti lebih ganteng. Kalau aslinya, ya, terserah Anda. Yang jelas, itu foto-foto saya di media sosial sudah saya pilih yang terbaik di antara yang terhancur. Loh, kok jadi lari ke sini ya pembahasannya? Oke, kembali ke calon hobi.

Saya tak tahu sampai kapan kegandrungan saya terhadap blog, bertahan. Namun, yang penting adalah, menulis blog sampai sekarang masih menjadi hobi saya. Tapi saya tetap tidak percaya diri untuk menyebut diri sebagai blogger apalagi penulis. Lebih-lebih lagi untuk disandingkan-sandingkan dengan Hamka, Pramoedia Ananta Toer, dan Darwis Tere liye. Jauh, Mas Bro.

Pertalite dan Korban Perasaan

"Ini, honda ini, " kata seorang bapak paruh baya sambil menuding sepeda motor bututnya, "saya isi Pertalite, langsung mogok !" Asap rokok menyembul-nyembul dari mulutnya yang penuh kumis tak beraturan, meningkahi setiap kata-katanya yang tegas meyakinkan itu.

Semua orang di sebuah warung di kampung saya mengangguk setuju, kecuali saya. Bukan saya tidak percaya, bukan. Tapi saya cuma butuh informasi lebih untuk mengambil kesimpulan. Karena terlalu dini bagi saya untuk mengambil keputusan hanya karena mendengar laporan dari orang yang cuma menilai performa Pertalite dengan perasaannya saja.

Soalnya, sepeda motor Jupiter MX saya yang dibesut Yamaha pada tahun 2007, ternyata aman-aman saja ketika ia minum Pertalite. Jangankan mogok, bedanya saja tak sedikit pun saya rasakan dengan dulu pada saat ia saya kasih Premium. Sama saja. Bedanya cuma di harga doang. Premium murah, sedang Pertalite sedikit lebih mahal. Itu saja.

Tapi parah, di kampung saya, gegara beredar kabar bahwa Pertalite bisa merusak mesin motor, banyak masyarakat kabur ke Pertamax yang lebih mahal, karena Premium yang sudah lama dipercaya pun langka di pasaran. Kalau pun ada, antreannya bisa omaigot panjangnya. Saya yang tidak takut sama Pertalite, langsung saja melenggang santai masuk SPBU, tanpa antrean. Biasanya saya langsung isi full, penuh.

Saya terus terang merasa kasihan sama orang kampung saya yang minim uang dan informasi akurat, sehingga mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli Pertamax yang mahal untuk hanya diminum oleh sepeda motor tuanya. Padahal Pertalite (kalau tidak ada Premium) saja sudah lebih dari cukup untuk menggerakkan sepeda motornya itu. Tidak perlu pakai Pertamax yang harganya selangit itu.

Hal ini karena, cocok tidaknya jenis BBM untuk kendaraan kesayangan kita itu tergantung pada nilai oktannya yang harus sesuai dengan rasio kompresi (RK) mesin. Nilai oktan BBM dalam bahasa Inggris salah satunya dikenal dengan Research Octane Number (RON). Makin tinggi nilai RON sebuah BBM, maka makin besar daya tahannya terhadap tekanan di dalam silinder mesin, sehingga ia tidak akan terbakar sendiri sebelum busi menyala.

Selama ini, informasi yang kita peroleh menyatakan bahwa RON untuk Premium, Pertalite, dan Pertamax masing-masing adalah 88, 90, dan 92. Kita pakai yang mana? Lihat dulu RK mesin sepeda motor dan mobil kita. Lihat di buku manualnya.

Contoh, Honda Kharisma, RK-nya sebesar 9 : 1, maka RON yang dibutuhkan minimal 88, sehingga Premium saja sudah cukup untuk RK segitu. Satu lagi, Honda Beat, RK-nya sebesar 9,2 : 1, maka RON yang dibutuhkan adalah 90, sehingga Honda Beat cocoknya menggunakan Pertalite. Jangan Premium yang hanya memiliki RON 88.

Untuk Mobil, saya telah membuka buku manual Avanza Veloz 2012. Di sub-bab bagian bahan bakar, di situ jelas tertulis bahwa BBM yang dibutuhkan harus dengan RON minimal 90, sehingga untuk Toyota Avanza maka Pertalite saja sudah cukup untuk menggerakkan mobil itu. Tidak perlu buang-buang duit untuk mengisi Pertamax.

Perkara ada yang bilang bahwa Pertalite itu bermasalah, besar dugaan saya itu hanyalah perasaan saja. Karena ada yang menakut-nakuti, wajar saja orang awam per-BBM-an menjadi takut sepeda motor kesayangannya rusak.
Spesifikasi bahan bakar untuk mobil Toyota Avanza.