Thursday, November 22, 2018

Sekelumit Sekitar Abrahah dan Tentara Gajahnya

Jika bulan Maulid tiba, nama Abrahah dan tentara gajahnya menjadi cukup populer di tengah masyarakat Aceh yang merayakan Maulid secara besar-besaran.

Hal ini karena Nabi Muhammad saw dipercaya lahir pada tahun di mana Abrahah dan tentara bergajahnya menyerang Mekah untuk menghancurkan Kakbah. Hal ini pula yang menggerakkan saya untuk bercerita sedikit seputar Abrahah ini.

Begini ceritanya. Kala itu, di sekitar seperempat awal abad keenam Masehi, Yaman dipimpin oleh seorang raja yang menganut agama Yahudi. Zu Nuwas nama raja itu. Kerajaannya bernama Himyar. Berpusat di Shanaa. Raja ini memimpin Yaman dengan tangan besi.

Najran, adalah sebuah kota di Yaman. Pada suatu ketika didatangi oleh seorang pengikut Isa as dari kekaisaran Romawi. Nama orang itu adalah Phemion, atau dalam literatur lain disebut dengan Simon. Ia adalah orang yang baik dan saleh. Sehingga orang-orang Najran tertarik kepadanya, dan menganut agama Nasrani yang dibawa olehnya.

Sekali waktu terjadilah pembunuhan terhadap seorang anak dari keluarga pemeluk Yahudi di Najran. Inilah awal petaka itu dimulai. Keluarga yang terbunuh itu, atas nama agama, mengadu ke Zu Nuwas agar menuntut bela atas kematian anaknya.

Mendengar aduan itu, Zu Nuwas yang juga penganut agama Yahudi cepat pula naik darahnya. Dikirimnyalah tentaranya ke Najran. Sesampai di sana, orang Najran dipaksa untuk memilih dua pilihan: masuk agama Yahudi atau dibunuh.

Mereka menolak menganut agama Yahudi, maka Zu Nuwas memerintah agar digalikan parit-parit yang di dalamnya diisi bara api. Ke situlah orang-orang Nasrani itu dilempar. Setidaknya, ada dua puluh ribu orang Nasrani tewas dalam peristiwa berdarah itu.

Daus Zu Sya'laban, seorang pemuka Najran, berhasil meloloskan diri dari amukan Zu Nuwas itu. Ia lari ke Romawi untuk mengadukan hal itu kepada kaisar, yang saat itu dipegang oleh Yustinianus. Untuk meyakinkan Kaisar, ia membawa sisa Injil yang dibakar oleh Zu Nuwas.

Melihat itu bukan main murkanya Kaisar. Sebab agamanya telah dihina. Tak perlu berpikir panjang, dikirimnyalah surat beserta Daus Zu Sya'laban itu kepada Najasyi (Negus), yang saat itu sedang bertahta di Habsyi (Etopia). Kala itu Habsyi adalah kerajaan kuat pemegang panji-panji Nasrani di sekitar Laut Merah.

Dalam surat itu, kaisar Romawi memerintahkan agar kerajaan sekutunya itu menuntut bela atas kematian saudara seimannya di Najran. Zu Nuwas harus diberi pelajaran. Atas kelancangan dan kekejamannya.

Najasyi yang juga bercita-cita ingin menjajah Yaman, mendapat perintah sebagai itu, lakunya langsung bagai orang ngantuk disorong bantal. Ia dengan ligat menyambut perintah itu. Maka tak kurang dari tujuh puluh ribu pasukan Habsyi dikirim ke Yaman. Pasukan besar itu dipimpin oleh Irbath bersama prajurit sebawahannya, Abrahah Al Asyram.

Di Yaman sendiri kala itu sedang terjadi perpecahan. Maka mengalahkannya dengan modal pasukan sebesar itu, bagi Habsyi bagaikan menghabiskan sepotong roti saja. Tak lama, Zu Nuwas kalah dan terbunuh. Maka jatuhlah Yaman ke tangan Habsyi, menjadi bangsa terjajah. Itu terjadi sekitar tahun 523 Masehi.

Irbath dengan sendirinya menjadi Gubernur di Yaman untuk kerajaan Habsyi. Negara Yaman yang kaya raya menghasilkan rampasan perang yang tidak sedikit. Sepertiganya dikirim ke Najasyi. Sisanya dibagi-bagi untuk tentara Habsyi di Yaman.

