Tuesday, September 5, 2017

Takbir Hari Raya dan Semangat Hudaybiah

Ketika kaum muslimin hijrah ke Yatsrib (Madinah sekarang), harta benda mereka di Mekkah semua dirampas oleh Quraisy. Maka untuk mengimbanginya, kaum muslimin pun merampas harta kafilah-kafilah Quraisy di saat mereka berdagang menuju Syam (Siria).

Satu kali kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bertolak dari Syam hendak balik ke Mekkah dengan membawa barang-barang perdagangan. Kaum muslimin keluar hendak mencegat kafilah itu. Namun rencana ini bocor dan sampai ke telinga Abu Sufyan.

Maka sebelum beranjak pulang Abu Sufyan mengutus seorang ke Mekkah untuk meminta bantuan kekuatan balatentara Quraisy sebagai pelindung kafilah perdagangan mereka di perbatasan Madinah.

Balabantuan itu pun datang. Sementara kafilah perdagangan mengambil jalan lain menyusuri pantai laut merah dan berhasil sampai dengan selamat di Mekkah, tanpa bertemu kaum muslimin maupun balatentara Quraisy yang didatangkan dari Mekkah.

Sementara kafilah itu sampai di Mekkah, kedua laskar Quraisy dan muslimin itu sekarang sedang berhadap-hadapan dalam posisi siap perang di lembah sebuah perigi milik seseorang yang bernama Badar.

Bisa dibayangkan, kaum muslimin yang begitu teraniaya oleh Quraisy selama mereka dulu tinggal di Mekkah, dan begitu pula Quraisy yang begitu marahnya karena kafilah perdagangan mereka tidak aman lagi selama kaum muslimin menguasai jalur perdagangan ke Syam, sedang berhadapan-hadapan dengan pedang terhunus.

Perang sungguh tak terhindarkan, dan memang perang itu terjadi, yang dikenal dengan perang Badar. Namanya sesuai dengan pemilik tempat terjadinya perang tersebut.

Perang ini cukup terkenal dalam Islam karena inilah satu-satunya perang yang dimenangi kaum muslimin dengan cukup gemilang. Sementara Quraisy menangis darah atas kekalahannya yang telak itu.

Tak berhenti di Quraisy saja, kerajaan Romawi dan Persia, juga kaum Yahudi, yang selama ini menganggap remeh saja kekuatan Islam, terperanjat demi mendengar Quraisy remuk redam di lembah Badar dicencang kaum muslimin. Dan mulai saat itulah kekuatan muslimin sudah mulai diperhitungkan kerajaan-kerajaan sekitar.

Setelah perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan 2 H itu, setahun kemudian pada pertengahan Syakban meletuslah perang Uhud sebagai serangan balik Quraisy yang berdarah hatinya akibat kekalahan di perang Badar.

Kaum muslimin kalah dalam perang Uhud ini. Bahkan Rasulullah s.a.w. sampai luka keningnya, retak tengkoraknya, dan sebuah giginya pecah. Beliau s.a.w. jatuh bersimbah darah ke dalam sebuah lubang. Perang pun dihentikan karena Quraisy mengira Muhammad sudah tewas.

Islam yang dalam perang Uhud ternyata tunasnya tidak berhasil dibasmi oleh Quraisy, mengakibatkan Abu Sufyan menggalakkan lagi sebuah perang besar untuk memukul hancur kekuatan muslimin, agar hilang sirna dari permukaan bumi.

Maka berbagai diplomasi politik dan tipu muslihat dilakukan untuk mencari sekutu, sehingga kali ini bukan hanya Quraisy saja yang menceburkan diri ke dalam kancah peperangan. Tapi juga Yahudi Khaibar ikut ambil bagian. Beberapa golongan Arab non-Quraisy juga ikut, di antaranya Bani Salim, Bani Asad, Gathafan, Bani Murrah, dan Asjak.

Maka inilah sebabnya perang ini dinamakan perang Ahzab, yang artinya adalah golongan-golongan atau sekutu. Perang Ahzab ini adalah perang Arab yang paling besar yang pernah ada dalam sejarah Arab dewasa itu.

Pasukan Ahzab ini bersatu untuk menyerang kaum muslimin di Madinah. Rasulullah s.a.w. demi mengatahui ini langsung bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatasi serangan besar-besaran ini.

