Thursday, November 9, 2017

S3 dan Post Power Syndrome

Empat tahun selesai kuliah doktor bagi saya tidaklah cepat, karena program doktor itu idealnya hanya tiga tahun. Berarti saya telat lulus setahun. Tapi uniknya, saya selalu dituduh sebagai anak yang cepat dalam menyelesaikan studi doktor.

Hal ini mungkin karena banyak calon doktor yang sampai belasan tahun tak selesai-selesai. Atau bahkan tak kelar sama sekali, alias pulang kosong tanpa membawa ijazah.

Berangkat dari kenyataan ini, maka banyaklah teman-teman yang sedang bersiap mengambil doktor bertanya tip-tip apa saja yang saya jalankan sehingga kuliah doktor saya bisa cepat selesai.

Menjawab pernyataan ini terus terang saya agak bingung, karena saya tidak punya tip apa-apa. Cuma, dari dulu semenjak S2 di UGM sampai S3 di NKUAS Taiwan, prinsip saya dalam kuliah hanya satu, yaitu: jika mau kuliah, maka jadilah mahasiswa seutuhnya. Itu saja. Saya ulangi, jadilah mahasiswa seutuhnya.

Saat kuliah di Taiwan, status saya di Indonesia sebagai dosen terpaksa saya luruhkah. Saya kembali menjadi seumpama anak-anak, yang siap sedia menerima bimbingan tanpa reserve.

Setiap tugas yang diberikan profesor selalu saya sambut dengan jawaban "iya", yang terkadang setelah mengerjakannya setengah mati ternyata tak bisa, baru saya minta maaf dan mohon petunjuk. Karena, asal tahu saja, jarang sekali petunjuk dari profesor diberikan sebelum kita mencobanya sendiri.

Yang celaka adalah, ketika mengambil kuliah doktor, beberapa orang gagal bertransformasi menjadi mahasiswa seutuhnya. Ia mengambil kuliah doktor, tapi masih bertingkah sebagai dosen, rektor, kajur, kaprodi, manajer, ustaz, teungku, ulama, ketua ini-itu, dan lain sebagainya.

Akibatnya, orang-orang semacam ini akan sulit sekali dibimbing. Atau malah stres karena tak tahan disuruh-suruh atau diberi tugas oleh profesor. Atau, ada yang lebih parah lagi, kangen sama orang-orang yang selama ini selalu menghormatinya di kampung. Sementara di tempat kuliah, semua orang pada cuek bebek terhadapnya. Jadi, fenomenanya ini hampir sama seperti orang yang terkena "post power syndrome."

Tapi, dalam usaha menjadi mahasiswa seutuhnya, Anda jangan pula mengikuti cara saya yang terhitung ekstrim. Dulu, saat saya ambil doktor, saya benar-benar menjadi mahasiswa lagi, seutuhnya, sampai kepada malas mandi dan jarang ganti baju !

Friday, October 27, 2017

Arah Kiblat Masjid Khalifah Ibrahim Matangkuli Diperbaiki

Masjid itu menjulang megah mencuat di tengah-tengah kota Matangkuli. Dilingkungi pasar, kantor-kantor pemerintah kecamatan, sekolah-sekolah, dan pesantren, membuat masjid itu serasa tak pernah sepi dari para jamaah.

Memang, masjid itu adalah masjid yang paling megah dan paling banyak jamaahnya di kawasan kami. Masjid itu pula yang paling cepat selesai di kala masjid-masjid sekawasan dengannya masih berangan-angan untuk memulai pembangunan.

Di kala saya kecil, saya sering mendengar bahwa Matangkuli ini adalah gudang saudagar-saudagar pemurah yang rela membelanjakan hartanya untuk kemakmuran masjid. Maka berdirilah masjid itu dengan kemegahannya, yang namanya mirip nama khalifah ke-13 dinasti Umawiyah, Khalifah Ibrahim.