Harta rampasan yang banyak itu menyebabkan Irbath cepat sekali menemui ajalnya. Banyak tentara merasa tidak puas atas pembagian harta rampasan perang itu. Tentara-tentara kecewa, termasuk Abrahah. Maka ia akhirnya memimpin barisan sakit hati itu memberontak melawan Irbath. Irbath dikudeta dan terbunuh.

Maka sekarang Abrahah dengan sendirinya naik tahta, menggantikan Irbath. Awalnya Najasyi marah atas pembunuhan jenderal kepercayaannya itu. Tapi karena lemak pula isi surat yang dikirim Abarahah ke Najasyi untuk menjelaskan mengapa itu sampai terjadi, maka lunaklah hati Najasyi dan mengakui kepemimpinan Abrahah di Yaman. Ia memimpin Yaman dari tahun 525 sampai 575 Masehi, beribukota di Shanaa.

Dalam kepemerintahannya ia sangat bercita-cita agar Shanaa menjadi pusat peradaban Nasrani di Semenanjung Arabia. Maka segala sesuatu untuk menarik perhatian orang Arab, dilakukan. Salah satunya adalah dengan mendirikan sebuah gereja besar di Shanaa yang dikenal dengan "Al-Qullays".

Pendirian gereja ini dilakukan dengan melibatkan penduduk Yaman ke dalam kerja paksa. Karena syahwatnya itu, sampai-sampai Abrahah tidak segan-segan memotong tangan orang Yaman jika setelah matahari terbit mereka belum juga bekerja.

Setelah selesai, gereja ini terkenal indah dan tinggi. Bahannya dibuat dari marmer bekas reruntuhan istana Ratu Balqis, penguasa Yaman di zaman Nabi Sulaiman as dulu. Kelak, batu marmer reruntuhan gereja ini, di zaman Khalifah Yazid Bin Muawiyah, diambil oleh Abdullah Bin Zubair untuk bahan merenovasi Kakbah.

Oleh Abrahah, Al Qullays ini dimaksudkan juga untuk menarik minat orang-orang Arab yang masih pagan agar berhaji saja ke situ. Karenanya, ia memosisikan gereja itu sebagai pengganti Kakbah yang ada di lembah Mekah.

Hal inilah yang membuat pembesar-pembesar Arab menjadi berang karena bangunan suci tempat mereka beribadah, Kakbah, direndahkan. Kejengkelan yang akhirnya diwakilkan oleh laku dua orang Arab yang merupakan kepala Banu Fuqaim dan Banu Malik.

Dua orang itu datang dan masuk ke Al-Qullays serta mengotori bangunan indah itu dengan kotoran. Tak lama, tindakan yang sangat menodai rumah sucinya itu sampai ke telinga Abrahah. Ia marah besar. Ia juga mendapat kabar bahwa yang melakukan itu adalah orang-orang yang berasal dari Mekah. Tempat Kakbah itu berada.

Dengan kejadian ini, tak perlu lagi baginya menunggu alasan tambahan untuk melakukan serangan balik dengan menghancurkan Kakbah itu, Rumah Tuhan dari orang-orang yang telah menghinakan gerejanya. Pasukan pun disiapkan, yang terkenal dengan pasukan bergajahnya itu. Dan, berangkat.

Perjalanan ke Mekah tentu tak sepenuhnya mulus. Abrahah mendapat perlawanan. Salah satunya dari bangsawan Himyar, Zu Nufar. Tapi dapat dikalahkan olehnya. Sehingga Zu Nufar tertawan dan dijadikan penunjuk jalan. Sesampai di Taif, pemuka Tsaqif yang memang seteru Quraisy, medukung Abrahah.

Ia kemudian menugaskan Abu Ragal untuk menjadi penunjuk jalan bagi pasukan Abrahah. Tapi ia mati sebelum menyelesaikan tugasnya itu. Ia dikubur di sebuah tempat antara Taif dan Mekah. Kuburannya sampai berpuluh-puluh tahun menjadi sasaran lemparan batu oleh orang-orang Arab yang kebetulan lewat di situ.

Sampai di perbatasan Mekah, Abrahah mengutus beberapa tentaranya untuk memasuki Mekah dan merampas harta benda penduduknya. Quraisy yang pada saat itu dipimpin oleh Abdul Muttalib, tidak memberi perlawanan. Bahkan dua ratus ekor untanya disita oleh Abrahah.