Allah s.w.t. yang tidak pernah meninggalkan Rasulnya, menurunkan bantuannya melalui pikiran Salman Alfarisi. Lonceng di kepala Salman berdenting, ada ide cemerlang. Ia mengusulkan agar di sebelah utara kota Madinah digali sebuah parit besar dan dalam, rumah-rumah dihubung-hubungkan, lorong-lorong ditutup. Sementara sebelah barat kota bersama-sama dijaga ketat. Seluruh laki-laki dikerahkan untuk menjaga musuh di dekat parit.

Ide Salman ini diamini oleh Rasulullah, bahkan Rasulullah ikut serta bersama kaum muslimin menggali parit itu. Makanya, perang Ahzab ini pun dikenal pula dengan perang Khandaq, yang artinya, parit.

Begitu pasukan Ahzab pada pertengahan Syawal 5 H tiba di perbatasan Madinah, dilihatnya parit yang dalam dan besar itu. Di sebarangnya pasukan muslimin pun sudah menunggu dengan pedang mereka yang terhunus tajam.

Dengan adanya parit itu pasukan Ahzab tidak bisa menyerang. Ada beberapa tentara Ahzab yang berani turun ke parit untuk menyerang ke sebelah, langsung terpenggal lehernya oleh ayunan pedang muslimin sebelum berhasil menyentuh bibir parit di seberang sana. Ada satu pahlawan Quraisy juga memberanikan diri, Saidina Ali menghalau dengan pendangnya, pahlawan Quraisy itu pun kabur ke tempat semula.

Karena tidak dapat menyeberangi parit itu, Ahzab akhirnya hanya bisa mengepung kota Madinah, tidak bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya mereka membuat kemah-kemah di seberang parit.

Kesulitan bagi mereka pun datang. Cuaca buruk. Angin padang pasir berhembus kencang. Kemah-kemah dan alat masak mereka beterbangan. Kesulitan inilah sebagai awal kemunculan bibit perpecahan di kalangan Ahzab.

Kalangan non-Quraisy mulai berpikir tetang apa keuntungan bagi mereka dari perang ini. Karena memang secara ekonomi Quraisylah yang diuntungkan oleh perang ini. Itu pun kalau menang.

Atas bibit-bibit perpecahan ini, Rasulullah pun mengirim penyusup ke kalangan Ahzab untuk meniupkan bibit- bibit perpecahan baru di kalangan Ahzab. Sehingga perpecahan pun mencapai kematangannya. Dan dengan diiringi badai yang merobohkan kemah-kemah, akhirnya mereka pulang kampung dengan putus asa.

Nyatalah Allah s.w.t. telah membantu kaum muslimin dengan pasukan-Nya yang tak terlihat dalam perang Ahzab ini. Mereka mundur teratur tanpa menumpahkan setetes pun darah kaum muslimin di Madinah.

Setelah setahun perang Ahzab berlalu, kaum muslimin mulai rindu akan kampung halaman mereka di Mekkah. Sanak saudara yang ditinggal hijrah ke Madinah dulu sungguh sudah sangat dirindui. Tak terkecuali juga Rasulullah s.a.w. Baitullah di Mekkah selalu terbayang-bayang di mata mereka.

Maka pada tahun 6 H, tepatnya di bulan-bulan haram (asyharul hurum) di mana pada bulan-bulan tersebut orang-orang Arab sepekat malarang peperangan, Rasulullah s.a.w. mengizinkan pengikut-pengikutnya sekitar seribuan orang untuk berumrah ke Baitullah di Mekkah.

Untuk meyakinkan Quraisy bahwa kedatangan kaum muslimin ke Mekkah bukan untuk berperang tapi hanya untuk berumrah, maka kaum muslimin sedari berangkat sudah mengenakan pakaian ihram. Sekalipun ada pedang, tapi tak semiang kalam pun dikeluarkan dari sarungnya.

Namun demikian Quraisy tetap tidak yakin atas kedatangan muslimin yang katanya hanya untuk berumrah. Maka Quraisy menghalau kaum muslimin agar tidak sampai ke Mekkah. Karena masuknya kaum muslimin ke Mekkah merupakan tanda kekalahan bagi Quraisy dan itu adalah aib terbesar bagi mereka.

Kaum muslimin mengambil jalan lain, menghindar dari pasukan Quraisy. Sehingga sampailah mereka di Hudaibiyah yang bertepatan dengan masuknya bulan haram. Peperangan dilarang!