Namun sayangnya, di samping kemegahannya itu, ternyata masjid ini menyimpan masalah sejak awal pembangunannya. Yaitu arah bangunannya yang ternyata lumayan jauh melenceng dari arah kiblat. Sampai sekitar 20 derajat menyasar ke kiri Kakbah. Arah kiblat Aceh yang rata-rata berarah ke azimut 292 derajat, masjid ini malah menghadap ke azimut 270.

Hal inilah yang membuat saya kaget bukan kepalang ketika salah satu tim ahli ukur kiblat dari Kemenag Kabupaten Aceh Utara memberi tahu saya setelah proses pengukuran.

Saya lumayan panik, karena konsekwensinya ujung kanan saf masjid ini harus ditarik mundur sekitar 12 meter ke belakang agar kemiringan saf yang baru membentuk 20 derajat dengan garis saf semula. Perubahan arah saf sangat signifikan. Dan tentu, akan mengganggu keindahan masjid.

Saya sempat mencoba menghitung ulang berdasarkan data yang diberikan kepada saya demi mendengar kabar itu. Tapi, ternyata benar, ujung saf sebelah kanan harus ditarik mundur sekitar 12 meter. Saya pun mencoba lagi mengklarifikasi dengan foto satelit Google Earth. Ternyata lagi-lagi benar, masjid ini memang melenceng dari Kakbah sekitar 20 derajat.

Menyadari kenyataan ini, saya ternyata khawatirkan juga. Khawatir terjadi friksi antara pengurus masjid karena masjid pasti akan terlihat tidak indah lagi karena saf tidak lagi sejajar bangunan masjid.

Hal inilah yang membuat saya langsung pulang setelah selesai mengajar dan berusaha salat Zuhur di masjid Khalifah Ibrahim ini. Tentu, tak ada yang bisa saya lakukan terkait kegiatan pengukuran kiblat ini. Tapi minimal secara moral saya ikut melihat perkembangannya. Lebih-lebih ini adalah perkembangan Ilmu Falak di Aceh, karena separuh ruh saya ada di situ.

Namun, sesampai di masjid, saya menarik napas lega. Arah kiblat saf telah diubah, mengikuti hasil ukur Kemenag. Kekhawatiran saya tadi ternyata tidak terbukti. Pengurus masjid Khalifah Ibrahim Matangkuli memang sudah siap menerima hasil setelah sepakat mengundang Kemenag untuk mengukur ulang arah kiblat masjid mereka.
Arah kiblat (garis kuning) di masjid Khalifah Ibrahim Matangkuli, Aceh Utara

Arah Bangunan masjid Khalifah Ibrahim Matangkuli, Aceh Utara

Perbaikan saf yang dilakukan oleh pengurus masjid Khalifah Ibrahim Matangkuli, Aceh Utara

Tuesday, October 24, 2017

Ampon Chik Cut Muhammad

Pada tanggal 31 Agustus lalu, saat saya sedang berada di Lhokseumawe, tiba-tiba hati saya tergerak untuk berkunjung ke Makam Ampon Chik Cut Muhammad di Moen Geudong, sebuah kampung di kawasan kota Lhokseumawe.

Sebenarnya dulu sekitar tahun 2000 saya pernah masuk ke komplek kuburan ini dalam rangka menghadiri undangan acara kenduri kuburan (nyadran) saat kebetulan saya sedang berada di rumah kost teman di Moen Geudong. Tapi saya kala itu tidak peduli dengan makam orang spesial ini, karena waktu itu saya belum mengerti sejarah, sama sekali.

Sempat saya bertanya pada teman saat melihat ada sepasang kuburan yang diatapi. Teman saya hanya bilang bahwa kata orang-orang tua Moen Geudoeng, kuburan itu adalah kuburan pahlawan. Berhenti di situ saja, saya tidak bertanya lebih lanjut lagi. Bahkan saya tak mencoba melihatnya. Padahal jaraknya hanya lima langkah dari tempat saya berdiri.