Dengan memakai jasa bangsawan Himyar, Abdul Muttalib berhasil dipertemukan dengan Abrahah. Abrahah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Abdul Muttalib kecuali ia hanya meminta untanya yang disita agar dikembalikan.

Abrahah terkesiap mendengar itu. Bagaimana ceritanya seorang pemimpin Quraisy ketika Rumah Tuhannya mau dihancurkan, bukannya membela, malah ia hanya memikirkan hartanya semata. Ia hanya mau unta-untanya dikembalikan.

Dengan santai Abdul Muttalib menjelaskan bahwa, unta-unta itu miliknya sendiri dan ia sendiri yang harus melindunginya. Sedangkan Kakbah yang akan dihancurkan Abarahah itu adalah Rumah Tuhan, milik Tuhan. Dan Dialah yang akan melindungi dan menjaganya.

Mendengar itu, dengan sombong Abrahah menimpali dengan berkata bahwa hari ini Tuhannya Kakbah tidak mampu menghalanginya. Ia pun mengerahkan tentaranya untuk menyerang Kakbah. Orang-orang Quraisy telah mengungsi ke bukit-bukit di sekitar Mekah. Benar-benar Kakbah itu ditinggal bersama Tuhannya.

Namun, menjelang pasukan itu digerakkan, bala tentara Tuhan datang. Sebuah serangan yang di dalam Alquran diceritakan sebagai burung Ababil, yang melontari mereka dengan batu panas, yang membuat tubuh-tubuh mereka bolong-bolong dan tercerai berai seperti daun dimakan ulat.

Terkait serangan burung ini, ada juga sebagian ulama dan ahli sejarah yang tidak melihat kejadian serangan burung Ababil ini sebagaimana lahirnya ayat. Seperti Prof. Husain Haekal dalam bukunya "Sejarah Hidup Muhammad", misalnya. Ia meriwayatkan bahwa pasukan Abrahah diserang oleh wabah penyakit cacar yang membawa kepada kematian mereka.

Hal senada juga diutarakan oleh Prof. Hamka dalam bukunya "Sejarah Umat Islam." Ia malah menggambarkan dengan lebih lengkap. Yaitu penyakit cacar yang mematikan itu dibawa oleh burung-burung yang memang biasa datang mengambil makanan-makanan sisa pasukan. Burung-burung itu sudah terjangkiti virus cacar dan menyebar kepada para pasukan melalui batu-batu di mana ia hinggap.

Yang jelas, pasukan Abrahah hancur berantakan. Sisanya ada yang ditarik balik ke Shanaa (Yaman) dan ada juga yang terpaksa tinggal menetap di Mekah menjadi budak, kuli, atau buruh tani bagi penduduk Mekah. Ketika tak seberapa lama setelahnya Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul, mereka ada yang masuk Islam. Salah satunya yang terkenal adalah Bilal Bin Rabbah.

Diriwayatkan, setelah Abrahah sampai di Shanaa, ia pun jatuh sakit yang membawa kepada kematiannya. Ada yang mengisahkan bahwa ia mati karena penyakit yang sama seperti yang dialami oleh pasukannya di Mekah. Namun, ada pula sahib riwayat yang menyatakan bahwa ia lara karena malu dan sakit hatinya atas kegagalan perang itu, sehingga mati.

Sepeninggalannya, tampuk pimpinan Yaman dipegang oleh putranya, Yahsun Bin Abrahah. Dan setalah Yahsun meninggal, saudaranya, Marsuq Bin Abrahah menggantikannya. Yaman diperintah dengan sangat kejam oleh keturunan Abrahah ini.

Hal ini membuat rasa nasionalisme salah seorang anak bangsawan Himyar, Zi Yazan, bangkit. Ia pertama mengadu ke Kaisar Romawi agar Gubernur di Yaman diganti saja karena ia sangat kejam. Tapi ini tidak digubris oleh Kaisar.