Maka terjadilah keruwetan bagi kaum Quraisy. Mereka tidak bisa lagi memerangi muslimin yang ingin masuk ke Mekkah. Pun juga Quraisy tidak bisa melarang siapapun yang mau berkunjung ke Kakbah.

Kondisi menjadi sulit. Di sisi lain muslimin datang ke Mekkah benar-benar hanya untuk berumrah namun Quraisy tidak yakin. Maka hampir saja terjadi perang sekalipun dalam bulan haram.

Akhirnya Rasulullah s.a.w. mengutus Usman Bin Affan untuk meyakinkan Quraisy. Usman Bin Affan berhasil menjalankan tugasnya. Quraisy mulai melunak. Sehingga terjadilah perundingan dari kedua belah pihak yang dikenal dengan perjanjian Hudaybiah.

Ada beberapa butir dari perjanjian Hudaybiah ini, dua di antaranya adalah: 1) kaum muslimin setuju untuk mengundurkan umrahnya menjadi tahun depan setelah Quraisy keluar dari kota Mekkah, tahun depan muslimin diizinkan masuk Mekkah selama 3 hari tiga malam. 2) Gencatan senjata selama sepuluh tahun!

Maka setahun selanjutnya muslimin dengan tenang masuk ke Mekkah untuk berumrah. Dan seperti kesepakatan, Quraisy keluar sementara dari kota Mekkah.

Walaupun titik kemenangan muslimin adalah penaklukan Mekkah, namun sebenarnya kemenangan itu dimula oleh perjanjian Hudaybiah ini. Dari butir-butir perjanjian tersebut, nyata sekali terlihat bahwa Islam sangat diuntungkan, dan kerugian di pihak Quraisy.

Dan yang paling penting adalah, Quraisy sudah menginsafi bahwa kekuatan Islam sudah begitu kuat untuk dilawan sendirian. Jalan satu-satunya yang aman tentunya adalah berdamai saja!

Maka dengan semangat iman dan dukungan perjanjian Hudaybiah, kaum muslimin memasuki kota Mekkah dengan menggemakan bait-bait: "La ilahaa illallahu wahdah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu, wahazamal ahzaba wahdah - Tiada tuhan selain Allah yang esa, dan dia telah menolong hamba-Nya, dan menguatkan laskarnya, dan yang menghancurkan tentara Ahzab dengan seorang diri-Nya."

Bait-bait kalimat inilah yang menjadi prasasti kemenangan kaum muslimin atas kafir Quraisy yang sampai sekarang diabadikan dalam gema takbir dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Kesadaran Kesehatan Jiwa di Aceh

Saya berani bilang, pengetahuan kesehatan jiwa khususnya di tempat kelahiran saya, Blangjruen, cukup rendah (jika saya tidak bisa bilang sama sekali tidak ada). Ini menyedihkan!

Pihak terkait pun nampaknya juga selow-selow saja melihat fenomena ini. Tak mau ambil pusing. Tidak ada sosialisasi, apalagi edukasi tentang kesehatan jiwa ini kepada masyarakat. Sehingga gejala-gejala gangguan jiwa sama sekali tidak diketahui masyatakat.

Padahal sama seperti badan, jiwa juga bisa sakit. Dan bahkan kesehatan dua unsur ini dapat saling terkait. Orang bisa sakit jiwa, dipresi, karena badannya lama dirundung penyakit. Begitu juga jika lama depresi, badan juga akan ikut sakit, yang dikenal dengan psikosomatis.

Aceh yang lama didera konflik yang hampir tak berkesudahan masyarakatnya cukuplah rawan akan gangguan jiwa atau dipresi. Tapi anehnya, jika kita melihat poliklinik jiwa di rumah sakit, sepi tak ada pengunjung.

Sepinya poliklinik jiwa bukan artinya jiwa orang-orang Aceh baik-baik saja. Saya yakin yang bermasalah tidaklah sedikit. Tapi ketidaktahuan masyarakat akan kesehatan jiwa, membuat mereka tidak sadar bahwa jiwanya sedang bermasalah. Apalagi berpikir untuk berobat ke poliklinik jiwa, tentu lebih lagi tak terpikirkan.