Beberapa tahun kemudian, entah angin apa yang berhembus, tiba-tiba saya tertarik saja membaca buku-buku sejarah. Di saat sampai pada giliran membaca sejarah Cut Nyak Meutia, maka tersingkaplah siapa si pemilik makam yang beratap itu. Yaitu Ampon Chik Cut Muhammad, suami kedua Cut Nyak Meutia yang juga hulubalang Keureutoe.

Namun baru-baru ini ternyata saya lupa juga posisi makam yang komplek kuburannya pernah saya kunjungi dulu itu. Yang saya ingat, komplek kuburan itu ada di samping masjid Moen Geudoeng. Namun setelah saya kunjungi lagi ternyata bukan di situ, tapi tepatnya di samping meunasah (langgar) Moen Geudoeng.

Bangunannya sekarang sudah dibuat lebih bagus dari yang dulu saya lihat. Sekalipun nisannya masih berupa batu bulat tak bertulis, namun sudah ada panflet di pintu masuk sebagai informasi siapa penghuni makam itu, yaitu Ampon Chik Cut Muhammad dan Teuku Cut di Buah. Yang tersebut kedua itu adalah hulubalang cut di Buah, yaitu sebuah hulubalang di bawah kekuasaan Keureutoe. Jadi, Teuku Cut di Buah adalah bawahan dari Ampon Chik Cut Muhammad.

Ampon Chik Cut Muhammad sendiri adalah penguasa kehulubalangan Keureuto yang diangkat langsung oleh Sultan Muhammad Daud Syah, raja Aceh Darussalam terakhir. Pengangkatan itu dilakukan ketika Sultan sedang berada di wilayah Pasee dalam rentetan gerilyanya menghadapi Belanda yang kala itu telah menguasai Bandar Aceh Darussalam.

Pengangkatan ini karena Sultan tidak mau mengakui jabatan Ampon Chik Syam Syarif sebagai hulubalang Keureutoe yang dianggapnya lebih condong kepada Belanda.

Ampon Chik Syam Syarif ini tak lain adalah kakak dari Ampon Chik Cut Muhammad sendiri. Sehingga persaingan kekuasaan di Keureutoe kala itu adalah antara kakak dan adik.

Ampon Chik Syam Syarif sebelum menikah dengan Cut Nyak Bah, beliau memperistrikan Cut Nyak Meutia. Namun pernikahannya tak mampu dipertahankan sehingga mereka bercerai. Setelah lepas dari Ampon Chik Syam Syarif, Cut Nyak Meutia selanjutnya dipersunting oleh Ampon Chik Cut Muhammad, mantan adik iparnya.

Syam syarif dan Cut Muhammad kecil berasal dari Bereughang, Blangjruen, Tanah Luas. Mereka adalah keponakan Cut Nyak Asiah, Hulubalang Keureuto sebelum periode Duo Beureughang ini. Mereka sengaja dibesarkan Cut Nyak Asiah untuk meneruskan kepemimpinan Keureutoe sepeninggalannya, karena Cut Nyak Asiah tidak memiliki keturunan.

Akhir riwayat Ampon Chik Cut Muhammad tergolong tragis, menyedihkan. Beliau dihukum mati oleh Belanda setelah beliau menyerah pasca menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah.

Beliau dituduh mendalangi sebuah serangan di Meurandeh Paya di mana banyak pasukan Belanda mati dicincang-cincang. Tak berhenti pada beliau saja, hulubalang Cut Buah juga ikut terseret dalam kasus itu.

Dari beberapa tulisan yang ada pada saya, saya berkesimpulan bahwa Ampon Chik Cut Muhammad tidaklah terlibat dalam peristiwa yang dituduhkan kepadanya itu.

Memang, beliau sering berkomunikasi dengan para pejuang pasca penyerahan dirinya. Tapi itu semua dilakukannya untuk memenuhi permintaan Belanda agar ia mengembalikan beberapa pucuk senjata yang pernah dirampasnya dari Belanda dulu di kala ia masih menjadi pejuang.

Diriwayatkan, Ampon Chik Cut Muhammad terpaksa menebus senjata itu dengan uang agar para pejuang mau menyerahkan senjata tersebut kepadanya yang selanjutnya akan diserahkannya kepada Belanda. Pada saat itu, pejuang dipimpin oleh Teungku Di Barat.