Akhirnya, ia minta tolong kepada kisra Persia. Kali ini ia beruntung. Kisra bersedia membantunya. Pasukan pun dikirim ke Yaman. Masruq Bin Abrahah kalah dan terbunuh. Zi Yazan Al-Himyari naik tahta, memimpin Yaman, setelah 72 tahun dijajah Habsyi.
__________
Ditulis di Texas - USA, untuk mengobati rasa rindu peringatan maulid yang sekarang sedang berlangsung di Aceh
__________
Daftar Pustaka:
  1. Prof Dr. Ali Husni al-Kharbuthli, "Sejarah Ka'bah". Turos. 2013.
  2. Prof. Hamka, "Sejarah Umat Islam". PTS Publishing House Sdn. Bhd. 2016.
  3. Prof. Husain Haekal. "Sejarah Hidup Muhammad". Litera AntarNusa.
  4. Prof. Dr. Ahmad Syalaby. "Sejarah Kebudayaan Islam Jilid 1."

Tuesday, November 20, 2018

Muhammad Saw, Alhunafa Peruntuh Paganisme Arab

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi di Mekah menjelang kedatangan Islam, yaitu lunturnya paganisme yang merupakan kepercayaan bangsa Arab kala itu. Kepercayaan yang dengannya mereka memuja para dewa dan berbagai berhala.

Kondisi ini diperjelas oleh munculnya tokoh-tokoh Arab, baik tua maupun muda, yang menentang penyembahan berhala. Mereka telah mulai mengidam-idamkan agar agama Ibrahim bisa ditegakkan kembali di tanah Arab.

Pernah sekali waktu, ketika masyarakat Quraisy sedang berkumpul dalam sebuah upacara besar tahunan untuk merayakan berhala Uzza di Nakhla, empat orang pemuda Quraish diam-diam keluar dari barisan jamaah itu.

Mereka tidak mau lagi mengagungkan berhala itu, yang menurut mereka tidak bisa memberi faedah maupun mudarat kepada siapapun. Ia tak lebih hanya sebongkah batu yang disembah karena kejahilan masyarakat kala itu.

Empat pemuda itu adalah Usman Bin Alhuwairith, Zaid Bin Amar, Ubaidullah Bin Jahsyin, dan Warakah Bin Naufal. Mereka ini adalah pemuda-pemuda yang dengan kejernihan akalnya menolak paganisme sekalipun saat itu Islam belum datang.

Mereka semua kemudian berpencar, berjalan sendiri-sendiri mencari agama mana yang bisa membawa mereka kepada agama Ibrahim. Saat itu, hanya ada dua agama ketuhanan. Kalau tidak agama Yahudi, maka Nasrani atau Kristen.

Warakah Bin Naufal memilih agama Nasrani sebagai kepercayaan barunya. Menurut sahib riwayat, dialah yang pertama kali menyalin kitab Injil ke dalam bahasa Arab.

Usman Bin Alhuwairith, pemuda ini masih kerabat Khadijah, pergi ke Romawi Timur (Bizantium). Di sana ia memeluk agama Nasrani dan memperoleh kedudukan besar dari Kaisar Romawi.

Sempat ia pulang ke Mekah tapi diusir karena berencana memasukkan kota suci itu ke dalam kekuasaan Bizantium, dengan ia sendiri menjadi Gubernurnya. Karenanya ia lari ke Syam dan meninggal di sana setelah diracun oleh orang Bani Ghassan yang berhasil disuap oleh orang-orang Quraisy.

Zaid Bin Amar, ia adalah kemenakan Umar Bin Khattab, pergi ke Syam dan Irak. Kemudian kembali lagi ke Mekah tanpa memeluk agama apapun. Dan juga tidak kembali menyembah berhala.

Ia menjadi orang yang cukup bimbang kala itu. Ia sempat meratap di sisi Kakbah menyesali diri karena tidak tahu bagaimana seharusnya menyembah Allah.

Ubaidullah Bin Jahsyin, sekalipun anti paganisme, tapi ia tidak pergi kemana-mana. Ia kemudian menjadi muslim ketika Islam datang. Dan karena tekanan kafir Quraisy di Mekah, ia ikut hijrah ke Habsyi (Etopia) bersama kaum muslimin lain.

Sesampai di sana ia bersalin akidah dengan menganut agama Kristen, sampai akhir hayatnya. Istrinya, Ummu Habibah Bin Abi Sufyan, tetap dalam Islam, yang kelak diperistrikan Nabi ketika sampai di Medinah.

Riwayat empat dari sekian banyak pemuda Quraisy ini membuka mata kita bahwa menjelang kedatangan Islam, paganisme Arab memang sudah mulai lemah. Masyarakat dalam hal kepercayaan menjadi pecah kepada beberapa golongan.