Dan, yang lebih parah, orang baru dibawa ke poliklinik jiwa kalau sudah gila. Maka hal inilah salah satunya yang mengakibatkan poliklinik jiwa dicap sebagai poliklinik sakit gila. Maka orang yang berkunjung ke situ, juga akan dicap sebagai orang gila. Padahal poliklinik jiwa tidak selamanya indentik dengan orang gila. Banyak jenis gangguan jiwa yang bukan gila.

Beberapa orang yang saya amati di sekitar saya, yang sebenarnya jiwanya sudah terganggu tapi ia tidak mengakuinya, sudah memiliki gejala-gejala gangguan jiwa.

Salah satu gejala yang cukup populer pada gangguan jiwa adalah penderita mengalami bisikan-bisikan yang cukup nyata di telinganya. Jika bisikan itu berupa ancaman yang menakutkan, maka penderitanya akan selamanya gelisah dan takut.

Halusinasi bisikan ini kerap pula mengakibatkan penderitanya merasa mendapat wangsit dari ruh-ruh gaib, yang kadang membuatnya taat beribadah secara mendadak tapi diikuti oleh pernyataan-pernyataannya yang aneh tentang Agama. Termasuk mengaku diri menjadi waliyullah atau malah mengaku mendapat wahyu seperti nabi.

Merasa diri seolah-olah mau mati juga merupakan satu gejala gangguan jiwa yang kerap dialami oleh penderita dipresi. Gejala ini tentu membuat penderitanya mengalami serangan rasa takut yang maha dahsyat. Jantung berdegup kencang; tensi darah meningkat cepat.

Gangguan ini disebut juga dengan gangguan kecemasan atau "anxiety disorder", kecemasan tanpa sebab. Pada tingkat lanjut, penderita juga akan mengalami "serangan malam" atau "night attack".

Penderita "night attack" jika sedang mengalami serangan ia akan merasa dirinya sedang dikepung banyak orang yang seolah-olah akan menghabisi nyawanya saat itu juga. Oleh karena itu, Anda jangan heran jika penderita night attack tiba-tiba kabur dari rumah di malam buta sambil teriak-teriak minta tolong.

Saya menulis ini sebagai wujud keprihatinan saya atas banyaknya penderita gangguan jiwa tanpa penanganan yang memadai dari para ahlinya. Malah lebih parah lagi, banyak penderita gangguan jiwa justru dibawa ke dukun untuk dirajah karena dianggap kerasukan setan atau dijampi-jampi orang.

Dipersedih lagi oleh stigma yang ditujukan kepada penderita depresi sebagai kurang beriman, jauh dari Tuhan, dan banyak lagi tuduhan-tuduhan yang justru tidak membuatnya lebih baik, malah justru memperparah.
_________
22 Agustus 2017

Transkripsi Bahasa Aceh

Jika bukan orang Aceh, saya yakin Anda tidak akan mampu membaca dengan benar transkripsi bahasa Aceh yang selama ini ditulis baik dalam huruf Latin maupun dalam huruf Arab Jawi (Jawou).

Hal ini karena kedua sistem huruf tersebut secara utuh, tanpa modifikasi, digunakan untuk menulis bahasa Aceh yang memiliki fonetik yang jauh lebih ruwet dibandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

Sebagai contoh, ada sebuah kampung yang bersebelahan dengan kampung saya di Blangjruen di mana namanya ditulis dengan huruf Latin sebagai "Rayeuk Meunye".

Anda tentu jangan percaya diri dulu dengan mengaku bisa membaca dengan baik dan benar nama kampung ini dengan menggunakan sistem penulisan bahasa Indonesia, karena pengucapannya ternyata jauh dari tatabaca yang kita pahami dalam bahasa Indonesia.

Rayeuk Meunye dilafalkan oleh kami sebagai "Rayok Munje", di mana "o" diucapkan seperti dalam kata "home" dan "e" seperti dalam kata "beg" dalam bahasa Inggris. Yang lebih unik lagi di sini adalah ternyata huruf "y" dibaca sebagai "j" dalam bahasa Indonesia.

Terkait "y" ini saya tak tahu apakah ini berasal dari kesalahan ejaan pada awal penulisan nama kampung ini dulu, yang kemudian diwariskan kepada generasi sekarang, serta dikekalkan penggunaannya oleh administrasi negara? Tentu ini hanya para tetua yang tahu.