Namun celakanya, penyerahan uang itu justru dituduh Belanda sebagai bantuan rutinnya kepada para pejuang. Itulah salah satu alasan yang menguatkan tuduhan Belanda bahwa Ampon Chik Cut Muhammad memang mendalangi peristiwa di Meurandeh Paya.

Beliau pun dihukum mati di pantai Lhokseumawe atas tuduhan kesalahan yang tak pernah dilakukannya itu. Penghabisan nyawa Ampon Chik Cut Muhammad ini adalah juga salah satu sebab naik gunungnya Cut Nyak Meutia untuk memanggul sejata, melawan Belanda lagi.

Uang itu, uang tebusan senjata yang telah diberikan kepada para pejuang dulu itu, kelak dikembalikan oleh Teungku Di Barat kepada putra Ampon Chik Cut Muhammad dengan istrinya Cut Nyak Meutia, yaitu Ampon Chik Raja Sabi.
__________
Saya tulis dalam rangka haul Cut Nyak Meutia yang ke 107, hari ini, Minggu, 22 Oktober 2017.
Makam Ampon Chik Cut Muhammad di Moen Geudoeng, Lhokseumawe

Panflet Makam Ampon Chik Cut Muhammad

Tuesday, October 10, 2017

Aliran Uang dan Kemakmuran

Mungkin ada masyarakat yang belum paham, bahwa di zaman uang ini, kemakmuran sebuah daerah bisa dilihat dari arah aliran uang. Ke mana uang itu mengalir, ke situlah kemakmuran akan menuju.

Misalnya begini. Jika orang Blangjruen selalu membeli barang di pasar Matangkuli, maka arah aliran uang akan mengalir dari Blangjruen ke Matangkuli, sehingga orang Matangkuli akan lebih makmur tinimbang Blangjruen.

Untuk skala lebih besar, jika Aceh selalu berbelanja di Medan maka uang Aceh akan selalu mengalir ke Medan. Maka Medan akan bertambah makmur, sebaliknya, Aceh akan semakin terpuruk.

Untuk skala yang paling besar, jika negara kita banyak membeli atau mengimpor barang dari luar negeri, maka uang negara kita akan mengalir ke luar negeri. Maka luar negeri akan bertambah makmur, dan negara kita sebaliknya, tekor.

Tentu, sebagai manusia yang memiliki batasan, kita tidak bisa membuat segala sesuatunya sendiri. Kita harus membeli dari orang lain, dari daerah lain, dari negara lain. Namun, yang menjadi masalah adalah, barang-barang yang dapat kita buat sendiri, barang-barang yang bisa kita beli di daerah sendiri, mengapa kita harus bersusah payah membelinya di luar?

Saya terus terang selalu menanamkan kepada istri saya, jika memang barang itu ada di warung samping rumah, maka beli saja di situ. Beli jeruk, apel, apalagi salak, tak perlulah ke Lhokseumawe, apalagi Medan. Di Blangjruen banyak. Lebih-lebih kalau hanya sembako, di Simpang Blang Bidok sudah lebih dari cukup. Maka tak perlulah melempar uang jauh-jauh.

Maka, saya berani bilang, uang gaji PNS saya yang tidak seberapa itu, hampir seratus persen masuk ke saku orang-orang Blangjruen, pedagang-pedagang Blangjruen, penyedia-penyedia jasa Blangjruen. Jangankan untuk berbelanja ke luar propinsi, ke luar kabupaten saja saya jarang membelanjakan uang saya jika barang yang saya butuhkan itu ada di Blangjruen.

Ini saya lakukan sebenarnya, paling tidak, untuk menjadi model, minimal bagi keluarga kecil saya sendiri. Bahwa jika kita ingin melihat daerah kita sendiri makmur, maka usahakan uang yang telah masuk ke saku kita, jangan lempar ke luar daerah, tapi belanjakan saja di daerah sendiri.