Di samping masih banyak kaum yang tetap menggenggam erat kepercayaan pagannya, ada juga yang sudah condong ke agama Yahudi dan Nasrani. Pun ada juga yang tidak condong ke salah satu dari tiga kepercayaan itu, tapi mereka ingin kembali ke ajaran Ibrahim as yang hanif. Karenanya, mereka ini disebut dengan "alhunafa."

Kaum Alhunafa ini tidak terlalu banyak, namun tidak bisa juga dianggap sedikit. Sekalipun demikian, mereka menjadi penggerak awal terhadap keruntuhan paganisme jahiliah sebelum Islam menjejakkan kaki di tanah Mekah.

Merekalah yang selalu mempropagandakan untuk kembali ke agama tauhid. Agama yang dulu ditanamkan Ibrahim as sebelum kemudian dirusak oleh Amru Bin Luhay Alkhuza'i ketika ia memegang tampuk pimpinan Mekah.

Menuju ke situ, tentu bukan perkara mudah. Paganisme yang sudah sangat mengakar di tanah Arab, cukup sulit untuk dihilangkan. Lebih-lebih lagi, secara politik mereka tidak berarti sama sekali di depan raksasa kaum pagan Arab.

Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan kaum Alhunafa dalam menumpahkan keresahannya, mereka mengasingkan diri dari masyarakat yang telah tenggelam dalam kemusyrikan. Mereka bertahannuf, mendekatkan diri kepada Allah swt

Muhammad saw, seorang anak dan cucu dari seorang pembesar Mekah, termasuk salah satu pemuda angkatan terakhir dari kaum alhunafa ini. Sebelum akhirnya Islam datang.

Makin lama keresahan Muhammad saw makin meningkat melihat kaumnya yang begitu larut dalam kesesatan. Hal ini terbukti dari seringnya ia bertahannuf, mengasingkan diri dari dunia luar.

Dikisahkan, menjelang wahyu pertama turun, sebenarnya Muhammad saw telah merasa bahwa saat itu sudah cukup tepat untuk segera melakukan perubahan besar di Mekah, yaitu mengembalikan Kakbah sebagaimana dulu di masa Nabi Ibrahim as. Dan menggiring masyarakat Arab untuk meninggalkan paganisme sesat itu.

Pada masa-masa itulah beliau saw sering bertahannuf ke gua Hira. Malah pada bulan Ramadan beliau saw menghabiskan sebulan penuh di situ. Sampai akhirnya wahyu pertama turun dan beliau saw diangkat menjadi nabi dan rasul, pada umurnya yang ke 40.

Di tangannyalah estafet perjuangan kaum alhunafa terselesaikan. Tak begitu lama, setelah mengalami lika-liku yang begitu pahit dengan laku penuh kesabaran, dua puluh tahun setelah kenabiannya, Kakbah berhasil dibersihkan dari berhala-berhala itu.
__________
Ditulis di Texas USA, untuk mengobati rasa rindu perayaan Maulid yang mulai hari ini, Selasa 20 November 2018, sedang diperingati secara besar-besaran di Aceh.

Sunday, November 18, 2018

Bule Stres, Masjid, dan Doa

Bau anggur menguar dari mulutnya. Jalannya sempoyongan. Ia barusan turun dari mobil mewahnya. Yang warna merah itu. Aku tidak tahu pasaran harga mobil, kecuali Avanza Veloz yang sekarang kupunyai. Tapi, kata teman saya, itu mobil mahal. Mobil itu hanya mempunyai sepasang pintu. Di bagian depannya saja.
Ia sendirian dalam mobilnya, yang setengah menit yang lalu melesat masuk ke pekarangan masjid Assalam Houston, di mana kami juga sedang berada di situ, menjelang salat Isya, Jumat malam (16/11).

Ia tinggalkan saja mobilnya itu di parkiran tanpa peduli patron aturan parkir. Centang perenang. Mesin tidak dimatikan. Pintunya tidak ditutup rapat, membiarkan musik rok keras berdentam-dentam lolos keluar meningkahi obrolan kami di depan masjid itu.

Saya sempat heran dan takut juga. Kok ya ada bule malam-malam begini masuk pekarangan masjid, jalan tersendeng-sendeng, bertato, dan pakai celana pendek. Takutnya saya tentu beralasan, mengingat di negeri Paman Sam ini tak jarang juga ada orang stres yang menyerang orang lain. Istimewa pula, di sini senjata api bebas dipunyai siapa saja.