Terlepas dari masalah "y" ini, memang penulisan bahasa Aceh sepertinya belum diatur sedemikian rupa sehingga mampu mewakili fonetik-fenetik ruwet dalam bahasa Aceh.

Selama ini kita selalu meminjam huruf Latin dan Arab untuk menulis bahasa Aceh yang fonetiknya sama sekali jauh berbeda dari kedua bahasa itu. Walhasil, bahasa Aceh yang kita tulis itu, hanya orang Aceh sajalah yang mampu membacanya. Yang lain tidak.

Padahal maksud tulisan itu adalah agar ia bisa dibaca oleh siapa pun, baik penutur Aceh sendiri maupun orang asing yang tidak pernah mengenal Aceh sama sekali.

Hal inilah yang membuat Prof. Snouck Hurgronje yang berlidah Belanda ketika meneliti masalah Aceh, harus membuat transkripsi baru dalam huruf Latin dengan beberapa tambahan modifikasi untuk mewakili fonetik-fonetik Aceh. Dan transkripsi inilah yang digunakan oleh peneliti-peneliti selanjutnya ketika menulis bahasa Aceh.

Karena Prof. Snouck bukan orang Aceh, tentu traskripsi tersebut masih kurang di sana-sini. Sebabnya adalah ia hanya mampu membandingkan fonetik-fonetik Aceh dengan bahasa-bahasa Eropa yang dikenalinya.

Dalam hal ini, orang Jawa sangat beruntung karena mereka memiliki huruf sendiri untuk menulis bahasanya, yang dikenal dengan "honocoroko". Walaupun dalam penggunaan sehari-hari untuk pesan-pesan elektronik mereka tetap menulis dengan huruf Latin, tapi paling tidak mereka sudah punya.

Saya tak tahu persis institusi apa di Aceh yang berhak membuat transkripsi yang representatif (mewakili) untuk bahasa Aceh. Tapi untuk sementara bolehlah kita tujukan tanggungjawab ini kepada Lembaga Bahasa untuk mengurus hal ini. Saya rasa ini mendesak, sebelum bahasa Aceh kita ini punah.
_________
20 Agustus 2017

Berburu Buku di Blok M

Mutar-mutar di Blok M, Jakarta, mencari buku lama "Sejarah Kebudayaan Islam" buah karya Prof. A. Syalabi.

Buku ini ada tiga jilid, yang merangkum habis secara padat sejarah kebudayaan Islam dari masa awal kemunculannya hingga ke keruntuhannya.

Jilid pertama dulu sudah pernah saya baca. Namun ketika sekarang saya ingin membacanya ulang sampai jilid ketiga, buku ini sudah sulit didapatkan di pasaran.

Setelah di Blok M capek tanya sana-sini, akhirnya saya hanya mendapatkan dua jilid saja dengan cetakan yang berbeda. Jilid tiga entah kapan saya bisa mendapatkannya.

Di samping itu saya juga membeli buku "Sejarah Hidup Muhammad" karya M.Husain Haekal, sebuah buku yang cukup terkenal bagi sesiapa yang menggandrungi sejarah hidup Baginda Nabi saw.

Sebenarnya buku ini pun sudah pernah saya baca, sekalipun tidak tamat karena malas meminjam lama-lama dari teman. Sekarang saya telah membelinya, sehingga tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak menamatkannya.
__________
11 Agustus 2017

Buku di Blok M

Sunday, August 6, 2017

Terimakasih, Papaku

Oleh Ridhalul Ikhsan*

Suatu malam di tahun 2012, empat tahun yang lalu, di kedai kopi Cut Nun Lingke, Banda Aceh, cita-cita ini telah kususun rapi. Kala itu aku masih berstatus dokter muda. Targetku adalah, aku harus keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Tidak tanggung-tanggung, Eropa adalah pilihanku saat itu.

Kala itu pernah terpikir olehku, kenapa tidak sekarang saja? Dengan menjual sepeda motor Honda Supra 125 Injection yang kupunya, itu menurutku cukup. Tentu, tidak kurang dari 15 juta rupiah bisa kudapat dengan status motorku yang masih “perawan” itu.

Berangkat dengan kombinasi metode cari tumpangan (hitchhiking) dan ranselan (backpacking) merupakan jurus jitu bagi penekat dengan segala konsekuensi logis yang sudah kuperhitungkan.