Memang risikonya, kadang saya dituduh pelit sama istri. Pulang dari luar negeri, beli buah-buahannya malah di Lhoksukon...! Uhuk, uhuk, uhuk...! Tapi itu dulu. Sekarang istri saya sudah pintar. Buktinya, saya hampir tiap hari kena tipu sama dia. Tadi pagi, misalnya, dia bilang sudah goreng mata sapi, begitu saya lihat, ternyata telur ayam ! Parah, kan?
__________
Hasyiah:
Nama-nama daerah yang saya sebutkan di atas adalah daerah-daerah di sekitar tempat tinggal saya, Blangjruen, Aceh Utara. Lhokseumawe, sekitar 25 km ke barat Blangjruen. Sementara Medan enam jam perjalanan dengan bus.

Tuesday, September 5, 2017

Takbir Hari Raya dan Semangat Hudaybiah

Ketika kaum muslimin hijrah ke Yatsrib (Madinah sekarang), harta benda mereka di Mekkah semua dirampas oleh Quraisy. Maka untuk mengimbanginya, kaum muslimin pun merampas harta kafilah-kafilah Quraisy di saat mereka berdagang menuju Syam (Siria).

Satu kali kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bertolak dari Syam hendak balik ke Mekkah dengan membawa barang-barang perdagangan. Kaum muslimin keluar hendak mencegat kafilah itu. Namun rencana ini bocor dan sampai ke telinga Abu Sufyan.

Maka sebelum beranjak pulang Abu Sufyan mengutus seorang ke Mekkah untuk meminta bantuan kekuatan balatentara Quraisy sebagai pelindung kafilah perdagangan mereka di perbatasan Madinah.

Balabantuan itu pun datang. Sementara kafilah perdagangan mengambil jalan lain menyusuri pantai laut merah dan berhasil sampai dengan selamat di Mekkah, tanpa bertemu kaum muslimin maupun balatentara Quraisy yang didatangkan dari Mekkah.

Sementara kafilah itu sampai di Mekkah, kedua laskar Quraisy dan muslimin itu sekarang sedang berhadap-hadapan dalam posisi siap perang di lembah sebuah perigi milik seseorang yang bernama Badar.

Bisa dibayangkan, kaum muslimin yang begitu teraniaya oleh Quraisy selama mereka dulu tinggal di Mekkah, dan begitu pula Quraisy yang begitu marahnya karena kafilah perdagangan mereka tidak aman lagi selama kaum muslimin menguasai jalur perdagangan ke Syam, sedang berhadapan-hadapan dengan pedang terhunus.

Perang sungguh tak terhindarkan, dan memang perang itu terjadi, yang dikenal dengan perang Badar. Namanya sesuai dengan pemilik tempat terjadinya perang tersebut.

Perang ini cukup terkenal dalam Islam karena inilah satu-satunya perang yang dimenangi kaum muslimin dengan cukup gemilang. Sementara Quraisy menangis darah atas kekalahannya yang telak itu.

Tak berhenti di Quraisy saja, kerajaan Romawi dan Persia, juga kaum Yahudi, yang selama ini menganggap remeh saja kekuatan Islam, terperanjat demi mendengar Quraisy remuk redam di lembah Badar dicencang kaum muslimin. Dan mulai saat itulah kekuatan muslimin sudah mulai diperhitungkan kerajaan-kerajaan sekitar.

Setelah perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan 2 H itu, setahun kemudian pada pertengahan Syakban meletuslah perang Uhud sebagai serangan balik Quraisy yang berdarah hatinya akibat kekalahan di perang Badar.

Kaum muslimin kalah dalam perang Uhud ini. Bahkan Rasulullah s.a.w. sampai luka keningnya, retak tengkoraknya, dan sebuah giginya pecah. Beliau s.a.w. jatuh bersimbah darah ke dalam sebuah lubang. Perang pun dihentikan karena Quraisy mengira Muhammad sudah tewas.