Tapi ketakutan itu sirna ketika bule itu telah melewati kami menuju pintu lobi. Sedangkan kami masih mengobrol di dekat tugu depan masjid. Tadi pas setentang dengan kami, ia sempat bertanya sesuatu. Tapi saya tidak tahu apa yang diomongkannya. Bicaranya cepat dengan irama naik turun sebagaimana khasnya orang mandam.

Dari kejauhan kulihat bule itu sekarang menempelkan dahinya ke kaca pintu masjid, dengan tangan kanan di atas kepala, yang juga menempel ke kaca, selayaknya laku orang susah itu. Tak lama, ia kemudian merengkuh gagang pintu, dan masuk.

Sampai di dalam ia duduk di kursi. Saya lihat ia sekarang sedang diajak bicara oleh seseorang yang bergamis, yang kelak saya tahu bahwa ia adalah salah satu panitia masjid. Ia berasal dari India. Pernah menjadi imam di Philadelphia, dan sekarang bermukim di Houston. Dan aktif di masjid Assalam ini.

Melihat bule itu ada yang ajak bicara, saya ikut nimbrung, ikut masuk ke masjid, pengin tahu apa yang terjadi. Saat saya sampai di dalam, bule itu gantian diajak bicara oleh admin masjid.

Saya mendekati mantan imam Philadelphia itu tadi, bertanya apa yang terjadi. Tapi ia lebih memilih menjawab tidak tahu dan melanjutkan berbicara panjang lebar terkait kami sendiri. Tentang dirinya dan kami.

Permbicaraan menyasar kemana-mana. Tentang dirinya yang merasa berat di Texas karena beban pajak dan asuransi. Kami bertanya tentang pendapatan atau gaji di Texas ini. "Tergantung ijazahnya, " Jawabnya tegas. Mungkin ini maksudnya adalah strata pendidikan.

Masih menurut dia, ijazah tentu tidak berasal dari kampus sembarangan. Harus dari Amerika. Dia terus menceritakan bagaimana orang-orang India yang membawa ijazah dari kampus negeri Hindustannya untuk mencari kerja di Amerika, mereka harus mengurut dada karena ijazahnya tidak sepenuhnya diakui.

Obrolan kami itu kemudian terpotong. Admin masjid yang sedari tadi melayani bule mabuk itu, meminta si imam untuk memberi sebuah doa untuk diamalkan oleh si bule itu.

Imam melafalkannya. Bule itu tentu tidak bisa meniru bait-bait doa itu. Solusinya minta direkam di gawai saja. Tapi telepon cerdasnya tinggal di mobil. Ia keluar. Untuk mengambilnya.

Saya terkesiap, bertanya ke admin. Tentang apakah ia seorang muslim. Soalnya, ini, ia minta doa untuk diamalkan, yang di dalamnya ada lafaz Jalalah. Admin bilang, bukan. Ia sedang ada masalah. Dengan istrinya. Sekarang ia stres berat. Terus lari ke masjid.

Melihat saya agak heran, imam bilang bahwa kita di sini terbuka kepada siapa saja yang batuh bantuan jika ada masalah. Beberapa hari lalu, kata imam, kita juga mengadakan acara budaya. Banyak yang ikut. Bukan hanya muslim.

Tak lama setelahnya, bule itu kembali dengan gawainya, menyerahkannya ke admin yang waktu itu telah menyusulnya ke pintu. Ternyata bacaan imam tidak jadi direkam. Karena ada di Youtube. Tinggal disimpan saja di gawai, dan bisa diputar kapan saja ia mau.

Sekarang bule itu pergi, dengan mobil mewahnya. Meninggalkan kami semua di masjid. Setelah ia memperoleh bait-bait doa untuk menenangkan pikirannya. Ketika harta dan istrinya dirasa tak lagi bisa menenteramkan hatinya. Dua hal yang mungkin dulu dicari-cari dan disayanginya setengah mati.

Namun, sekarang ia sadar, insaf. Betapa semua itu tidak sepenuhnya bisa menenangkan hatinya. Hanya Tuhanlah semata yang tak akan meninggalkan makhluk-Nya seorang diri dalam kondisi tidak berdaya.