Mungkin, untuk metode hitchhiking dan backpacking ini kita dapat mengambil contoh sederhana dari dua turis Rusia yang ditangkap di Lhokseumawe Sabtu lalu, 15 Juli 2017.

Dengan menumpang mobil sayur satu ke mobil sayur lainnya, akhirnya mereka ditemukan tertidur di depan sebuah panglong kayu. Cukup tragis memang, tapi itu adalah sebuah konsekuensi logis nan menantang.

Keinginanku tersebut tidak hanya berorientasi pada happy life, bersenang-senang. Tentu tidak semurahan itu juga mimpiku, Kawan. “La wong cuma mimpi, kenapa tidak aku pasang harga yang tinggi saja tetapi harus logis, ” Pikirku. Maka tanpa perlu bertengkar dengan isi hayalanku, sudah jelas targetku, yaitu sekolah.

Setelah menamatkan Pendidikan Dokter dan lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) pada 2013, aku memilih kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sebagai wahana Internship. Internship ini merupakan program yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan bagi fresh graduate untuk pemantapan paparan kasus-kasus di fasilitas kesehatan (faskes) pertama.

Selama internship, ketertarikanku akan penyakit dalam tumbuh bak cendawan di musim hujan, hampir tidak bisa kubendung. Terutama karena paparan kasus-kasus sulit yang memberikan pengalaman dan tantangan tersendiri.

Nah, di saat ber-internship inilah kebimbangan melandaku. Apakah aku akan melanjutkan studi profesi (spesialis) atau ilmu murni (master)? Setelah berpikir panjang dan menyambangi laman demi laman, aku putuskan melanjutkan studi ilmu murni dahulu, dan setelah itu baru profesi. “Alah, aku ingin melihat dunia dulu,” pikirku.

Satu minggu kemudian, aku mendapat kabar gembira bahwa aku diajak oleh pemerintah Abdya untuk menjadi tim kesehatan dan mendampingi delegasi Abdya pada perhelatan akbar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Semangatku meletup. “Ini adalah tiket pertama, ” pikirku. Tanpa menunggu lama, aku menghubungi Papaku dan kusampaikan kabar gembira itu. Di akhir pembicaraan, kusampaikanlah hasratku untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Pertanyaan pertama Papaku adalah kemana? Universitas apa?

“Inggris, Birmingham University,” jawabku.

“Lalu subjeknya apa?”

“Ilmu kanker atau Imunologi, kekebalan tubuh”

“Kenapa subjek ini?”

“Agar linier dengan penyakit dalam”

“Apa rencana pertama?” Papaku lanjut bertanya.

“Rencananya, saat di Banda nanti, saya akan mengatur satu waktu di sela jam makan siang, untuk makan bersama dengan alumni Birmingham. Banyak hal yang bisa saya diskusikan dengan beliau”

“Mantap, silakan, ” jawab Papaku di ujung telepon sana.

Setelah mengakhiri pembicaraan, maka persiapan sederhana pun kumulai. Waktuku tinggal tiga hari menuju hari keberangkatan.

Di saat aku sedang tidak ada tugas jaga, di kantin Pak Rajab, tiba-tiba Papaku menelepon. Seperti biasa, hal yang pertama ditanya adalah: “puhaba–Apa kabar?”, “Kiban sehat, Neuk–Bagaimana, sehat, Nak?”, “Bagaimana persiapan ke Banda?”, dan beberapa hal-hal ringan lainnya.

Sejurus kemudian pembicaraan kami memasuki tema sekolah ke luar negeri. Diskusi ringan penuh gelak tawa pun dimulai. Hal yang paling kuingat adalah, pertama Papaku bertanya bagaimana persiapan bahasanya. Saya bilang bahwa aku akan les privat bahasa selama enam bulan di Malaysia atau di kampung Inggris di Pare. Papaku bilang, itu masuk akal.

Kedua, Papaku bertanya perihal pendanaan. Saya bilang bahwa saya akan mendaftar ke lembaga donor beasiswa Chevening. Lembaga donor ini milik pemerintah Inggris yang secara rutin memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa S2 atau S3.

Papa lanjut bertanya tentang bagaimana peluang mendapatkannya. Dengan suara pelan saya bilang bahwa itu sangat sulit. Seorang senior bercerita, dia harus bertarung selama tiga tahun untuk mendapatkan beasiswa ini. Dan lembaga donornya sendiri pun sudah menyarankan untuk merubah subjek yang dia pilih.