Islam yang dalam perang Uhud ternyata tunasnya tidak berhasil dibasmi oleh Quraisy, mengakibatkan Abu Sufyan menggalakkan lagi sebuah perang besar untuk memukul hancur kekuatan muslimin, agar hilang sirna dari permukaan bumi.

Maka berbagai diplomasi politik dan tipu muslihat dilakukan untuk mencari sekutu, sehingga kali ini bukan hanya Quraisy saja yang menceburkan diri ke dalam kancah peperangan. Tapi juga Yahudi Khaibar ikut ambil bagian. Beberapa golongan Arab non-Quraisy juga ikut, di antaranya Bani Salim, Bani Asad, Gathafan, Bani Murrah, dan Asjak.

Maka inilah sebabnya perang ini dinamakan perang Ahzab, yang artinya adalah golongan-golongan atau sekutu. Perang Ahzab ini adalah perang Arab yang paling besar yang pernah ada dalam sejarah Arab dewasa itu.

Pasukan Ahzab ini bersatu untuk menyerang kaum muslimin di Madinah. Rasulullah s.a.w. demi mengatahui ini langsung bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatasi serangan besar-besaran ini.

Allah s.w.t. yang tidak pernah meninggalkan Rasulnya, menurunkan bantuannya melalui pikiran Salman Alfarisi. Lonceng di kepala Salman berdenting, ada ide cemerlang. Ia mengusulkan agar di sebelah utara kota Madinah digali sebuah parit besar dan dalam, rumah-rumah dihubung-hubungkan, lorong-lorong ditutup. Sementara sebelah barat kota bersama-sama dijaga ketat. Seluruh laki-laki dikerahkan untuk menjaga musuh di dekat parit.

Ide Salman ini diamini oleh Rasulullah, bahkan Rasulullah ikut serta bersama kaum muslimin menggali parit itu. Makanya, perang Ahzab ini pun dikenal pula dengan perang Khandaq, yang artinya, parit.

Begitu pasukan Ahzab pada pertengahan Syawal 5 H tiba di perbatasan Madinah, dilihatnya parit yang dalam dan besar itu. Di sebarangnya pasukan muslimin pun sudah menunggu dengan pedang mereka yang terhunus tajam.

Dengan adanya parit itu pasukan Ahzab tidak bisa menyerang. Ada beberapa tentara Ahzab yang berani turun ke parit untuk menyerang ke sebelah, langsung terpenggal lehernya oleh ayunan pedang muslimin sebelum berhasil menyentuh bibir parit di seberang sana. Ada satu pahlawan Quraisy juga memberanikan diri, Saidina Ali menghalau dengan pendangnya, pahlawan Quraisy itu pun kabur ke tempat semula.

Karena tidak dapat menyeberangi parit itu, Ahzab akhirnya hanya bisa mengepung kota Madinah, tidak bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya mereka membuat kemah-kemah di seberang parit.

Kesulitan bagi mereka pun datang. Cuaca buruk. Angin padang pasir berhembus kencang. Kemah-kemah dan alat masak mereka beterbangan. Kesulitan inilah sebagai awal kemunculan bibit perpecahan di kalangan Ahzab.

Kalangan non-Quraisy mulai berpikir tetang apa keuntungan bagi mereka dari perang ini. Karena memang secara ekonomi Quraisylah yang diuntungkan oleh perang ini. Itu pun kalau menang.

Atas bibit-bibit perpecahan ini, Rasulullah pun mengirim penyusup ke kalangan Ahzab untuk meniupkan bibit- bibit perpecahan baru di kalangan Ahzab. Sehingga perpecahan pun mencapai kematangannya. Dan dengan diiringi badai yang merobohkan kemah-kemah, akhirnya mereka pulang kampung dengan putus asa.

Nyatalah Allah s.w.t. telah membantu kaum muslimin dengan pasukan-Nya yang tak terlihat dalam perang Ahzab ini. Mereka mundur teratur tanpa menumpahkan setetes pun darah kaum muslimin di Madinah.