Tuhan adalah sebaik-baik penolong dan pelindung bagi manusia, sebagaimana termaktub dalam doa yang diberikan sang imam kepadanya: "Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nashir - Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung."
Masjid Assalam Houston menjelang salat isya (sumber foto: Zahra Fonna)

Thursday, November 15, 2018

Bangunan yang Dikira Masjid

Splendor Adult. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari hotel tempat kami menginap, ke arah barat laut. Awalnya kami sempat berpikir, bahwa bangunan itu adalah sebuah masjid.

Itu terjadi karena bentuk bingkai atas jendela-jendelanya membubung melingkar menyerupai kubah masjid. Istimewa pula, sepanjang bingkai itu ditatah dengan lampu-lampu hias kecil dan rapat, yang membuat nuansa kubah malah lebih kentara di malam hari ketika lampu itu dihidupkan.

Dua bulan lalu (26/9/2018), setelah 24 jam terbang dari Jakarta melalui Doha, kami tiba di hotel ini menjelang salat isya. Begitu kami turun, salah satu teman, setelah menoleh ke arah Splendor Adult itu, bertanya pada sopir bus yang menjemput kami dari bandara itu, tentang bangunan apa itu.

Sopir itu bilang bahwa bangunan tersebut adalah tempat orang joget-joget. Ia menjawab sambil sedikit menggoyang-goyangkan badan gemuknya itu untuk memperjelas ucapannya kepada kami.

Sopir ini perempuan. Berkulit hitam. Rambut keritingnya diikat kuat sehingga ujungnya menyembul mantap ke atas. Ia cukup ramah, sedari awal bertemu kami di bandara.

Mulai saat itu, Splendor Adult menjadi goyonan di antara kami. Ada teman, misalnya, yang tiba-tiba nggak tahu kemana, pasti ada satu dari kami yang bilang, mungkin ke Splendor. Tertidur di kelas saat pelatihan, sama, kadang bukan orang lain, si yang tertidur sendiri langsung bilang, maklum, tadi malam capek, ke Splendor.

Setiap kata Splendor keluar, sekelebat kemudian langsung disusul tawa berderai-derai keluar dari mulut kami. Apalagi, selama di sini, kami tidak begitu butuh sesuatu yang sangat lucu untuk hanya bisa tertawa. Bukan karena terlalu senang, bukan. Tapi karena suntuk sudah dua bulan tidak bertemu keluarga.

Oke, kembali lagi ke candaan Splendor. Tentu itu tidaklah benar. Kami hanya berkelakar. Tidak ada satu pun dari kami yang berani berkunjung ke situ. Hanya menatap saja dari luar dengan penuh penasaran dan kelucuan.

Penasaran dalam artian, kami telah berbicara banyak hal tentang Splendor Adult itu dengan pengetahuan kami yang serba sedikit tentangnya. Yaitu hanya dari cara joget si sopir bus ketika menjawab pertanyaan kami waktu itu. Cuma itu.

Sekalipun ada sayup-sayup informasi kudengar bahwa Splendor itu adalah tempat yang paling bagus di Houston dalam hal menampilkan penari-penari erotis, tapi itu pun tak sepenuhnya bisa dipercaya.

Ada juga yang bilang, masuk ke situ ada biayanya. Nah, ini pasti, masakan gratis. Tapi giliran bilang bahwa penarinya menerima uang saweran, aku kok nggak yakin juga. Kayak penari ronggeng atau pedangdut koplo saja!

Yang sungguh bisa dipercaya hanyalah, bahwa kami tidak begitu tahu apa sebenarnya yang ada di dalam bangunan itu. Yang bisa kami lihat dari luar adalah, bangunan ini terlihat indah di waktu malam dan pucat pasi di waktu siang.
Splendor Adult dilihat dari lantai dua hotel Best Western Houston Texas

Monday, November 12, 2018

Cara Menikmati Hidup

Hidup itu harus dinikmati. Pernyataan semacam ini saya rasa mulai dari Cek Ma'ali yang tidak pernah sekolah sampai Bang Basyah yang kuliah setinggi pucuk nyiur pun, setuju. Tak ada rencana bantah.

Namun sayangnya, bagaimana cara menikmati hidup, ternyata untuk hal ini Cek Ma'ali sampai Bang Basyah, langsung pecah kongsi. Semua berbeda pendapat. Ambil jalan sendiri-sendiri.