“Kenapa, ” tanya Papa.

“Ini karena lembaga donor kebiasaannya sangat susah memberikan funding pada subjek-subjek kedokteran. Beberapa cerita dari teman-teman di internet pun demikian.”

“O, begitu, “ dengan nada lemah Papaku menjawab.

Aku sendiri masih mencerocos, memberikan tawaran-tawaran baru nan masuk akal ke pada Papaku. Hingga akhirnya Papaku bilang, “Nak, terlalu besar usaha dengan konsekuensi yang tidak terpetakan. Bila kegagalan demi kegagalan dialami konsekuensi ada dua: pertama usiamu berjalan terus. Dan kedua, ini akan berefek kepada psikologismu.”

“Bagaimana bisa, Pa?” potongku.

“Neuk, kamu itu punya semangat yang besar. Papa tahu, apa yang kamu impikan itu akan kamu perjuangkan habis-habisan. Neuk, kamu itu hanya siap untuk menang, tapi kamu tidak siap untuk kalah.”

Di saat Papaku mengucapkan ini, sontak aku terdiam, aku hanya menjawab, “Iya, Pa. Iya, Pa.”

“Oke, saat ini Papa tanya apakah engkau masih menyukai penyakit dalam?”

“Masih, ” jawabku.

“Seberapa kuat?”

“Sama kedua-duanya. Kedua subjek tersebut sangat saya impikan dalam usia muda ini, Pa. Termasuk prestisenya itu, Pa.” Kami berdua tertawa.

“Iya, ya, tahu,” timpal Papaku.

Tetapi saya sadar usaha dan konsekuensi seperti yang Papa sampaikan memang benar adanya. Nah, di saat ini aku sudah mulai tenang dan sikapku mulai melunak.

Singkat cerita, aku dan Papaku “deal” untuk memilih pilihan pertama, pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Unsyiah, dan mengarahkan seluruh persiapannya kesana. Sedangkan studi ke luar negeri sebagai pilihan kedua.

Setali dua tali obrolan kami terus berlanjut, yang tali-tali tersebut sudah mulai saling berajut. Maksudnya adalah, tidak ada benturan ide lagi antara aku dan Papaku. Ibarat rally car, mobil balap, aku sebagai pembalapnya, dan Papaku sebagai navigatornya.

Sebelum menutup pembicaraan kami berdua, ada satu hal yang diucapkan oleh Papaku yang membuatku tidak mampu menulis gambaran emosinya di sini. Di akhir pembicaraan, Papaku menyampaikan satu hal, “Neuk, dari semua percakapan panjang ini, Papa tahu dengan jelas ke mana tujuan mimpimu. Eropa!”

Tidak berselang setengah detik, aku langsung tertawa terbahak-bahak. “Bagaimana Papa tahu?”

“Neuk, kamu itu anakku, dengan jelas isi kepalamu Papa tahu. Oke, berangkatlah ke Banda, cari semua informasi tentang penyakit dalam. Bila kamu telah berhasil kelak, Eropa itu bukan hal mustahil.”

Setelah mengakhiri pembicaraan tersebut, maka secara spontan peta kegiatan di Banda Aceh kurubah dan persiapannya dimulai. Alhamdulillah, satu tahun kemudian, tepat pada tanggal 1 Juli 2014, aku mendapatkan NIM baruku di program studi pendidikan dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam FK Unsyiah.

***

Papa, dari kota ini, aku ingin mengenang kembali percakapan kita berdua malam itu, empat tahun yang lalu. Tahukah engkau, Papa, di saat aku menyelesaikan oral presentation-ku, aku berjalan ke koridor luar dan dari lantai 23 Central World, kuangkat tinggi jas dan tas pemberian mama melambung.

Di dalam hati aku bergumam , “Hari ini cita-citaku telah tercapai. Papa, dari kota ini seakan-akan Eropa itu selangkah lagi bagiku. Seakan-akan telah kulihat gedung-gedung pencakar langit itu berjejer rapi nan tinggi menyapaku.”

Terima kasih, Papa, atas nasihatmu empat tahun yang lalu. Mimpiku ke luar negeri dalam agenda pendidikan tercapai sudah.
__________
*Dokter muda spesialis Penyakit Dalam asal Blangjruen. Ditulis di Bandara Don Muaeng, Bangkok, Thailand, 5 Agustus 2017.