Setelah setahun perang Ahzab berlalu, kaum muslimin mulai rindu akan kampung halaman mereka di Mekkah. Sanak saudara yang ditinggal hijrah ke Madinah dulu sungguh sudah sangat dirindui. Tak terkecuali juga Rasulullah s.a.w. Baitullah di Mekkah selalu terbayang-bayang di mata mereka.

Maka pada tahun 6 H, tepatnya di bulan-bulan haram (asyharul hurum) di mana pada bulan-bulan tersebut orang-orang Arab sepekat malarang peperangan, Rasulullah s.a.w. mengizinkan pengikut-pengikutnya sekitar seribuan orang untuk berumrah ke Baitullah di Mekkah.

Untuk meyakinkan Quraisy bahwa kedatangan kaum muslimin ke Mekkah bukan untuk berperang tapi hanya untuk berumrah, maka kaum muslimin sedari berangkat sudah mengenakan pakaian ihram. Sekalipun ada pedang, tapi tak semiang kalam pun dikeluarkan dari sarungnya.

Namun demikian Quraisy tetap tidak yakin atas kedatangan muslimin yang katanya hanya untuk berumrah. Maka Quraisy menghalau kaum muslimin agar tidak sampai ke Mekkah. Karena masuknya kaum muslimin ke Mekkah merupakan tanda kekalahan bagi Quraisy dan itu adalah aib terbesar bagi mereka.

Kaum muslimin mengambil jalan lain, menghindar dari pasukan Quraisy. Sehingga sampailah mereka di Hudaibiyah yang bertepatan dengan masuknya bulan haram. Peperangan dilarang!

Maka terjadilah keruwetan bagi kaum Quraisy. Mereka tidak bisa lagi memerangi muslimin yang ingin masuk ke Mekkah. Pun juga Quraisy tidak bisa melarang siapapun yang mau berkunjung ke Kakbah.

Kondisi menjadi sulit. Di sisi lain muslimin datang ke Mekkah benar-benar hanya untuk berumrah namun Quraisy tidak yakin. Maka hampir saja terjadi perang sekalipun dalam bulan haram.

Akhirnya Rasulullah s.a.w. mengutus Usman Bin Affan untuk meyakinkan Quraisy. Usman Bin Affan berhasil menjalankan tugasnya. Quraisy mulai melunak. Sehingga terjadilah perundingan dari kedua belah pihak yang dikenal dengan perjanjian Hudaybiah.

Ada beberapa butir dari perjanjian Hudaybiah ini, dua di antaranya adalah: 1) kaum muslimin setuju untuk mengundurkan umrahnya menjadi tahun depan setelah Quraisy keluar dari kota Mekkah, tahun depan muslimin diizinkan masuk Mekkah selama 3 hari tiga malam. 2) Gencatan senjata selama sepuluh tahun!

Maka setahun selanjutnya muslimin dengan tenang masuk ke Mekkah untuk berumrah. Dan seperti kesepakatan, Quraisy keluar sementara dari kota Mekkah.

Walaupun titik kemenangan muslimin adalah penaklukan Mekkah, namun sebenarnya kemenangan itu dimula oleh perjanjian Hudaybiah ini. Dari butir-butir perjanjian tersebut, nyata sekali terlihat bahwa Islam sangat diuntungkan, dan kerugian di pihak Quraisy.

Dan yang paling penting adalah, Quraisy sudah menginsafi bahwa kekuatan Islam sudah begitu kuat untuk dilawan sendirian. Jalan satu-satunya yang aman tentunya adalah berdamai saja!

Maka dengan semangat iman dan dukungan perjanjian Hudaybiah, kaum muslimin memasuki kota Mekkah dengan menggemakan bait-bait: "La ilahaa illallahu wahdah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu, wahazamal ahzaba wahdah - Tiada tuhan selain Allah yang esa, dan dia telah menolong hamba-Nya, dan menguatkan laskarnya, dan yang menghancurkan tentara Ahzab dengan seorang diri-Nya."

Bait-bait kalimat inilah yang menjadi prasasti kemenangan kaum muslimin atas kafir Quraisy yang sampai sekarang diabadikan dalam gema takbir dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.