Saya terus terang cukup memahami dan menghargai bahwa sebagian besar rekan-rekan saya di Aceh menikmati hidupnya dengan mengobrol di warung kopi. Berjam-jam.

Tak peduli, baik amtenar, petani, maupun pedagang, warung kopi adalah tempat mereka melepaskan penat atau meregangkan otot setelah seharian tegang bekerja. Pengangguran, warung kopi menjadi pos, siapa tahu ada yang menawarkan kerja.

Sementara saya, pulang kerja, di rumah bercengkerama bersama anak-anak dan istri adalah cara menikmati hidup, setelah seharian bekerja. Bahkan ketika lagi marah-marahan atau diam-diaman sama istri pun, saya tetap di rumah.

Padahal jenis tontonan saya dengan istri praktis berbeda. Istri saya suka acara realiti show dan acara "dangdutan yang banyak lawakan tinimbang nyanyinya" itu. Sementara saya suka nonton wawancara.

Sekali-sekali kadang saya ikut nonton film yang sedang ditonton istri, yang kebetulan saya juga suka. Tapi yang jelas, saya mengalah dalam hal pemilihan saluran televisi. Apalagi saluran yang disukai anak kami, dua-dua kami mengalah.

Dengan kondisi semacam ini, mungkin bagi beberapa orang, hidupnya menjadi sumpek di rumah. Lebih enak keluar saja. Mengobrol di warung kopi. Namun saya tidak. Jika istri saya sedang asyik masyuk dengan tontonannya, saya tetap di sampingnya.

Terus saya ngapain? Baca buku. Saya selalu punya buku ringan untuk saya baca di saat santai. Buku banyak saya beli dalam bentuk digital, baik di Play Book maupun di Gramedia Digital. Saya membacanya di tablet atau hape.

Banyak buku saya tamatkan sambil menemani istri nonton. Dan kadang menulis pun banyak saya selesaikan di situ. Eh, tapi kalau ditoleh istri biasanya saya berhenti. Menoleh balik.

Soalnya sering dimarahi juga ketika dia melihat aku sibuk mengetik di hape. Kurang paham saya kenapa. Padahal ia adalah salah satu penikmat tulisan saya. Bahkan tulisan ini pun saya yakin ia ikut membacanya.

Sekalipun demikian, saya tetap bahagia untuk di rumah saja saat tidak bekerja. Menjadi lelaki rumahan di waktu malam dan kantoran di waktu siang. Siklus yang begitu sederhana dan membosankan bagi sebagian orang.

Gaya hidup saya sebagai itu ternyata bukan hanya berlaku di rumah saja. Saat saya kuliah doktor di Taiwan dulu, saya juga tidak ke mana-mana, hanya di lab saja. Kalau saya pinjam istilah salah satu teman saya, menjadi hantu di lab. Menjadi lelaki laboratorium, kalau istilah saya. Seperti itu terus dari awal kuliah, sampai saya lulus setelah empat tahun "ngehantu" di lab.

Nah, sekarang saya di Amerika. Sedang mengikuti pelatihan migas di Petroleum Extension (PETEX), sebuah lembaga pelatihan milik University of Texas at Austin (UT). Siang ikut pelatihan, malamnya atau hari libur, saya tinggal di hotel. Bertapa, tidak ke mana-mana. Menjadi lelaki hotelan.

Begitu itu ruginya memang besar juga, jadinya saya mengenal Texas ini tidak lebih dari lingkungan hotel dan PETEX saja. Iya, sekali-sekali kalau ada acara orang Indonesia mungkin saya ikut, untuk melepas kangen kampung halaman.

Tapi untungnya tak kalah besar juga. Uang beasiswa saya hampir semua tinggal! Hanya sedikit terpakai di perantauan. Semuanya saya bawa pulang ke kampung. Dan saya habiskan di sana. Bersama keluarga.

Mungkin ini yang membuat saya kelihatan over irit, hemat, pelit, menyia-nyiakan kesempatan mumpung di Texas, dan melanggar mati ajian "kapan lagi kalau bukan sekarang."

Tapi, bagi saya, itu semua hanya konsekuensi logis saja dari bagaimana saya menikmati hidup ini. Perkara gegara itu saya dicap over irit dan sebangsanya, itu juga konsekuensi, yang tentu, logis-logis saja.